TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Pantun Mas Agus


Sepulang Zain bekerja, setelah makan dia menyelonjorkan kakinya di depan televisi, dia mengalih-alihkan chanel televisi, hingga dia menemukan sebuah chanel yang mempertontonkan acara bola. Sejurus kemudian dia asyik dengan tontonannya. Selesai mencuci piring bekas kami makan, aku langsung mendekati suamiku, duduk di sampingnya sambil mengelus perutku, yang sudah mulai menyembul. Tapi belum ketara.


“Zain??” Aku menyapanya.


Dia menoleh padaku, lalu tersenyum lembut. Ugh ... gemesss ... imanku selalu tergoda, jika dia tersenyum seperti ini. Eh?.


“Apa Kakak??” tiba-tiba dia merebahkan tubuhnya di atas karpet bulu-bulu, dengan berbantal pahaku.


“Aku mau kesalon boleh??” tanyaku. Entahlah, kenapa juga aku jadi kepikiran sama ucapan Tina tadi sore, hanya takut Zain bisa berpaling kelain hati, jika penampilanku tidak semenarik ABG di luaran sanah. Aku harus waspada!!.


“Buat apa Kak??” tanyanya, menautkan kedua alisnya, mungkin bingung dengan pertanyaanku, selama ini mana pernah aku ngurusin dandanan. Terakhir kali dandan bak aktris korea itu waktu datang kenikahan si Udin, sama waktu nikahan aja.


“Gak buat apa-apa, aku cuman mau terlihat cantik aja di mata kamu” jawabku jujur.


“Eeehhheee ... Kakak, mau dandan ataupun enggak, di mata aku Kakak tetap perempuan tercantik kok” Dia mengusap kepalaku lembut.


“Tapi Zain, di kantor kamu pasti banyak banget perempuan cantiknya” Aku merajuk.


“Gak kok, kan Kakak tahu sendiri, temen kerjaku cuman Pak Ruben, dia mah cowok Kak, terus Bu Ida, dia galak, judes, dan gendut, terus Bu Tiyas dia udah agak berumur, palingan yang masih muda itu ada Rina, tapi dia itu terlalu menor, di tambah Rina itukan pacarnya Pak Ruben” jawab Zain menjelaskan.


“Zain?? Apa menurutmu aku sudah Tua??” tanyaku lagi.


“Enggak kok, dimataku, Kakak tetap istriku yang selalu terlihat muda dan cantik” Zain mengelus pipiku pelan ... aaaaaa hati aku meleleh mak.


“Zain?? Apa aku gendut??” kembali teringat ucapan Tina tadi siang, aku sedikit kesal. Entahlah, sebagai perempuan aku merasa sangat sensitive jika di katain gendut.


“Gak kok, Kakak gendut, karena sedang hamil anak aku, anak kita” jawabnya ... aku hanya bisa mengulum senyuman, gak kuat jika terus mendengarkan pengakuan calon papah muda di pangkuanku.


“Beneran??” tanyaku masih ingin meyakinkan.


“Tentu saja” Zain mengangguk.


“Kalau gitu, aku udah gak perlu lagi pergi kesalon dong??” tanyaku lagi.


“Gak perlu Kak, aku akan tetap mencintai Kakak, meski Kakak gak kesalon, seperti apapun Kakak, aku tetap tergila-gila kok sama Kakak” jawabnya lagi yakin.


Aaaaa Zain, aku boleh nyium kamu gak sih?? Sekarang?? Tapi malu, takut ada yang ngiri. Hhee.


Klontang ... klontang ... klontang ...


Seketika kami mengerjap, kala terdengar suara ribut di depan rumah, seperti orang yang sedang memukul pagar.


“Zain apa itu??” Aku menatap Zain, kemudian mencoba berdiri.


“Gak tahu Kak, jangan jangan maling??” tanya Zain balas menatapku, tangannya mencengkram erat tanganku ish ... mesti ini mah, dia ketakutan kalau denger suara kayak gituh. Gak berubah dia. Ck. Gak guna dia dari tadi gombalin aku, kalau ada suara kayak gitu aja dia udah mencengkram tanganku minta perlindungan.


“Kita liat yuk” Aku menuntun tangan Zain menuju luar, mengintip apa yang terjadi, perlahan aku menyibak gorden, lalu mengintipnya, dengan Zain yang berada di balik tubuhku.


“Ada apa Kak??” tanyanya.


“Gak tahu, gak keliatan, tapi kok itu kayak ada orang di depan rumah Tina” jawabku sambil berjinjit memastikan.


“Jangan-jangan malingnya kerumah Tina Kak” Zain ikut berjinjit mengikutiku.


“Gak tahu, liat keluar aja yuk” Aku membuka pintu, memperhatikan keadaan sekitar. Terlihat, tepat di hadapan rumah Tina seorang pria bertubuh jangkung sedang berusaha masuk kedalam rumah.


“Beb ... buka pintunya dong!!” terdengar dia berteriak.


“Loh?? Maling kok manggilnya beb sih?” Zain menegakkan tubuhnya.


“Mana aku tau?? Mungkin itu fansnya Tina” jawabku berbisik, mencoba menajamkan pandanganku di antara lampu remang remang.


“Hush ... kamu tuh kalo ngomong suka gituh” Aku menyikut tangan Zain.


“Ya maaf Kak” Zain dan aku kembali memperhatikan pria tersebut.


“Tina Mas akui, Mas memang jarang perhatian sama kamu, Mas juga bukan pria romantis, tapi tolong, ini buka dulu pagar rumahnya!!” teriaknya lagi.


“Hah??? Mas Agus???” ucapku kompak dengan Zain, kemudian saling bertatapan. Seketika aku menutup mulutku, sementara Zain hanya berdecak, melipat kedua tangannya di dada.


“Dasar suami istri gak ada akhlak, jam segini pada teriak teriak, ganggu orang aja” Zain mendengus kesal sendiri. Sementara aku hanya terkekeh.


Ini, pasti Tina sama Mas Agus lagi perang.


“Ah baiklah Mas akan bacakan pantun buat kamu beb!!” teriak Mas Agus lagi, sambil merentangkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang ponsel. Mungkin dia sedang melihat contekan.


Beli ketela sama si Wulan


Rakit dynamit campur jamu


Aku rela gak makan sebulan


Asal bisa semenit dengan kamu


“Preeeettttt iiieeewww ... “ Zain berlagak mau muntah,


“lebay amat sih” ucap Zain sambil bergidik, sementara aku terus menahan tawa.


Lama, sepertinya tak ada jawaban dari Tina, Mas Agus kembali membacakan pantun berikutnya.


Habis minum kopi


Lalu minum jamu


Dunia ini terasa sepi


Kalo gak ada kamu


Aku semakin terkekeh geli mendengar pantun dari Mas Agus, sementara Zain semakin bergidik.


“Kak ayo masuk rumah, gak penting banget dengerin pantun gak jelas kayak gituh,” Zain menarik tanganku, menuntunku untuk masuk kedalam rumah.


“Ish, sebentar, ini aku mau tau kelanjutannya” Aku menempelkan telunjuk pada bibirku, pertanda Zain tidak boleh mengeluarkan suara.


“Tina, sayang, beb, ini Mas kedinginan di luar!!” teriak Mas Agus lagi, masih berusaha merayu istrinya. Lagian Tina kenapa sih?? Kok bisa suaminya di kunci diluar rumah?.


Tapi, suasana masih sunyi, tak ada tanda tanda kalau Tina akan merespon pantun suaminya.


Terlihat berkali-kali, Mas Agus mendesah, kemudian dia memperhatikan keadaan sekitar, tak lama Mas Agus dengan gagah berani memanjati pagar rumahnya sendiri, dan dia berhasil masuk kedalam rumahnya.


“Ya ellahh ... ngapain capek-capek baca pantun? Kalau ujung-ujungnya masuk rumah sendiri kayak maling??” Zain melengos, kemudian menuntun tanganku untuk masuk kedalam rumah.


Sementara aku masih terkikik, dengan tontonan yang baru saja aku tonton, rasanya lucu sekali, jika melihat tingkah para suami yang lagi di cembeutin istri istrinya. Konyol memang. Dulu kufikir, hanya rumah tanggaku dan Zain saja yang terlihat konyol, ternyata ada juga yang rumah tangganya juga sama sama konyol. Yah ... rumah tangga tetanggaku, Tina dan Mas Agus.


Bersambung .................


Di sini ada readers yang suka berpantun ria juga gak sih??? kalo ada, boleh penuhi kolom komentar dengan pantunan readers juga lho ... hee


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komentar, bintang lima dan vote juga, author tunggu yaaa ... terimakasih