
Tiba di rumah, aku berlalu menuju kamar, ku dudukkan bokongku di tepi ranjang, rasanya begitu lelah.
Kemudian aku merebahkan tubuhku, menatap langit-langit kamarku, sementara Zain dia langsung menemui Mamah, memberikan laporan jika kami sudah melakukan perintahnya dengan baik dan benar.
Sudah bisa kubayangkan, betapa meriahnya pesta pernikahanku nanti, semua tamu undangan tujuh puluh lima persennya adalah tamu para orangtua kami, sementara undanganku tidak sampai dua puluh lima persennya, yah hanya teman teman kuliah, dan para pegawaiku saja. Apalagi Zain, dia nyaris tidak mengundang siapapun, mungkin hanya sahabat dekatnya dan rekan kerjanya saja.
Huh ... Mamah mengurus semuanya dengan sangat teliti, detail dan apik. Itulah Mamahku perempuan perfecsionis, Mamah memilih semua yang terbaik untuk acaraku nanti, ah, mungkin semua Ibu di dunia ini memang begitu, selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.
“Aduuuhhh“ pekikku, ketika tiba-tiba Zain melempar tubuhnya kesampingku, kaget rasanya, tiba-tiba ada makhluk segede ini nemplok di tubuhku. Dengan tangan yang sudah tidak bisa di kondisikan.
“Zain, mandi sana!” perintahku sambil melepaskan pelukannya, rasanya gerah banget aja, abis dari luar tiba-tiba anak yang udah bau matahari nemplok di tubuhku.
“Gak mau” jawabnya sambil nguel-nguel di tanganku.
“Ish, ya udah, kalau gitu aku aja yang mandi” Aku beranjak mau berdiri, tapi tanganku di tahan oleh my baby boy yang imutnya ngalahin oppa-oppa korea.
“Zain, ish ...” Aku mulai kesal dengan tingkahnya.
“Bentar lagi Kak” Zain menyembunyikan kepalanya di punggungku, dengan tangan memeluk perutku.
“Gerah tau, lagian kamu Zain, kenapa sih kayaknya gak rela banget liat aku nganggur sendirian??” tanyaku sambil mendelikkan mataku.
“Aku gak akan lelah buat Kakak jadi lelah” jawabnya seenak udel.
“Ish, Zain kenapa sekarang fikiranmu jadi sangat mesum sekali??” tanyaku, penasaran juga, kenapa Zain sekarang jadi sangat bernafsu, ish ... geli membayangkannya.
“Kakak, Kakak tidak lupakan?? Kita masih punya PR??” tanyanya, menghentikan kegiatan tangannya.
“PR?? Aku udah bukan pelajar lagi tuh, jadi aku gak punya PR” jawabku enteng.
“Ish, bukan itu Kakak, kita masih harus membuktikan pada Mamah dan Papah jika kakak beneran hamil, Kakak gak lupa itukan??” Zain mengingatkanku, pada sesuatu yang membuatku selalu cemas akhir akhir ini.
“aku ingat Zain” jawabku lemah.
“Iya, tapi aku mau mandi dulu, Awas!” Aku kembali beranjak, tapi tangan Zain tetap menahanku.
“Bareng aja gimana??” Aku langsung menatapnya.
“Eeehhheeee “ Zain tersenyum menaik turunkan alisnya, ugh ... imutnya dia, imanku selalu lemah jika sudah menatap senyumnya,
“Ck, dasar bocah” Aku memalingkan wajah, menyembunyikan wajahku yang sudah bersemu merah, tapi Zain masih menatapku dengan senyuman mesumnya.
“Aku bukan bocah lho Kak, sebentar lagi aku akan jadi Ayah” jawabnya bangga, padahal aku saja belum hamil tuh,
Gemas melihat tingkahnya, aku mencubit tangannya yang masih memelukku erat,
“Aaaawwww!!!“ teriaknya.
“Ini namanya KDRT Kak” Zain langsung terperanjat, dan mengusap tangannya.
“Hidih, lebay kamu, gitu aja sakit” Aku mencebikkan bibirku.
“Kakak?? Kakak mau aku hukum di mana??” Zain mendekatkan wajahnya padaku.
“Whatt???” Aku membelalakkan mataku.
“Mau di sini?? Atau di sana??” Zain menepuk kasur, lalu menunjuk kamar mandi dengan wajahnya.
Aaaaaaaaa apa ini?? Ini masih siang, aku kegerahan ... ada yang bisa menolongku untuk lari dari si Bocah??? Ugh ...
Bersambung .................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ................