TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Perjodohan


Zain P. O. V


Namaku Muhammad Zain, biasa di panggil Zain, aku adalah anak tunggal dari sebuah keluarga yang sangat harmonis, kedua orangtuaku sangat menyayangiku, sangat memanjakanku, hingga apapun yang kuinginkan selalu mereka kabulkan dengan mudahnya.


Hari ini kedua orangtuaku ingin menjodohkan aku dengan anak sahabat papahku, entah apa yang mereka fikirkan, kenapa juga aku harus dijodohkan sementara aku masih anak SMA. Aku ingin menolak perjodohan ini dengan baik - baik.


“Mah, Pah, Zain tidak ingin dijodohkan dengan siapapun, Zain ingin menikah dengan perempuan pilihan Zain sendiri“ rayuku pada Mamah, biasanya Mamah akan mengabulkan apapun yang ku inginkan dengan mudah bukan?.


“Tidak bisa Nak, kamu harus menikah dengan perempuan pilihan kami, pilihan kami pasti yang terbaik“ tegas Mamah,


“Tapi Mah, Pah“ sanggahku kemudian "Zain masih anak sekolah“ Aku mencoba bernegosiasi,


“Tidak ada pembantahan Zain, Papah menjodohkanmu sekarang, bukan berarti kamu harus menikah besok“ kali ini suara Papah agak meninggi, membuatku sedikit takut.


“Baiklah, kapan pertemuannya pah??” tanyaku akhirnya,


“Nanti malam, Papah sudah mengundang beberapa kolega Papah, jadi, kamu jangan bikin malu keluarga ya Zain??” tegas Papah sekali lagi,


“Iya Papah, kalau gitu Zain keluar sebentar ya Pah,“ pamitku,


“Tidak bisa, nanti kamu kabur dari acara ini“ cegah papah waspada.


“Tidak Papah, Zain hanya ingin membeli sesuatu“ rajukku,


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


Papah pasti mengabulkan permintaanku,


“Baiklah, tapi ingat jangan lama - lama“ akhirnya Papah mengalah, dan aku tahu ini pasti akan terjadi,


“Iya Papah“


Benarkan?? tidak membuang waktu Aku segera melesat pergi,


Di dalam mobil, aku memutar otak, kira - kira apa yang harus kulakukan agar perjodohan ini bisa dibatalkan. Aku mengemudikan mobilku dengan sangat pelan, hingga aku melewati sebuah salon, di samping butik besar. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku.


Aha!!


Aku berjalan menuju salon yang kutuju, tapi tanpa sengaja aku mendengar percakapan orang - orang dewasa, hish ... orang dewasa memang ribet sekali, aku yakin si pria pasti sedang memutuskan si wanita berhijab, karena perempuan berhijab itu terlihat berlinang air mata.


Gubbrrraaakkkk ...!


Tiba - tiba saja perempuan itu menabrakku, ya ampuuunnn wajahnya begitu cantik sekali, aku menyukainya.


“Aduuuhh maaf ya Kak, aku gak sengaja ... “ kataku sambil mencoba merengkuhnya.


“Pergi sanah ...!!!” Dia berteriak sambil menghempaskan tanganku.


“Apa sebegitu sakitnya ya kak??” Tanyaku lagi, heran padahal benturan tadi sama sekali tidak keras, tapi kenapa dia menangis histeris,


“Sakit, sakiiitttt!!!!” teriaknya sambil memukul mukul dadanya sendiri,


“Maaf Kak, aku beneran gak sengaja, lagian Kakak juga kenapa lari - lari di parkiran??” tanyaku lagi,


Dia menengadahkan wajahnya ke arahku,


“Apa perlu di bawa ke dokter kak?? Yang mana yang sakit?” tanyaku lagi, aku sangat khawatir, pada keadaan si cantik, yang sudah membuatku deg - degan, aku yakin, ini pasti yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.


“Gak ada, udah pergi sana!!” teriaknya lagi, membuatku sedikit kecewa,


“Tapi kok Kakak sampe nangis gituh??” tanyaku lagi mencoba memastikan,


“Anak kecil, udah sana!!!!“ bentaknya sambil melambaikan tangan, menyetop sebuah taksi, lalu menaikinya. Tak lama taksi melaju, meninggalkan aku yang tengah melongo.


“Kakak cantik, kalau ketemu lagi, mau aku nikahin gak?? Hhhiiii ...” aku terkekeh sambil berlalu menuju salon yang tadi ingin kukunjungi,


“Siang Mbak“ sapaku pada pegawai salon yang sumringah menyambutku,


“Siang Mas, ada yang bisa di bantu??” tanyanya ramah,


“Mbak bisa mengubah penampilan saya??” tanyaku sambil menaik turunkan alis,


“Bisa dong Mas, apa sih yang enggak buat si Mas ganteng??” jawab pelayan salon dengan nada centilnya, kemudian aku mengutarakan keinginanku untuk merubah penampilanku.


Hingga beberapa saat kemudian ...


“Baik, terimakasih Mbak,“ jawabku sambil memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah,


“Iya, sama - sama Mas, jangan lupa datang lagi yaaa” pelayan salon melambaikan tangannya padaku,


Aku kemudian berjalan dengan PD nya, tanpa risih hingga orang - orang yang berpapasan denganku bergidik ngeri, ada pula anak kecil yang ketakutan melihat penampilanku sekarang, tapi biarlah.


***


Waktu yang di tentukan untuk mengadakan pertemuan sudah tiba, aku bersiap untuk memasuki rumah, terlihat orang - orang sudah berkumpul di dalam rumah, ish ... aku tidak suka ini, selama ini aku memang sudah sangat sering di jodohkan dengan anak - anak dari sahabat Papah, dan aku tidak pernah menyukainya, kenapa pula masih harus ada ‘*S*iti nurbaya‘ di abad milenial ini?.


Perlahan aku masuk kedalam rumah, “Ka - kamu siapa??” tiba - tiba Mamah berteriak sambil menunjuk hidungku,


“Ish ... ini Zain, Mamah“ jawabku sambil memutar kedua bola mata sipitku.


“Ka - kamu, bukan Zain kami“ lagi Mamah melotot melihat penampilanku tak percaya, hingga mengundang semua perhatian orang - orang yang tengah berkumpul.


Mereka melihatku lekat - lekat, tampak wajah - wajah bingung terpampang disana.


“Ini Zain Mamah, anak Mamah dan Papah“ Aku mendekat pada Mamah, tapi Mamah malah terus mundur.


“Apa - apaan ini pak Andi?? Anda mau mempermainkan keluarga kami ya??!” teriak bapak - bapak gendut, yang kupastikan dia pasti calon mertuaku.


“Ti - tidak pak Ronald, sebentar saya bisa jelaskan semuanya!“ seru Papah, mencoba merengkuh tangan calon besannya.


“Tidak, saya fikir anak Pak Andi, anak baik - baik, ternyata berandalan ya?? Hih ... saya tidak sudi punya menantu berandalan!“ tegas Pak Ronald.


“Ti - tidak Pak Ronald, saya bisa jelaskan semuanya, Bapak tenang dulu ya“ Papah mengiba,


“Tidak Pak Andi, perjodohan ini saya batalkan!!!“ Pak Ronald berteriak, kemudian berlalu pergi, di ikuti oleh pasukannya, yang dari tadi hanya melongo,


“Hiiii ... hay ... hay ... sampai jumpa“ Sapaku pada perempuan yang berjalan melewatiku, dan berhasil membuat mereka bergidik ngeri, lalu lari terbirit - birit.


“Zain!!!! Apa - apaan kamu?!!!” bentak Papah kemudian, setelah semua tamu pergi.


“Hhheee ... maafin Zain Papah, Zain hanya tidak ingin dijodohkan“ Aku tersenyum sambil garuk - garuk, tidak nyaman karena rambutku terasa lengket, entah apa yang pelayan salon tadi tempelkan di rambutku,


“Kamu!!! Kamu sudah bikin malu keluarga!!!” teriak papah membentakku.


“Maafin Zain Papah“ dengan nada seimut mungkin, aku merajuk pada Papah,


Dan ...


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


Aku menghitung jariku, aku tahu Papah pasti akan dengan mudah memaafkan aku.


“Tidak!!! Kamu harus bertanggung jawab untuk semua ini,“ hardik Papah yang membuatku melongo,


“Ta - tapi Papah ...” Aku tidak percaya Papah bisa semarah ini,


“Cukup!!!! Pergi kamu dari rumah ini!!!“ Papah menunjukkan jarinya pada pintu,


“Papah ngusir Zain??” Aku masih tidak percaya Papah akan semarah ini,


“Iya, pergi sanah!!!” Papah masih berapi - api,


“Ya udah, Zain pergi ya Papah,“ Aku kemudian berjalan menuju pintu,


satu ...


dua ...


tiga ...


“Zain ...!”


Tuh kaaaaan, Yes!


Bersambung......................


Readers kesayangannya author, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa....