
“Kakak, tungguin Zain Kakak, maafin Zain“ teriaknya sambil terus mengekoriku dari belakang, sementara aku dengan amarah yang membuncah, terus berjalan tanpa mempedulikan panggilannya, rumah tanggaku memang tidak sehat, ini tidak benar, aku harus segera mengatakannya pada mertuaku, dan juga pada Om dan Tanteku. Mereka ikut andil dalam sebuah pernikahan yang menjadikan hidupku sekacau sekarang.
“Suamiku, tunggu!“ terdengar suara teriakan perempuan yang membuat langkahku menjadi kaku, terdengar teriakan itu semakin mendekati kami.
“Zain, tunggu aku, ini bekal makan siang buat kamu,“ terlihat seorang gadis dengan rok selutut, bergelayut manja di lengan Zain, sambil menyodorkan kotak makanan berwarna pink, yang entah isinya apa.
“Apa apaan sih?? Aku gak mau,“ Zain menepis tangan gadis itu.
“Zain, kamu kenapa sih? Gak pernah ngelihat aku? Aku kurang apa coba?” tanyanya dengan suara yang lebih manja lagi.
“Iiiiiihhhh ... lepaaassss!!“ Zain mencoba menghempaskan pelukan tangan gadis dengan suara seksi itu.
Tak ingin melihat adegan selanjutnya, aku segera melangkahkan kakiku menuju parkiran, bersiap memasuki mobilku.
“Kakak, tunggu Zain, maafin Zain, Kakak jangan marah!!!“ kembali terdengar suara itu lagi, suara yang akhir - akhir ini membuatku jengkel.
“Kakak, Kakaknya Zain ya?? Kakak, restui hubungan kami ya, aku mau Zain jadi suamiku nanti,“ suara gadis itu tambah membuat hatiku kacau, rasanya ingin menangis, tapi masa iya harus nangis guling - guling disini??.
“Iiiihhh ... Alice, jangan ngomong gitu, ini bukan Kakak aku, Kak Yas ini ...”
“Zain masuk mobil!!!!” teriakku yang membuat Zain tersentak kaget, dan langsung masuk kedalam mobil.
“Kamu!! Kamu masih kecil, ngapain kamu bicara soal pernikahan, sana belajar yang bener!!” sentakku pada gadis ganjen dihadapanku ini. Yang membuatnya langsung menunduk.
Aku memasuki mobil, dengan perasaan yang berkecamuk, teriknya mentari membuat kondisiku semakin memanas, aku memasuki mobilku lalu mengendarainya.
Hening, itu yang terjadi didalam mobil ini, aku hanya terdiam membisu, tahu 'kan? Jika perempuan sudah diam, itu artinya, ngambek, kesel, jengkel, dan ada perasaan lain yang sulit di jelaskan.
“Kakak ...” suara Zain memecah keheningan.
“Diam!!!” bentakku, yang membuatnya tertunduk.
Hanya kata itu, dan keadaan kembali hening,
Setibanya di depan rumah, aku langsung keluar dari dalam mobil, dan langsung memasuki rumah, ku lihat dengan ekor mataku, Zain merunduk dan gemetaran sambil mengikutiku dari belakang.
“Duduk!!!” perintahku.
Zain duduk dikursi yang aku tunjuk, aku menghela napas dalam, “Kenapa kamu melakukan semua ini Zain??” tanyaku pada pria dihadapanku.
“Ma maaf Kak,“ jawabnya semakin gemetaran.
“Aku gak butuh maaf dari kamu Zain, aku akan menelpon Mamah kamu, biar untuk sementara kamu tinggal di rumah orangtua kamu aja dulu“ putusku akhirnya, setelah kurasa, rasa - rasanya aku tidak sanggup lagi mempertahankan rumah tanggaku ini.
“Kakak, jangan, Zain mohon, Zain janji, Zain tidak akan mengulanginya lagi“ Zain berusaha merebut handphone yang tengah kupegang, yang sudah siap untuk memanggil mertuaku.
“Tidak bisa Zain, kamu harus pulang!“ Aku yang sudah menyerah tak mau mendengar lagi suara Zain yang mengiba.
“Kakak, aku bersumpah, aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji!!“ Teriaknya sambil berlutut, “Aku akan menggit lidahku hingga berdarah Kakak, lihat aku, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi, asal jangan bilang semua yang terjadi kepada Mamah dan Papah, jangan pulangkan aku Kakak“ rajuknya lagi, sambil menggigit lidahnya, dengan kedua tangan yang mengacung khas orang memohon.
“Ish ... apaan sih Zain,“ melihat tingkahnya, mendadak aku ingin tersenyum.
“Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu, tapi janji ya Zain jangan mengulanginya lagi“ putusku akhirnya, sambil berlalu masuk ke dalam kamar, kemudian merebahkan diriku dikasur kesayanganku.
‘Ya Allah, apa yang sudah kuperbuat ini, sudah benar apa belum ya??’
***
Aku terbangun kala mendengar suara ribut - ribut dari arah dapur, aku ternyata ketiduran, ku gerakkan tubuhku yang terasa ngilu, aku menggeliat, meregangkan tubuhku yang terasa lelah. Aku menyibakkan selimut, kemudian turun dari ranjang, tanpa menggunakan hijab, aku berjalan menuju dapur, memastikan tidak terjadi apa - apa di ruangan tempatku bereksperimen tersebut.
Aku berjalan mengendap - endap, takutnya ada maling yang singgah dirumahku. Setelah tiba di dapur, aku melihat punggung seorang pria yang tak lain adalah punggung suamiku, yang sedang asyik menghadap kompor, entah apa yang dia masak.
“Ehhhheeee ... Kakak, anu“ jawabnya gugup.
“Anu apa?” tanyaku menatapnya lekat, takut dia melakukan sesuatu yang membuatku shock lagi.
“Tttaaarrraaaa ... ini buat Kakak“ tiba - tiba Zain mengangkat mangkuk kehadapanku.
“Apa ini??” Aku mendekat.
“Hah??? Mie?” heranku sambil mengernyitkan dahi.
“Iya, hanya ini yang bisa Zain persembahkan buat Kakak,“ jawabnya sambil tersenyum imut.
“Kenapa memangnya?” tanyaku sambil menarik kursi, lalu duduk menghadap pada semangkuk mie yang sudah tersaji.
“Maafin Zain ya Kak,“ lagi dia mengatakan kata yang sama.
Aku tersenyum menatapnya dalam, kulihat ada ketulusan disana.
“Ini sogokan buat aku??” godaku,
“Zain menyesal Kakak,“ katanya lagi sambil tersenyum lembut.
“Iya, udah aku maafin kok“ jawabku sambil mengaduk mie.
“Enak gak Kak??” tanyanya dengan tatapan penuh harap.
“Mie di mana - mana rasanya kayak ini Zain“ jawabku sambil meniup - niupnya.
“Yang ini harusnya beda Kakak,“ Eh, cemberut dia.
“Kenapa beda?? Apa yang ngebedainnya??” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.
“Ini aku buat dengan sepenuh hati Kakak, aku bahkan menggunakan tutorial dari youtube“ akunya, yang membuatku tersenyum.
“Oya?? Tapi kok biasa aja ya?” jawabku sambil menahan senyum.
“Ish ... Kakak gak lihat, itu“ Zain menunjuk mangkuk yang ada dihadapanku.
Aku melihat mangkuk mie yang sudah ku aduk.
“Ah, iya, ini seperti yang ada di bungkus mienya“ jawabku tersenyum, aku melihat mie yang lengkap dengan segala pretelannya, hanya saja banyak yang berbeda, komposisi yang sama namun bentuk dan rasa yang berbeda. Potongan tomat satu buah, yang hanya di bagi dua, telur yang masih mentah, sawi yang masih ada akarnya, dan kuahnya yang kebanyakan.
Aku harus menghargai kerja keras Zain, setelah ku aduk dan kutiup, lalu kulahap dengan penuh semangat, dan ternyata ...
“Uhukkk uhukkk ...”
“Kakak, kenapa??” tanya Zain sambil menyodorkan minum kearahku.
“Gak apa-apa“ jawabku sambil mengelap ingus yang menjalar dengan punggung tanganku.
“Enakkan Kak??” tanyanya lagi.
“E nak, ya udah aku ke kamar dulu ya, mau mandi, gerah“ jawabku sambil berlalu, meninggalkan Zain yang tengah melongo.
“Kakak, rasanya asiiiiinnnnn ...” sempat kudengar teriakannya, aku hanya tersenyum sambil berlalu, masuk kedalam kamar mandiku, membersihkan diri, dari segala penat yang mendera.
Bersambung..............
Readers, ayo dong, tinggalkan jejaknya, biar author tambah semangat mikirnya....hhheeee