TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Petuah Rian


“Zain, aku akan pergi ketoko kue“ pamitku pada sibocah yang tengah asyik menikmati sarapannya.


“Iya Kak“ jawabnya sambil terus mengunyah.


“Jangan lupa nanti pintunya dikunci ya“ perintahku.


“Iya“ jawabnya singkat.


Aku segera berangkat ke toko kue, tadi pagi Riyan menelponku untuk segera berangkat ketoko kue, karena ada sedikit masalah, kue yang dipesan pelanggan sebanyak dua ribu biji, hancur karena orang yang mengantarkannya mengalami kecelakaan, sementara waktu hanya tinggal beberapa jam lagi, dan si pemesan sudah terus menelpon. Aku bingung, apa yang harus kulakukan ??


“Sar, bagaimana??? sudah ada jalan keluarnya??” sapaku pada Sarah setibanya di Toko kue.


“Belum ada Kak, aku bingung harus ngapain??” Sarah tampak panik.


“Dimana Riyan???” tanyaku.


“Ada di dapur Kak“ jawab Sarah.


Aku berjalan menuju dapur, melangkahkan kaki dengan gontai.


“Riyan, apa yang harus kita lakukan sekarang??” tanyaku sambil mendaratkan bokong dikursi.


“Kita harus secepat kilat mengerjakan semuanya Yas, ada waktu beberapa jam lagi hingga acara mereka dimulai, aku barusan sudah komfirmasi pada pemesan, dan mereka setuju memberikan kelonggaran waktu, yang penting, nanti pas waktu acaranya mau mulai, semua kuenya sudah datang" jawab Riyan antusias.


“Ya udah, kita kerjain pesanan aja dulu, toko didepan tutup aja dulu, semua pegawai fokus bikin kuenya“ timpalku, aku langsung memerintahkan semua karyawanku, agar fokus membantu yang lain untuk membuat kue pesanan, sementara toko di depan tutup total, kepercayaan pelanggan adalah segalanya bagi kami, aku ataupun Riyan tidak ingin mengecewakan pelanggan.


Waktu terus berputar, aku masih sibuk berkutat, berkat kerja keras dan kerja sama kita semua, pesanan hampir selesai, waktu tersisa tinggal hampir setengah jam lagi, pesanan sudah selesai semua, pesanan siap diantar.


Aku menarik napas dalam, hari ini sungguh melelahkan, aku menenggelamkan wajahku di meja.


“Hey, jangan setress gitu, kan semuanya udah beres" Riyan menempelkan jus kepipiku.


“Ah, dingin!!” teriakku, aku mengerjapkan mata, ada rasa segar ketika air es itu menyentuh pipiku, aku meminumnya, rasanya begitu segar, aku menatap Riyan sambil tersenyum.


“Iya, sama-sama“ Riyan pun meminum minumannya, sambil duduk disampingku, dia asyik dengan ponselnya, saling bertukar pesan dengan istrinya.


“Yan, gimana rasanya membangun rumah tangga dengan wajar??” tanyaku tiba-tiba, aku merasa iri, ketika melihat Riyan tengah senyam senyum sendiri.


“Memangnya rumah tangga yang sedang kamu jalani, tidak wajar??” Tanya Riyan menatapku lekat.


“Menurutmu?? apa rumah tanggaku akan wajar?? ketika aku membangunnya dengan orang yang ... ah ... sudahlah“ Aku menepiskan tangan, hampir saja aku menebar aib rumah tanggaku sendiri, tapi Riyan malah tersenyum.


“Yas, kamu tau?? rumah tangga semua orang, pasti akan diuji, sesuai dengan tingkat kemampuannya, selama ini kamu melihat rumah tanggaku baik-baik saja bukan?? tapi tidak sepenuhnya begitu Yas, kadang ada kalanya, akupun menjalani rumah tangga yang memuakkan, tapi itu tergantung dari bagaimana cara kita menyikapinya“ kata-kata Riyan membuatku berfikir keras kembali.


“Yas, bersama siapapun kamu membina rumah tangga, kamu pasti akan diuji“ lanjut Riyan.


Yah, kata-kata Riyan ada benarnya juga, tapi membangun rumah tangga dengan sibocah?? rasanya aku tak sanggup.


Ada banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi, ah lebih tepatnya semua kebutuhan jasmani dan rohaniku belum terpenuhi oleh suamiku, jadi, haruskah aku masih bertahan?? lagi-lagi pertanyaan itu muncul dikepalaku.


Tapi aku berusaha tersenyum pada saudara sekaligus sahabatku ini “Makasih ya Yan“


“Iya, sama-sama, ayo semangat dong Yas" Riyan mengacungkan tangannya.


Aku tertawa melihat tingkah konyolnya,


“Kakak!!!!” tiba-tiba terdengar suara menyentak dari belakang, aku menoleh


“Zain???”...............


Bersambung...............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komentar, bintang lima, dan votenya juga. terimakasih.