
Di antara kursi tunggu yang berderet kami semua menunggu keputusan Dokter atas pemeriksaan Kak Yas.
“Apanya yang mau di periksa?? Kak yas kan gak hamil juga” batinku menggerutu.
“Tapi bagaimana jika Mamah dan Papah tau kalau Kak Yas sebetulnya tidak sedang hamil?? Haduh ini masalah lagi, aku harus memikirkan sesuatu” Aku berjalan mondar mandir di depan ruangan Dokter.
“Anak nakal! jangan mondar mandir kamu, aku pusing melihatmu!” sentak Papah mertua, membuatku mengerjap.
Mamah mertua hanya duduk terdiam, di samping Papah mertua, sementara Imam dan Budi tengah saling berpelukan layaknya teletubbies di pojokan.
“Zain!!” sayup terdengar suara Mamah dari kejauhan, aku menoleh, dan benar Mamah dan Papah sedang berlari menuju tempatku.
“Mamah!” Aku menghambur kedalam pelukan Mamah, ah, pelukan Mamah memang yang terbaik. Sudah lama aku tidak menemui Mamah, bukan karena aku tidak merindukannya, tapi karena aku sedang belajar menjadi pria yang sejati, seperti yang diminta Papah mertua.
“Ya ampuunn Zain kami, kenapa kamu kurusan Zain?” Mamah menyentuh kedua pipiku.
“Lihat! mata pandamu juga melebar Zain!” Papah menunjuk bagian bawah mataku, semenjak berpisah dengan Kak Yas, aku memang jadi sulit makan dan tidur.
“Aku tidak apa apa Mamah, Papah” jawabku menunduk.
“Lalu apa yang terjadi dengan menantuku??” Tanya Mamah celingukan.
“Eekkkhheemmm ... Zain bilang, menantumu sedang hamil” tiba-tiba Papah mertua berdehem dari belakangku.
“Apaaaa?? Papah, kita akan segera memiliki cucu, ugh, Zain kamu memang pria sejati” Mamah terlihat begitu antusias, lalu mengacak rambutku.
“Oh iya, siapa mereka Zain??” tanya Papah berbisik.
Aku menggaruk rambutku yang terasa tidak gatal.
“Saya orang yang menelpon anda tadi, kami orangtuanya Yasmin” Papah mertua mengulurkan tangannya pada Mamah dan Papahku.
“Ah, besan! apa kabar?? Maaf kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini” Mamah dan Papahku menerima uluran tangan mereka.
Mereka lalu kembali duduk di kursi tunggu, sementara aku semakin cemas, kenapa pemeriksaan Kak Yas lama sekali?? Apa yang harus ku katakan pada mereka sekarang. Aku menoleh pada ke empat orangtuaku yang begitu antusiaas. Bahkan Mamah dan Papah mertua, sepertinya sudah bisa menerimaku. Tapi bagaimana jika mereka tau aku bohong?? Ish .... ini menyebalkan. Kebohongan, apapun bentuknya itu salah, sekali aku berbohong, maka aku harus menciptakan kebohongan lain untuk menutupinya. Ish ... jika begini, aku malah jadi frustasi.
Sayup kudengar obrolan para Mamah,
“Besan, sebelum kehamilan Yas terlihat, bagaimana jika kita segera melangsungkan acara resepsinya??” tanya Mamahku.
“Aaaaaa, aku setuju besan, bagaimana jika kita menggelar resepsi seheboh mungkin?? Yas itu putriku satu-satunya,” Mamah mertua begitu antusias menanggapi keinginan Mamah.
“Sama, Zain juga putraku satu-satunya, aku tidak ingin melewatkan masa ini, waktu itu aku belum sempat menggelar pesta yang meriah untuknya, karena Zain masih sekolah” Mamah tertunduk.
“Ah, tidak apa-apa besan, kita bisa melakukannya sekarang, mari kita susun rencananya dari sekarang” Mamah mertua dan Mamahku langsung mendiskusikan semuanya.
Selalu heran dengan segala kerempongan para Mamah ini, bahkan di tempat dan di situasi seperti ini, mereka masih sempat sempatnya merencanakan sebuah pesta. Huh ... membuat kepalaku serasa mau pecah saja.
Sementara itu, para Papah hanya geleng-geleng kepala, sambil membicarakan urusan para pria.
Ceklek ... ( Pintu di buka )
Segera aku menghampiri Dokter yang baru muncul.
“Dokter, bagaimana keadaan istri saya??” tanyaku tergesa.
“I iya betul Dok” jawabku gugup.
“Bagaimana putri saya??, bagaimana dengan kehamilannya??” Papah mertua tiba-tiba berdiri dengan hebohnya.
“Sa saya suaminya, saya yang lebih berhak, Dokter mari kita bicara di dalam!” teriakku, mencoba mengalihkan suasana.
“Eeehhh, ini saya Papahnya, saya juga berhak tau kondisi Putri saya!” teriak Papah mertua.
“Papah mertua, silahkan lanjutkan obrolannya, nanti aku akan memberi tahu kondisi Kak Yas sedetail mungkin ok?? Papah mertua??” sedikit menekan suaraku, aku berkata pada Papah mertua.
“Aaaaa ... baiklah, mari besan, kita duduk kembali” sedikit bergidik, Papah mertua kembali duduk, begitupun yang lainnya.
“Mari Dokter” Aku menuntun Dokter untuk memasuki ruangannya kembali.
“Mari Pak” Dokter mengikuti langkahku.
Kulihat Kak Yas tengah berbaring, menatapku dalam, aku duduk di kursi di hadapan Dokter.
“Begini Pak, Bu Yasmin tidak apa-apa, Bu Yasmin tidak sedang hamil juga, hanya saja tubuhnya mengalami dehidrasi, dan mengalami kurang asupan nutrisi. Mungkin Bu Yasmin sering berpuasa??” tanya Dokter.
“Aaaaa mungkin Kak Yas jarang makan aja” jawabku,
“Iya, Bu Yasmin asam lambungnya naik, atau sering di sebut magh” jelas Dokter.
“Ah, baiklah aku mengerti Dok” Aku memanggutkan kepala.
“Baik, jika sudah mengerti, saya akan tuliskan beberapa resep yang harus di tebus” Dokter menuliskan sesuatu pada secarik kertas, sementara aku??? Jantungku berdebar kuat, entah apalagi yang harus kukatakan, aku bingung, bagaimana jika Mamah dan Papah mertua tau kenyataan ini?? Aku pasti akan di pisahkan kembali dari Kak Yas.
“Ini Pak” Dokter menyodorkan resep yang dia tulis.
“Baik Dok” Aku menerimanya, kemudian berdiri, beranjak menemui Kak Yas.
“Kakak,!“ seruku.
“Zain” Kak yas membenahi dirinya, dari tidur menjadi duduk.
“Apa rencanamu selanjutnya??” tanya Kak Yas.
“Eeemmmmhhhh .... “ Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
“Rencana selanjutnya adalah acara resepsi kalian!!!!” teriak ke empat orangtua, yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, sambil tersenyum sumringah.
“Apppaaaa?”
“Hadduuuhhh!!!!”
Bersambung .....................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers .......... Like, koment, bintang lima, dan kasih author vote juga yaaaa ...
author tunggu yaaaa ... makasiiihhh ....