TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Berangkat Liburan


“Kakak“ tiba-tiba Zain mendorong pintu kamarku, kepalanya menyembul di balik pintu.


“Ya ampuunn ... kamu bikin kaget aja, apa???” tanyaku memutar tubuh menghadap kearahnya.


“Dua jam lagi berangkat, Kakak udah siap-siapnya??” tanyanya sambil tersenyum.


‘Ck, bisakah kamu jika tidak tersenyum Zain??? kamu terlalu imut ‘ Jiwaku meronta mak.


“Udah, bentar lagi,“ jawabku sambil memalingkan wajah.


“Ya udah, Mamah sama Papah mau nganter kita kak, sampai bandara“ ucap Zain.


‘Ya elah, mau liburan aja mesti di anterin, sampe bandara segala, kitakan gak akan


nyasar, kenapa gak di anterin sampe hotel aja sekalian???‘ hatiku terus bermonolog


“Iya“ jawabku.


“Ya udah, cepetan beres-beresnya ya Kak “ Zain memundurkan langkahnya, menuju kamarnya.


Sementara aku, menyelesaikan packing semua barang-barang yang seharusnya aku bawa, termasuk sesuatu yang di bisikkan Tante Meta tadi, ck, bisa-bisanya aku nurutin perkataan Tante Meta yang ini, tapi biarlah, aku akan mencobanya.


Di Bandara,


“Ya ampppuuunnn Zain kami, akan berlibur, hati-hati di jalan ya, semoga liburannya menyenangkan“ Mamer memeluk putranya dengan penuh haru, udah kayak anaknya mau berangkat Haji saja, pake di tangisin segala.


“Iya, di sana kamu bersenang-senanglah, ya Zain“ gantian, sekarang Pamer yang memeluk putranya, sambil menangis.


‘Ck, kami liburan masih di Indonesia, tapi kenapa ada banyak drama yang terjadi pada mereka?? entahlah, mungkin karena aku tidak terbiasa di manja, dari kecil aku sudah terbiasa mandiri, dan jauh dari keluarga'.


“Iya, Mamah, Papah“ Zain juga menyeka air matanya.


“Nanti kalau udah disana kabarin Mamah ya Zain, ini di pake syalnya“ Mamer menggantungkan syal berwarna senada dengan kaos yang di gunakan Zain, di leher putranya.


“Di sana pasti dingin banget Zain“ Imbuhnya.


“Mamah juga udah bungkusin makanan kesukaan kamu, ada di dalam toples, di dalam tas kamu yang ini“ Mamah menunjukkan koper yang katanya berisi makanan.


“Ya ampun, Mamah Zain itu mau liburan, bukan mau piknik, kenapa di kasih bekal segala sih??” Zain mengerucutkan bibirnya.


“Gak apa-apa bawa aja“ sahut Mamah.


‘Titip Zain?? harusnya aku yang di jaga suamiku, ck, nasib jadi perempuan dewasa dan mandiri, begini nih‘


“Iya Mamah“ jawabku.


“Hati-hati ya Yas, pulangnya jangan lupa bawa oleh-oleh“ sahut Papah.


“Iya Pah, Papah mau di beliin oleh-oleh apa??” tanyaku menatap Pamer, yang lagi cengar-cengir.


“Papah mau oleh olehnya Cucu“ jawab Pamer tanpa dosa.


“Whhaaattt??” Aku tersentak kaget, sambil menutup mulut.


“Hhhiiiii“ Mereka tertawa berjamaah,


“Hiii“ Aku ikutan nyengir.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, akhirnya tibalah kami di sebuah hotel, yang cukup mewah menurutku, perlahan aku memasuki kamar hotel ini, di ikuti dengan Zain yang mendorong dua koper.


Deg, deg, deg ....


Aku senyum-senyum sendiri merasakan getaran di dada, sementara Zain???.


“Yuuuhhhuuuu!! Kakak, aku seneng banget bisa liburan kesini" Zain melompat-lompat di atas kasur.


“Zaiinnn kamu apaan sih?? Turun, Kaki kamu itu kotor!!” Aku menghardiknya.


“Kakak, sini lihat, itu pemandangannya bagus banget“ Zain menuntunku ke arah balkon,


Yups, terlihat pemandangan yang begitu menyejukkan, hotel ini menghadap ke arah laut, seketika jiwa tentram, damai, makmur, sentosa dan sejahtera, menyeruak  ke dalam tubuh, fikiran, jiwa dan ragaku.


Aku menatap hamparan indah yang ada di hadapanku.


“Yuhhuuuuuu ...” Zain terus melompat-lompat kegirangan di sampingku.


Ck, bocah, gak berubah dia.


Bersambung .............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.................