
Sore hari jam kerja sudah habis, saatnya semua orang yang bekerja untuk pulang kerumah masing-masing, hanya sekedar untuk mengistirahatkan hati, jiwa dan raga masing-masing, agar tubuh kembali siap menerima kejamnya dunia di esok hari.
Setelah semua karyawan karyawaty pulang Zain membereskan ruangan, kemudian menutup pintu, kemudian dia beranjak menuju lobby, dan berjalan menuju parkiran.
Selama perjalanan menuju parkiran dia terus bersenandung dan bersiul, entahlah, rasanya dunia terasa penuh oleh hamparan bunga bagi orang-orang yang tengah kasmaran. Bisa pulang kerumah, di sambut oleh istri cantik, lalu di siapkan makanan yang enak adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang Zain.
Setibanya di parkiran Zain menaiki motornya, menggunakan helm batoknya, lalu mengendarainya, tak lupa dia terus bersenandung, tentang semua lagu cinta. Yang mendadak dia hafal semua. Seharian ini, sudah hampir tiga album lagu cinta yang ia senandungkan.
Baru setengah jalan,
Cekkkiiiitttt ...
Tiba-tiba motornya berhenti, kala di lihatnya banyak orang berkerumun di pinggir jalan.
“Ada apa itu?? Apa kecelakaan ya??” gumamnya sambil celingukan.
Seketika lalu lintas menjadi terhambat, suara klakson berbunyi dari segala arah.
Zain turun dari motornya, kemudian beranjak menuju pinggiran jalan, menerobos orang orang yang berkerumun.
“Ada apa??” tanyanya.
“Ini Kak, ada perempuan pingsan” jelas seorang bapak-bapak.
Zain mendekati orang yang dari tadi hanya jadi bahan tontonan.
“Cindy??!!” teriak Zain, saat menyadari ternyata perempuan muda yang tengah tergeletak itu ternyata Cindy, adik kelasnya, yang sering sekali mengirimkan berbagai chat padanya, tapi jelas selalu Zain abaikan.
“Cindy, kamu gak apa-apa??” Zain mendekati Cindy, berjongkok kemudian meraba dahi dan pipinya, mengecek suhu tubuhnya.
“Za Zaiiinnn??” Cindy menggigit bibir bawahnya kemudian terlihat meremas perut bagian bawahnya.
“Kamu kenapa??” tanya Zain.
“Pe perutku sakittt Zain, to tolong” Cindy mengerang kesakitan, sambil menangis, mencengkram tangan Zain sekuat tenaga.
“Kita kerumah sakit Cin, ayo!!!” teriak Zain yang merasa tidak tega, melihat perempuan yang tengah kesakitan tergeletak di pinggir jalan, tanpa ada yang mau menolongnya.
“A aku gak kuat Zain” Cindy memejamkan matanya.
“Pe perutku sakit sekali” Cindy kembali merintih.
“Aku gendong” Zain berjongkok, kemudian orang sekitar membantu Cindy agar naik keatas punggung Zain, dengan masih menggunakan helm batoknya, Zain menggendong Cindy, sambil berlari menuju rumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit ...
“Dokter tolong teman saya!!” teriak Zain.
Zain segera di sambut oleh beberapa perawat kemudian meletakkan tubuh Cindy yang sudah bercucuran oleh keringat dingin.
“Apa anda walinya?” tanya Dokter,
“Bukan Dok, saya temannya” jawab Zain masih sambil ngos-ngosan.
“Baik, tunggu sebentar ya, saya periksa temannya dulu” Dokter memasuki ruang ICU.
“Haduuuhhh ... Cindy kenapa ya??” Zain mondar-mandir di depan ruangan ICU.
Triiinnngggg .... tttrrriinnnggg .... ttrriiinnggg ....
Notifikasi pesan masuk berbunyi di ponsel Zain, zain segera meraih ponselnya, kemudian membukanya.
My love love
“Zain?? Masih dimana?”
“Haduuuuhhhh Kak yas udah chat lagi, gimana dong?? Kalau aku jujur Kak Yas pasti cemburu, kalau aku bohong, pasti dosa” Zain menggaruk kepalanya.
Me
“Masih di jalan Kak”
Akhirnya Zain memutuskan untuk menjawab, dengan jawaban yang klise
My love love
Me
“Iya Kakak, tunggu aku di rumah yaaa” Emoticon peluk, cium dua baris.
“Ouuuhhhh ... kenapa Kak Yas selalu membuatku tegang??” Zain mengacak rambutnya.
Tak lama Dokter paruh baya yang menangani Cindy keluar dari ruangan tempat Cindy di periksa,
“Dek,“ sapa Dokter tersebut.
“Iya Dok, gimana keadaan teman saya??” tanya Zain antusias.
“Temannya terkena usus buntu, dan harus segera di oprasi” jelas Dokter.
“Apa?? Haduh gimana ya??” Zain garuk-garuk kebingungan.
“Adek bisa segera hubungi walinya, karena ada beberapa berkas persetujuan yang harus di tandatangani” pinta Dokter.
“Haduuuhhh ... gimana ini??? Kalau aku hubungi keluarga Cindy, pasti Kak Yas tau, Cindy kan masih saudaranya si Om itu” Zain kembali mengacak rambutnya, dia terlihat begitu frustasi.
“Gimana Dek??” Dokter kembali bertanya.
“Saya aja yang jadi walinya Dok, saya juga sebetulnya masih kerabatnya juga” jawab Zain.
“Oh baiklah, silahkan keruang administrasi dulu ya Dek” Dokter menunjukkan tempat yang harus di datangi Zain untuk menandatangani persetujuan operasi usus buntu untuk Cindy.
Setelah selesai menandatangani beberapa berkas, Cindy di bawa kedalam ruang operasi.
Satu jam Zain masih menunggu Cindy di operasi, sambil mondar-mandir tidak jelas. Hanya bingung bagaimana cara menjelaskan semua ini pada istrinya nanti.
Trriiinnnggg .... trriinnngg .... ttrrriiinnggg ....
Suara notifikasi chat kembali terdengar dari ponselnya, segera zain meraih ponselnya dari dalam saku celananya, kemudian membukanya. Chat dari ‘MY LOVE LOVE’ kembali muncul di layar ponselnya
My love love
“Zain masih di mana??”
‘Aaaaaaa kenapa perempuan begitu cerewet sekali, aku harus jawab apalagi???’
Me
“Kakak, aku terkena macet, tapi sebentar lagi akan tiba kok”
My love love
"Baiklah, hati hati Zain” emoticon nangis dengan air mata seember.
Me
“Baiklah Kakak, sampai jumpa dirumah” emoticon peluk cium satu paraghraf.
Aaaaaaa kenapa operasinya lama sekali sih??? Kalau Kak Yas tau aku bohong, aku bisa di pecat jadi suami ini. Apa aku tinggalkan saja Cindy?? Tapi aku tidak tega,
“Ayo berfikir Zain ... “ lama Zain berfikir dengan hati yang resah dan gelisah, berjalan mondar mandir, maju mundur cantik, hingga akhirnya ...
“Aha!!!!”
Bersambung ................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ..................
boleh follow account IG author yaa
teteh_neng2020
makasiiihh