TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Kelulusan Zain


Tik ... tok ... tik ... tok ... ( suara jam yang melaju )


Tak terasa, detik di ganti oleh menit, menit di ganti oleh jam, jam di ganti oleh hari, dan seterusnya, tanpa terasa waktu terus berganti.


Hari ini, adalah hari kelulusan Zain, setelah dia menyelesaikan ujiannya.


Hari yang paling membahagiakan bagi seluruh warga kelas tiga, setelah mereka melewati masa sulit, karena harus tertekan, dan harus belajar habis-habisan. Akhirnya mereka merayakan kemenangannya, termasuk Zain.


Ada kebahagiaan lain yang menyelusup kedalam rongga hatiku, selain dari pada hari ini, adalah hari kelulusan Zain, juga beberapa hari kedepan adalah hari ulang tahun pernikahan kami, yang pertama. Tak terasa satu tahun, membina mahligai rumah tangga bersama si bocah. Nyatanya aku bisa melewati semua ini, yang pada awalnya aku takut, menolak, hingga berpuluh drama yang harus ku lalui, tapi akhirnya aku bisa melewati satu tahun bersamanya.


“Kakak, jangan lupa datang yaaa ... di hari kelulusanku, besok“ Zain memberitauku.


“Loh?? bukannya yang di undang hanya orangtua saja ya??” tanyaku heran.


“Iya, tapi Kakak juga boleh hadir, 'kan Kakak istri aku“ Zain menaik turunkan alisnya.


“Emh, baiklah, besok aku akan hadir“ J


jawabku sambil tersenyum.


Senyum mengembang di bibir Zain, wajahnya terlihat begitu sumringah, akupun ikut bahagia.


Hingga keesokan harinya ...


Dari subuh aku sudah dandan secantik mungkin, tak ingin menurunkan pamorku, sebagai seorang perempuan dewasa yang mandiri, dan kekinian. Baju dress yang dulu sempat di belikan Zain, aku gunakan kali ini, siapa yang nyuruh?? ya si Bocah lah pastinya, tapi tidak berikut dalemannya ya, biarin lah gak serasi juga. Hee ...


Aku datang kesekolah Zain, dengan di gandeng oleh Pamer, dan Mamer, mereka dengan semangat empat lima mendatangi acara putranya.


“Yas, kita duduk di kursi paling depan yuk, biar kita bisa melihat Zain dengan jelas“ Mamer menuntunku, dan duduk saling bersebelahan denganku.


Aku menikmati setiap acara yang di bawakan para anak SMA ini, ada berbagai acara yang menurutku menarik untuk di tonton. Ah ... kadang suka iri jika melihat gairah para anak muda ini, begitu semangat, polos, dan tanpa beban.


Hingga pada akhirnya, tibalah saatnya persembahan dari siswa yang paling di idolakan para siswi perempuan, ya siapa lagi kalau bukan suami bocahku, Zain.


“Dan sekarang kita sambut, penampilan solo dari pria yang ngakunya paling tampan di sekolah kita, Zaiiinnnn ...” Mc meneriakkan nama Zain, dan sesosok pria tampan, imut, lucu dan menggemaskan, seketika naik ke atas panggung. Dia melirikku, lalu tersenyum manis, kemudian dia meraih microfon.


“Cek, test, cek, cek ...” suara Zain menggema, lalu para perempuan fans Zain pun berteriak histeris, meneriakkan nama Zain.


Aku mendelik, merasa tidak suka nama suamiku, di panggil puluhan wanita lain, tapi aku hanya bisa terdiam, dengan pandangan lurus menatap Zain, yang tengah tersenyum ke arahku.


“Baik, terimakasih sebelumnya kepada panitia, yang telah mengizinkan saya untuk bisa mengisi acara ini, ekkhheeemmm ... sebelumnya, saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada, Mamah, Papah yang sudah berkenan hadir, juga untuk seluruh guru-guru yang telah membimbing saya, dan juga terimakasih untuk seluruh teman temanku terkasih, yang sudah mengisi hari-hariku dengan setia, hingga hidupku menjadi penuh dengan warna ....” Zain sejenak terdiam, aku mengamati mimik wajahnya, terlihat dia ingin mengatakan sesuatu.


Semua siswa, terdiam, menanti ucapan selanjutnya dari Zain. Termasuk aku.


Bersambung......


jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...