
Dengan susah payah, aku mengangkat tubuh Zain menuju ranjang.
“Huh!! berat juga ni anak!!” dengan napas tersenggal akhirnya aku bisa menggeret tubuh Zain hingga keatas ranjang.
“Nyusahin tau gak??!!” Aku masih menggerutu.
Kubiarkan tubuh Zain tergeletak begitu saja di atas kasur, sementara aku bolak-balik, mondar-mandir menungguinya siuman.
“Zaiiinnn sadar dong” ku gosokkan minyak angin didahinya, sambil menepuk-nepuk pipinya pelan.
“Eeennggh ... “ Zain mengerjap, sadar juga dia rupanya.
“Zain??” kuperhatikan wajah imutnya.
“Kakak!!! Aku akan jadi Ayah Kakak!!” Zain kembali melonjak setelah beberapa saat terdiam untuk mengumpulkan nyawanya.
“I iya” aku sedikit kaget, dengan gerakan ekstranya. Yang tiba-tiba saja memelukku erat, hingga terasa sesak di dadaku.
“Zaiinnn udah, aku sesek ini” Ku peringatkan si Bocah agar bisa sedikit tenang.
“Kakak, aku begitu bahagia” lagi, kata yang sama terlontar dari bibirnya.
“Iya, aku tau” Aku tersenyum menatapnya, dia begitu antusias menyambut kedatangan calon anaknya.
“Terimakasih Kakak” Cup ... cup ... cup ... Dia menghujaniku dengan ciuman, tak lama setelahnya kami berpelukan. Akhirnya aku sungguh sungguh hamil, ini sungguh anugrah dari yang maha kuasa, kami teramat bersyukur.
Pagi hari ...
Aku mengerjapkan mataku. “Enngghh ... “ Aku menggeliat, kurasakan perutku terasa berat, ada tangan yang tengah memelukku erat.
“Zain, bangun, udah jam berapa ini??” Aku meraih jam bekker yang ada di atas nakas di samping ranjangku.
“Jam lima pagi Zain, bangun” Aku melepaskan tangan Zain, sambil mengguncang tangannya.
“Emmhh ... bentar lagi Kak” Zain merajuk, sambil mengeratkan pelukannya.
“Zain, awas, aku mau bangun” Ku lepaskan tangan Zain secara paksa, kalau gak dipaksa kayak gini, mana mau dia melepaskannya dengan sukarela.
Kusibakkan selimut yang menggulung tubuhku, lalu beranjak bangun menuju kamar mandi. Tapi, baru saja aku tiba di kamar mandi, rasa mual itu kembali mendominasi.
“Huueeekkk ... hhuuueeekkk ...” ingin rasanya aku memuntahkan semua isi perutku, tapi lagi-lagi yang keluar hanya cairan bening lagi.
“Kakak, Kakak kenapa??” Zain datang menghampiriku, mencoba mengurut tengkukku.
“Mual, gak enak banget rasanya” jawabku, sambil berlinang airmata. Rasanya sungguh tidak nyaman.
“Kakak, kita ke Dokter aja ya” pintanya, terlihat gurat khawatir di wajahnya.
“Aku gak apa-apa Zain,“ Aku menggeleng.
“Tapi wajah Kakak pucat banget lho” Zain duduk di lantai kamar mandi menatap wajahku lekat, terus mengurut tengkukku. Beberapa saat, rasa mual itu mulai mereda.
“Aku udah gak apa-apa Zain, aku mau wudhu dulu, mau shalat” Aku berdiri, mendekati keran untuk berwudhu.
“Kita shalat bareng Kakak” Zain menungguiku berwudhu, setelah selesai kami melaksanakan shalat berjama’ah, banyak do’a yang di rafalkan Zain dan aku mengamininya.
Selesai shalat berjamaah, aku membereskan kasur, lalu lanjut beres-beres rumah. Sementara Zain langsung mandi, siap-siap untuk berangkat kerja.
“Zain, maaf aku gak bisa masakin sarapan pagi ini buat kamu, aku mual ketika mencium bau minyak dan bawang” sungguh tadi aku sudah mencoba masuk dapur, tapi ketika memotong bawang, rasa mual itu semakin menjadi. Jadi kuputuskan untuk tidak memasak saja. Suamiku pasti mengerti aku kan??.
“Tidak apa-apa Kakak” Zain mengusap kepalaku “Aku bisa makan bubur nanti di kantor” lanjutnya.
“Makasih Zain, karena sudah mau mengerti kondisiku” ucapku, dan Zain mengangguk.
Aku kemudian beranjak menuju luar kamar, berniat menyapu ruang tengah, setelah menyiapkan baju untuk Zain.
Dengan menahan rasa mual dan agak sedikit pusing yang menyerang kepala, aku melanjutkan menyapu sampai keteras luar.
“Kakak!! aurat!!! Jangan di umbar!!” teriakan itu membuatku terlonjak.
“Apa sih Zain?? Kamu membuatku kaget” Kuputar tubuh untuk menatap orang yang berteriak.
“Kakak, kalau mau keluar harus pake kerudung, itu aurat Kakak” Zain menunjuk kepalaku, yang memang aku lupa mengenakannya. Kini, aku hanya menggunakan daster rumahan tanpa hijab. Bukan sengaja, aku sungguh lupa. Karena tadi keasyikan nyapu.
“Kakak! pakai dulu kerudungnya, malah di terusin” lagi teriakannya begitu mengganggu.
“Apa sih Zain?? Ini dikit lagi, lagian juga gak ada orang kok” jawabku tak mau kalah, sambil celingukan memperhatikan sekitar, jalanan masih sangat sepi kok.
“Ya tetep aja Kakak, gimana kalau tiba-tiba si Mamang sayur lewat?? Gimana kalau tiba-tiba si Mamang tukang sampah lewat??” Zain mulai berapi-api.
“Apa sih?? Kamu lebay banget” Aku tak mau kalah.
“Lebay?? Ya ampuunn Kakak susah banget di bilangin sih?” Zain mengacak rambutnya.
Kenapa dia?? Tiba-tiba so dewasa kayak gituh??.
“Kayak gitu aja di permasalahin” Aku melempar sapu, lalu berlalu memasuki rumah, kemudian masuk kedalam kamar. Duduk ditepi ranjang. Entahlah, tiba-tiba saja aku tidak ingin lagi mendengarkan suara Zain. Mataku mulai berkaca-kaca.
“Kakak, jangan marah dong, akukan cuman gak mau orang lain liat aurat Kakak, hanya aku yang boleh melihatnya, suami Kakak” Zain menyentuh bahuku, tapi aku masih enggan bicara. Rasanya kesel banget. Padahal aku sadar betul, apa yang di katakannya adalah kebenaran.
“Kakak, maafin aku yaaa” Zain menatap mataku.
Aku masih diam. Zain menghela napas berat.
“Maafin aku, yah yah??” Zain terus menatap wajahku, sambil berlenggak lenggok, aku menahan tawa. Tapi aku gengsi, ku pertahankan egoku. Aku tetap diam.
“Muach ... muach ... muach ...” Zain menghujani wajahku dengan ciumannya.
Aku tetap diam.
“Kakak!!! Jangan diam terus, nanti Kakak kangen sama aku!!” ancamnya sambil memelukku erat.
“Awas!! Engap tau” Aku masih merajuk.
“Kalau Kakak ngambek terus aku gelitikin” lagi ancamannya sungguh kekanakkan.
“Bodo“ jawabku asal.
“Bener ya” Zain mengamangkan tangannya, bersiap menggelitikiku.
Aku tetap diam, dan benar ancaman Zain, dia menggelitikiku, hingga aku kegelian.
“Zain udah” Aku mulai terbahak.
“Maafin aku gak??” ucapnya dengan tangan masih terus menggelitikiku.
“Iya, udah aku maafin!” teriakku sambil tertawa.
“Jangan sekali-kali lagi ngambek sama suami, dosa” masih sambil gelitikin aku, dia terus berujar.
“Ampuuunnn, udah” tidak tahan dengan perlakuan Zain, aku mulai terpingkal-pingkal.
“Aku gak akan ngambek lagi, janji” Ku acungkan dua jariku, tanda berjanji.
“Gak, sebelum Kakak menebusnya”
“Apppaaaa???”
“Iya, cium disini, disini, dan disini”
“Ck, dasar suami gak ada akhlak”
“Ayoooo, mau atau aku lanjutin glitikinnya??”
“Iyaaaa, muach ... muach ... muach ....”
Bersambung .............
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ............... jempolnya jangan di gunain cuman buat ngehujat, dan ngatain author terus dong, sekali kali berikan juga like, komentar, bintang lima dan votenya juga. Biar author terus tahan banting kalau dikatain readers.
Follow juga akun IG author yaaa ( Teteh_neng2020)
Makasiiihhhh .......................