TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Kak Yas Sakit


Hening. Kami saling terdiam selepas kepulangan Cindy tadi, kalau ditanya kenapa aku jadi kaku? jawabannya aku tidak tau, ada banyak hal dikepalaku, ucapan Sarah tadi siang, sikap Cindy tadi sore, atau kelakuan Zain yang gak berubah. Semuanya membuatku pusing.


Aku berdiri, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar, acara makan yang baru setengah jalan, kuputuskan untuk tidak melanjutkannya.


“Kakak, mau kemana??” tanya Zain mengekoriku.


“Mau kekamar, aku mau istirahat, capek“ Jawabku sambil terus berlalu.


“Kak,“ Zain memanggilku, tapi aku sedang tidak berselera berdebat dengan Zain, kuputuskan untuk tetap masuk kamar, menutup pintunya, dan langsung merebahkan diri di ranjang super besar yang ada di kamarku, aku menutup tubuhku dengan selimut, rasa rasanya badanku mulai demam, panas.


“Kak,“ Suara Zain membangunkan aku dari tidurku yang baru beberapa menit, aku tak menjawabnya, malas, malas kenapa??entahlah.


“kak,“ lagi suaranya terdengar, tapi aku masih malas untuk menyahut.


“Kakak, aku masuk kamar ya!!!“ teriaknya, semakin jelas, tapi aku masih tak bergeming, aku merasakan tubuhku kian lemah, suhu tubuh dan suhu hatikupun mulai tak terkendali.


“Kakak, sakit??” Zain meraba keningku, sambil duduk ditepi ranjang, aku tidak menjawabnya.


“Kakak, tubuh Kakak panas banget“ terlihat wajahnya begitu khawatir, ah ... si bocah bisa khawatir juga dia.


“Sebentar“ Zain keluar kamar, tak lama kemudian masuk lagi kedalam kamarku, membawa baskom berisi air.


“Zain, ini apa??” tanyaku memaksakan diri.


“Ini kompresan Kak, sini biar Zain kompres Kakak“ jawabnya sambil menempelkan kain lap di dahiku, seketika ada rasa haru yang menggebu, si bocah ternyata bisa melakukan hal kecil yang menggelitik hatiku.


“Makasih,“ Aku memaksakan untuk tersenyum padanya.


“Iya Kak, sebagai seorang suami, aku harus bertanggung jawab dong“ katanya sambil menepuk dadanya sendiri.


“Hmh, tanggung jawab itu seperti apa???” tanyaku sambil meringis, menahan rasa perih diperutku.


“Ya seperti ini, ngompresin Kakak kalau lagi sakit panas,“ jawabnya polos, aku tersenyum, apapun bentuknya, yang pasti Zain sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap sesama.


“Sebentar Kak,“ Dia kembali keluar, tak lama kemudian kembali, tapi kali ini dengan kotak P3K, dia kembali duduk di tepi ranjangku. Mengerutkan dahinya kala mengecek beberapa obat yang ada disana.


“Nah, ini dia!!!“ teriaknya girang, sambil mengacungkan obat padaku.


“Nih Kak, minum obatnya dulu“ Zain menyodorkan satu tablet obat padaku, beserta air minumnya.


“I ini obat apa Zain?? ini bukan racun kan??” tanyaku ragu, takut dia memberikan obat yang salah.


“Yah Kakak, masa istri sendiri mau aku racun??” jawabnya tergelak.


Akupun ikut tersenyum, sambil menerima obat dan air minum yang diberikan zain, kemudian meminumnya.


“Iya kak, sekarang Kakak istirahat yaaa ...” Zain menyelimuti tubuhku hingga kedada.


“Aku mau kedapur dulu kak“ pamitnya sambil berlalu, sementara aku hanya tersenyum, kemudian tertidur, mungkin karena pengaruh obat yang aku minum.


Treeekkk ... klontang ... tttrreeekkk ... klontang ...


Tak lama aku tidur, terdengar suara berisik dari arah dapur, aku mengerjap.


“Suara apa itu?? Zain mana??” tanyaku dalam hati.


Aku ingin bangun, tapi tubuhku terasa lemah sekali, ingin memanggil Zain, tapi rasanya mulut terkunci. Tak lama kemudian pintu kamarku dibuka, terlihat Zain menghampiriku dengan dengan nampan di tangannya sambil tersenyum.


“Kakak, udah bangun??” tanyanya sambil duduk lagi ditepi ranjang, sambil menaruh nampan yang tadi dia pegang.


“Iya,“ jawabku sambil membenahi posisi tidurku menjadi duduk, Zain membantuku, menyusun bantal dibelakang kepalaku, hingga aku merasa nyaman.


“Kakak, sekarang makan dulu ya“ Dia tersenyum penuh kebanggaan padaku.


“Makan apa Zain??” tanyaku sambil melirik makanan yang di bawa Zain.


“Ini, bubur, ini aku yang masak lho Kak“ jawabnya sambil membusungkan dada.


“O ya??” seketika air mataku hampir saja tumpah, rasa haru, bangga, bahagia bercampur jadi satu, suami bocahku, begitu peduli padaku.


“Ayo makan" Zain menyodorkan mangkuk berisi bubur racikannya, aku menerimanya, kemudian mulai memakannya.


“Uuuuhhuukk ... uuhhuukkk “ tiba-tiba aku tersedak kala merasakan bubur hasil karya Zain.


“Kakak, kenapa??” tanya Zain khawatir.


“Gak apa-apa“ jawabku sambil menyimpan kembali mangkuknya di atas nakas.


“Pasti ada yang gak beres,“ Zain mengambil mangkuknya kemudian memasukkan satu sendok buburnya kedalam mulutnya.


“Wweeekkkk ...” Zain memuntahkan buburnya.


“Kakak, ini masih mentah ... dan asiiiinnnn!!!” Zain berlari keluar untuk memuntahkan semua makanannya, sementara aku hanya tersenyum.


“Dasar bocah ...”


Bersambung................


Readers....jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa....