TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Hadiah Untuk Kak Yas


Lemah, letih, lesu, lunglai, sepertinya aku butuh sangobion. Huh ... ku tarik napas berulang ulang, dadaku terasa sesak, karena kejadian semalam. Aku melihat kak Yas bersama pria lain.


Suami mana coba yang tahan jika harus melihat istrinya bersama pria lain?? Yah meskipun aku tau, tak ada hal lebih yang dilakukan mereka.


“Pagi Zain?? Kenapa wajahnya di tekuk??” Kali ini Rina menyapaku.


“Gak apa-apa bu“ jawabku malas.


“Ayo cerita sama aku, mungkin aku bisa bantu” Dia duduk di atas meja, menghadap padaku, memperlihatkan paha mulusnya. Aku mengerjap.


“Gak bu, saya gak apa-apa,“ jawabku sambil memalingkan wajah.


“Zain ada yang mau ketemu kamu, orangnya lagi di luar“ tiba-tiba Pak Ruben datang memberitahuku.


“Siapa pak?” tanyaku menatap Pak Ruben.


“Dua orang laki-laki, katanya sahabat kamu Zain“ jelasnya.


“Ah, baiklah, saya akan menemuinya“ jawabku sambil berlalu, meninggalkan Bu Rina yang tengah melongo karena aku tinggalkan begitu saja. Lagi pula kenapa dengan perempuan itu?? Gayanya ooouuuhhh ... sangat jauh dari Kak Yas.


Aku keluar dari dalam ruangan menuju loby.


“Hay Zain!! apa kabar Bro??” dua orang pria tengil mendatangiku, melambaikan tangannya. Yah, mereka adalah dua sahabatku.


“Hay“ balasku lemas.


“Lah? kok lemas??” tanya Budi memegang bahuku.


“Aku lagi males aja“ jawabku sambil menepis tangannya.


“Malas kenapa?? Ayo cerita“ kali ini Imam yang menggandeng pundakku.


“Aku lagi marah sama Kak Yas“ akuku, sambil duduk berjongkok di bawah.


“Hah?? si Kakak cantik?? kenapa dengannya??” tanya keduanya kompak.


“Mantan Kak Yas terus mendatanginya, semalam gak sengaja aku mukul Kak Yas“ jelasku, menceritakan kejadian semalam, yang membuat emosiku memuncak.


“Whhhaaatttt??” teriak mereka kompak.


“Aku bingung, sekarang aku harus apa?? Kak Yas marah padaku“ rajukku, sambil menghentakkan kaki.


“Tenang Zain, semua pasti ada solusinya“ Imam membentikkan jarinya pada dahinya.


“Aha! aku ada ide“ teriak Budi, di antara kami, dia memang paling banyak memiliki ide busuk, termasuk dulu ketika aku sekolah, dia yang selalu menyarankan kami untuk bolos sekolah dan nyontek.


“Apa?? apa?” tanyaku antusias.


“Bagaimana kalau kamu berikan hadiah termanis untuk Kak Yas, bunga misalnya“ usulnya, yang membuat otakku terbuka.


“Apa??” tanya mereka heboh, menempelkan kepala mereka pada kepalaku.


“Haish ... kalian selalu kepo“ Aku menepis tubuh mereka, menggelikan.


“Yah, pelit amat“ Mereka terlihat kecewa.


“Biarin, sekarang aku mau kerja dulu, kalian pulang sonoh, nanti aku di pecat gara-gara kedatangan kalian“ Aku segera berlalu menjauhi mereka, bersenandung menuju ruangan kerjaku.


“Ya elah, dasar temen gak guna,“ sempat kudengar gerutuan mereka.


“Biarin, daaahhh aku masuk kerja dulu ya“ Aku masih terus melambaikan tangan ke arah mereka.


“Bye!!!” sahut mereka sambil balik badan, menuju luar kantorku.


Aku segera masuk ruangan, setibanya di sana, aku segera menyedukan minuman untuk mereka,


Secangkir koffee dengan satu sendok gula untuk bu Tiyas, secangkir teh untuk Rina, secangkir lemon tea untuk Bu Ida, dan segelas susu untuk Pak Ruben. Ah, iya dan segelas air putih, untuk pimpinan devisi.


Tak lupa juga aku menyirami tanaman lumut milik Bu Ida, mereka semua tampak menyayangiku, menganggapku seperti adik mereka sendiri. Alhamdulillah, meskipun semuanya terasa berat di awal, tapi ketika aku sudah menjalaninya, aku merasa damai bekerja disini.


Sore setelah pulang kerja, aku berjalan-jalan menuju minimarket, mencari sesuatu yang menurutku bisa meluluhkan hati Kak Yas, aku tau aku yang salah, karena terlalu emosi.


Entahlah, jiwa mudaku yang menggebu ini selalu meronta-ronta. Aku sungguh merasa bersalah, ketika aku tidak sengaja memukul wajah Kak Yas. Haish ... aku bahkan sampai tak bisa tidur karena memikirkannya.


“Nah ini dia!!” Aku menemukan sebungkus permen kapas dekat meja kasier, aku segera mendekatinya dan membelinya.


“Buat pacarnya ya Kak??” Kasier minimarket yang berbadan langsing itu menyapaku.


“Bukan, ini buat istri“ jawabku bangga.


“Hah? istri???” Kasier tersentak kaget.


“Iya“ jawabku meyakinkan.


“Oh, ya sudah, terimaksih sudah berbelanja di toko kami“ Kasier tersenyum manggut, dan membungkukkan tubuhnya.


“Sama-sama” jawabku sambil keluar dari minimarket.


Keluar dari minimarket, aku menuju parkiran, dan menaiki motorku, dengan permen kapas di tangan.


“Bissmillah, semoga Kak Yas suka“ gumamku, sambil tersenyum dan bersenandung.


Bersambung .....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ....