TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Hari H


Hari H ...


Akhirnya acara yang di tunggu-tunggu tiba, aku dan Zain bersanding di atas pelaminan, bak raja dan ratu. Dulu, aku melihat si Udin dan Zanet yang bersanding di pelaminan seperti ini, malam itu aku begitu kecewa, tapi hari ini, aku begitu bahagia, benar apa yang menjadi janji Allah, Allah mengambil sesuatu yang menurutku baik hingga aku kecewa, untuk di ganti lagi dengan yang lebih baik. Zain suamiku.


Pada akhirnya resepsi dengan gaya modernlah yang menjadi pilihan para orangtua, setelah perdebatan sengit yang tiada ujung, antara harus menggunakan adat jawa atau sunda, akhirnya kedua Mamah mengalah, dan mengambil jalan tengah, dengan pilihan jatuh pada gaya modern.


Aku menggunakan gaun pink peach warna kesukaanku, dengan payet bertabur sana sini, dengan hijab pashmina yang meski tidak panjang, tapi menutupi dadaku. Mahkota kecil berwarna silver bertengger di atas kepalaku.


Sementara Zain, menggunakan tuxedo dengan warna senada dengan gaun yang ku gunakan, aduduh ... guantengnya suamiku ini, makin imut dengan warna pink peach, meskipun sebelumnya warna ini menjadi bahan perdebatan kami juga, katanya warna pink itu kurang laki banget, dih ... sudah merasa jadi pria perkasa dia, ck. Lalu apa kabar dengan bokser doraemonnya?? Tau gak?? Dia masih sering banget pake itu lho. He ...


Ratusan kali kami berganti gaya ketika berfoto, baru setengah acara rasanya aku sudah begitu lelah, kakiku rasanya sudah sangat keram, karena terlalu lama berdiri dengan sepatu hak tinggi. Sementara Zain, dia sangat asyik dengan acara ini, dia terlihat sangat menikmatinya.


“Kak senyum dong” pinta Zain saat entah yang keberapa ratus kalinya Fotoghrafer memerintahku untuk kembali berganti gaya.


“Iya, ini udah senyum kok” bisikku.


“Kak, acara ini hanya sekali dalam seumur hidup lho” bisiknya lagi.


“Iya!” jawabku.


Fotoghrafer kembali mengarahkan aku untuk ganti pose,


“Haduh, pegel banget ni kaki” Aku berjongkok, membenahi sepatuku, rasanya kakiku lecet.


“Arjuna??” suara itu, aku mengenalnya.


“Arjuna ireng bhhaaaa” tawa itu, aku juga mengenalnya.


Aku segera kembali berdiri, untuk menyambut mereka, terlihat dua sahabat Zain sedang tertawa terbahak sambil menunjuk wajah Zain. Zain ikutan tertawa lepas, kemudian mereka berpelukan, aku tersenyum melihat keakraban mereka, meski dalam hati agak ketar ketir, takut mereka membuat suasana jadi kacau, yah ... secara mereka kan hobynya bikin ulah.


“Kakak cantik selamat yaaa” mereka bergantian menyalamiku.


“Zaiiiinnn!! selamat yaaa” tiba-tiba dari kejauhan segerombol orang melambaikan tangannya pada Zain.


“Pak Ruben!” Zain balas melambaikan tangannya.


“Oh, mungkin itu teman kerja Zain yang sering di ceritakannya” Aku tersenyum memanggutkan kepala.


“Jahat kamu Zain!! Aku fikir kamu belum menikah!!” perempuan berkacamata memukul tangan Zain dengan tas kecilnya, sambil memajukan bibirnya.


Ish ... aku tidak suka itu.


“Eeehhheee .... “ Zain garuk-garuk, kebiasaan emang dia mah suka begitu,


“Zain, kenapa kamu mendahuluiku??” kini perempuan langsing yang masih agak muda menghentakkan kakinya di hadapan kami, lalu menyalami Zain.


Ish ... aku juga tidak suka dia, dandanannya menor banget, di kantor dia juga pasti kegatelan sama Zain.


“Zain, bolehkah kami menyumbangkan lagu??” kini perempuan montok yang bertanya, dia terlihat agak sedikit kalem.


“Aaaaaaaa menyenangkan!!” teriak mereka kompak, lalu langsung menuju panggung, mengusir penyanyi asli, lalu di gantikan oleh mereka.


“Zain?? Kenapa teman-temanmu pengacau semua??” bisikku, aku fikir Imam dan Budilah yang akan jadi pengacau, ternyata malah teman-teman kantornya Zain, sementara Imam dan Budi sedang asyik mencoba seluruh makanan yang tersaji, sambil menggoda para gadis. Ish, mereka emang dasar!.


“Eeehhheee, maaf Kak” Zain balas berbisik padaku.


Beberapa saat aku dan seluruh undangan sempat terpaku dengan segala kerusuhan yang mereka lakukan di acaraku, tiba-tiba saja gelak tawa memenuhi ruangan gedung ini.


Bagaimana kami tidak merasa terhibur??


Paduan suara cempreng, datar, sumbang, dengan genre berbagai macam, ada pop, dangdut dan seriosa, menjadi satu. Teman-teman Zain sungguh menjadi hiburan tersendiri bagi seluruh undangan kami.


Setelah mereka turun dari panggung, aku kembali bersalaman dengan tamu undangan yang tak ada habisnya,


“Zain, aku sudah lelah” Aku kembali berbisik pada Zain.


“Iya Kakak, aku ingin cepat-cepat malam saja” Bisik Zain menatapku sambil menaik turunkan alisnya, dengan senyuma mesumnya. Ish ...


“Zain, aku mau pipis dulu” kataku sambil mengangkat ujung gaun yang kugunakan.


“Aku antar kak” tawar Zain.


“Gak usah Zain, aku bisa sendiri” jawabku.


Grrreeeepppp ...


Tiba-tiba Zain memangku tubuhku, yang di balut oleh gaun super ribet itu.


Sontak semua tamu undangan menatap kami, dan menyoraki kami, hingga wajahku memerah


“Hhhuuuuuuhhhhh ...”


“Ciiieeeeeee ...”


“Eekkkkhhheeemmm ...”


Dan segala teriakan lainnya,


“Zain, turunin aku, aku malu” bisikku sambil menutupi wajahku


“Tenang Kak, gak usah malu, mulai sekarang, kemanapun Kakak akan pergi aku tak gendong” jawab Zain terkekeh.


Di dalam gendongan Zain, aku memejamkan mataku, rasanya hari ini aku sungguh menjadi ratu, ratu yang bertahta di dalam hati Zain suamiku. Bisa menjadi istri zain, adalah sebuah kebahagiaan yang tiada tara bagiku. Aku bahkan merasa malu, dulu waktu pertama kali menikah dengan Zain, entah berapa puluh kali fikiran ingin berpisah darinya terlintas dari fikiranku, Benar memang, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah, tapi apa yang baik menurut Allah, sudah tentu baik bagi kita. Kini aku akan mencoba terus mengikuti scenario Allah dengan ikhlas.


Bersambung ..........


Jangan lupa kasih Kakak Yas dan Dede Zain Kado pernikahan yaaaa.... dengan cara like, komen, bintang lima dan vote sebanyak banyaknya............ Dede Zain tunggu ya readers ............