TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Ekstra Part 4


Setibanya di emol yang kami tuju, kami turun dari dalam mobil. Istriku, turun dari dalam mobil dengan Pelangi dalam gendongannya, sementara aku turun dari mobil lalu berputar menghampiri mereka.


“Mommy, biar aku yang gendong Pelangi” Aku merentangkan tangan, bersiap menggendong Putriku.


“Gak usah Daddy, biar aku saja” jawabnya sambil tersenyum.


“Gak, sinih pelangi sama Daddy, aku gak mau Mommy kecapean” pintaku, dalam sekejap, Pelangi sudah berada dalam gendonganku. Istriku hanya tersenyum, kemudian dia berjalan di sampingku.


Sepanjang jalan menuju kedalam emol, Pelangi terus tersenyum dan berceloteh, dia pasti senang, bisa berjalan-jalan, selama ini dia hanya aku kurung di dalam rumah. Kasihan Putriku.


Tangan kananku, mengelus pipi Pelangi, sementara tangan kiriku, menuntun Mommynya Pelangi. Tapi, Mommy Pelangi melepaskan cengkraman tanganku.


“Mommy, sini tangannya, jangan jauh-jauh” pintaku, agak kesal, kenapa juga di tengah keramayan kayak gini, dia malah menjauhiku, apa dia mau cuci mata gituh?? Mau kegenitan sama cowok lain?? Awas aja kalu dia berani kayak gituh.


“Ish ... aku gerah, aku mau liat-liat dulu kesebelah sana yah” Dia berjalan semakin jauh dariku.


“Mommy! Jangan jauh-jauh dari kita, sini tangannya” Aku kembali meraih tangannya. Tak rela jika dia bersikap seperti itu.


“Ihhh ... kalau mau deket deket nanti aja di rumah” jawabnya enteng.


“Ish ... Mommy, kenapa gak romantis banget sih?? Siniiihhh jalannya di samping aku aja” Aku kembali meraih tangannya.


“Ish ... ini bukan masalah romantis atau enggak, ini tuh masalah kebebasan, aku mau pilih pilih baju kesukaan aku dengan bebas” Dia kembali mengibaskan tanganku.


“Mommy, apa kamu malu jalan denganku??” tanyaku menatapnya, menghentikan langkahku, tepat di depan sebuah toko baju.


“Malu?? Sejak kapan aku malu punya kamu, yang ada aku itu bersyukur punya kamu Daddy” Dia tersenyum, ish ... aku tidak rela, dia mengumbar senyumnya di hadapan banyak orang.


“Terus kenapa gak mau pegangan tangan??” Tanyaku mengedikkan wajahku.


“Daddy, aku gak mau kita terlalu mengumbar kemesraan kita di tempat umum, entar kalau ada jomblo yang iri lihat kita gimana?? Mereka mau menyalurkan hasrat mereka sama siapa coba??” tanyanya berkilah.


“Ah ... mana ada jomblo hari ginih??” tanyaku bingung.


“Yang ada anak zaman sekarang itu pacarnya banyak Mommy” lanjutku lagi.


“Anak zaman sekarang?? Terus kamu anak zaman kapan??” tanyanya menatapku, dengan tatapan curiga.


“Apa kamu juga memiliki banyak pacar di luaran sanah??” tanyanya mulai menyelidik.


“Ish ... Mommy mana mungkin seperti itu??” jawabku agak sedikit kesal, pertanyaan macam apa itu?? Jelas dia adalah segalanya bagiku.


“Yah ... bisa aja kan??” Dia mengedikkan bahunya sambil berlalu menuju toko pakaian muslim.


Aku mengikutinya dari belakang. Sambil sesekali melirik Putriku, yang tengah mengemut jempolnya sendiri. Sesekali dia tertawa, mungkin Putriku menertawakan aku yang tengah kesal akan sikap Mommynya.


Ddrrttt ... ddrrtt ... ddrrtt ...


Ponselku berbunyi dari dalam saku celanaku. Aku meraihnya, kemudian sekilas melihat chat yang dirimkan seseorang padaku.


“Zain, gimana?? Aku nungguin keputusan kamu lho, oh iya, aku kirimin bunga kerumah kamu ya, buat di kasihin ke dia”


“Hadeuuuhhh ... aku harus apa coba?? Di mintain tolong kayak gini, ini bakalan jadi berabe gak sih??” gumamku dalam hati.


“Hheeeooo ...” Putriku tertawa lagi, sambil menempelkan tangannya yang sedikit basah karena air liurnya ke wajahku.


“Kamu kenapa Pelangi?? Kasihan lihat Daddy ya?? Daddy di cuekin Mommy, hiks” Aku mengedikkan bibirku pada Putriku.


“Gu gu gu ...” Pelangi kembali tersenyum, lalu mengacak rambutku.


“Huhuhu, sayang, kalau sudah besar, nanti Pelangi harus satu server sama Daddy ya ...” Aku menciumi pipi pelangi yang sangat gembul. Lucu sekali putriku, sama seperti Daddy nya.


“Ehe ehe ehe” Pelangi tertawa terbahak. Mungkin menertawakan permintaanku.


“Sebentar, Mommy mana ya?? Apa Mommy sedang kalap berbelanja?? Atau jangan jangan lagi kegenitan sama cowok lain?? Kemana Mommy??” baru aku sadari Kak Yas sudah hilang dari pandanganku, kemana dia?.


Lama aku berkeliling di toko baju ini, hingga akhirnya aku menemukannya, baru keluar dari dalam kamar pass, dengan seorang SPG pria berada di dekat kamar pass tersebut. Menyebalkan, Kak Yas tersenyum pada pria itu.


“Bagaimana Mbak?? Bajunya pass??” samar ku dengar SPG itu bertanya.


Kak Yas tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


“Kak, itu ponakannya ya??” tiba-tiba suara seorang perempuan membuyarkan penglihatanku, pada Kak Yas.


“Lucu banget” lanjutnya, sambil mencoel pipi Pelangi, Pelangi tersenyum, lalu berceloteh, entah apa.


“Bukan, ini anak saya” jawabku.


“Hah?? Kakak Papah muda ya?? Uuugghh ... gemessshhh” ucapnya sambil mencubit pipi pelangi, untung aja bukan pipiku yang di cubitnya.


“Iya” jawabku singkat, dengan mata masih tertuju pada Kak Yas, yang sedang membayar di kasir.


“Kakak, kesini sama istrinya??” tanya perempuan itu lagi.


“Iya” jawabku lagi, sesingkat mungkin, males banget ni cewek, nanya mulu.


“Istrinya mana??” tanyanya celingukan.


“Ituh” Aku menunjuk Kak Yas dengan wajahku.


“Ouh ...” perempuan tadi memundurkan langkahnya, kala melihat Kak Yas yang menghampiri kami sambil melambaikan tangannya, tersenyum ke arah kami.


“Jangan tersenyum!” peringatku, kala dia sudah di hadapanku.


“Terus aku harus manyun aja gituh??” tanyanya bingung.


“Ya kalau bisa” Aku mengedikkan bahu, lalu berjalan keluar, setelah meraih tas belanjaannya.


“Idih ...” sempat kudengar ocehannya di sampingku.


“Kalau jalan sama aku tuh, bisa gak sih keliatan romantis gituh??” tanyaku.


“Romantis tuh kayak gimana sih??” tanyanya.


“Ya pegangan tangan kek, Mommy gak suka ya? Jalan bareng aku??” tanyaku mengerucutka bibir imutku.


“Sukak dong, seneng malah,” jawabnya tersenyum lagi. Ish ... dia memang nakal, udah di larang senyum juga.


“Terus?? Kenapa gak mau pegang tangan aku??” Aku masih ngeyel.


“Daddy, tau gak?? Hal paling romantis, yang paling aku suka dari kamu??” tanyanya sambil mengerlingkan matanya padaku, aku tersenyum tersepona.


“Apa??” tanyaku.


“Ketika malam, waktu lampu di matikan, hhhiii“ jawabnya, sambil mempercepat jalannya, aku langsung mengerti, lalu aku mempercepat jalanku, untuk mengejarnya. Istriku memang berbeda.


Setelah semua kebutuhan kami, selesai di beli, kami memutuskan untuk segera pulang kerumah, kasihan Pelangi, seharian di ajak jalan-jalan, dia terlihat kelelahan. Tapi, dia tidak berhenti tertawa dan tersenyum, mungkin bahagia di ajak jalan-jalan oleh kami. Apalagi sang pemilik jiwa dan ragaku, selain Allah. Dia amat kegirangan, dengan belanjaan di belakang jok yang kami duduki. Dia terus mengumbar senyum. Aku suka itu, lagian banyak orang bilang, kalau suami membahagiakan istrinya, maka Allah akan melipat gandakan rezekynya. Yah mereka bilang begituh. Istriku dan anakku bahagia, maka aku lebih dari itu.


Tiba di rumah, kami turun dari mobil, Pelangi di gendong Mommy nya, sementara aku sibuk mengeluarkan barang belanjaan mereka.


Kak Yas, tiba di depan rumah duluan, dia tersenyum padaku, dengan tangan kanan di sembunyikan di belakangnya, sementara tangan kirinya, mengelus kepala Pelangi. Aku mengerutkan keningku, kenapa lagi dia?? Senyum-senyum sendiri, menatapku.


“Daddy, makasih yaaaa ... Daddy memang pria luar biasa, seharian ngajakin aku belanja, tiba di rumah masih di kasih kejutan juga” Dia melebarkan senyumnya.


Aku tidak mengerti, kejutan?? Kejutan apa?? Batinku meronta.


“Kejutan apa??” tanyaku bingung.


“Ah, Daddy suka gitu deh, ini ....” dia mengeluarkan tangan kanannya, yang dari tadi di sembunyikan, terlihat seikat bunga mawar merah segar berada di tangannya.


“Haduh?? Itu bunga buakan buat Mommy” Aku menggaruk pelipisku, bingung mau menjelaskannya dari mana.


“Appppaaaa??? Lalu bunga ini buat siapa???” Tanyanya dengan teriakan khasnya.


“Bunga itu buaaattt ....”


Bersambung ..............


Buat siapa coba???? Hayo tebak hayooooo??? Hhheeee


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ... like, komentar, bintang lima, dan vote juga. Ada yang sudah melihat rate karya ini?? Baru kemaren ratenya 4,8 sekarang udah 4,5 aja. Tolong bantu naikin rate nya ya readers, agar author semakin semangat updatenya. Terimakasih sebelumnya.