
Tok... tok ... tok .... ( Suara ketukan pintu )
Krrrriiieettt .... ( Pintu di buka )
“Kakak ... “ Zain menyembulkan kepalanya.
“Apa??” jawabku yang tengah rebahan, merasakan ngilu yang masih menjalar di pipiku.
“Aku punya sesuatu buat Kakak“ terlihat zain menyembunyikan tangan kirinya di belakang punggung.
“Apa??” tanyaku sambil meringis.
“Ttaaarrraaaa!!!” Zain mengeluarkan kejutan yang dia maksud.
“Lagi?? ah, padahal yang kemaren aja belum habis tuh“ Aku menunjukkan permen kapas yang di beli waktu kami bulan madu itu.
“Hish ... jadi Kakak gak mau??” Dia merengut, kemudian membalikkan tubuhnya.
“Eeehhh ... mau, sinih. Duduk di sini“ Aku menepuk kasur tepat di sebelahku.
Dia manut, duduk di sebelahku, dengan permen kapas di tangannya.
“Ini buat aku kan?? makasih ya Zain, kamu perhatian sekali“ Aku meraih permen kapas dari tangan Zain, kemudian menyimpannya di atas nakas.
“Zain,“ panggilku lembut.
“Iya Kak“ Dia menatapku.
“Maafin aku soal masalah kemarin, aku beneran gak berniat nyinggung kamu, apalagi khianatin kamu, aku hanya terbawa suasana, Zainudin bercerita tentang urusan rumah tangganya, aku yang salah Zain“ Aku menunduk, aku tau Zain suamiku, pergi menemui Udin, meski dia sedang dalam keadaan kacau, itu salah.
“Eeemmhhh ... aku juga salah Kak, aku terlalu emosi, hingga Kakak juga harus terluka gara-gara aku, aku minta maaf“ Zain menggeser duduknya, semakin mendekatiku.
“Aku rindu Kakak, maafin aku Kak“ Zain memelukku erat.
“Aku yang salah“
“Aku lebih salah“
“Aku lebiihhh salah Kak“
“Aku lebiihhh salah lagi Zain“
“Aku yang salah“
“Aku!!”
“Aku!!”
“Akuuuuu“ teriakan kami menggema,
Cup, cup, cup, puluhan ciuman menghujani pipiku.
“Ish, Zain“ Aku mendelikkan mataku.
“Eeehhheee ... “ Zain garuk-garuk, dengan tangan masih merengkuhku.
Klotrak, klotrak, klotrak .... ( Suara pintu dibuka paksa)
“Gak tau Kak ... “ Zain ikut celingukan.
“Apa mungkin maling ya??”
Aku bangkit, kemudian berjalan mengendap-endap, dengan kemoceng di tangan, di ikuti Zain yang memegang ujung dasterku di belakangku.
“Ish ... Zain, bukankah seharusnya kamu yang ada di depanku??” tanyaku menghentikan langkah.
“Eeehhheee ... Kakak aja yang di depan, ladies first" Zain garuk-garuk.
“Ish ... bilang aja kalau kamu takut“ Aku mendelik, kemudian melajukan langkahku, berjalan mengendap-endap, seperti detektif yang sedang mencari barbuk.
“Kakak, jangan-jangan beneran maling ...” Zain berbisik.
“Ssssstttt ... “ Aku membentikan jari di antara kedua bibirku.
“Kakak, aku takut,“ Zain mencengkram pinggangku, kulihat lututnya bergetar.
Ish, gini ni, nasib jadi perempuan perkasa, Zain tidak bisa di andalkan jika menghadapi situasi seperti ini, dia ketakutan.
“Zain bukankah kamu senang berkelahi?? Tapi kenapa kamu takut hanya karena mendengar suara“ Aku mengerutkan dahi, bukankah Zain sangat suka berkelahi??.
“Kakak, aku hanya ingin pipis, udah gak tahan ini“ Zain memegang benda di antara selangkangannya.
“Ish, jorok“ Aku memutar kedua bola mataku.
Aku terus berjalan mengendap-endap, hingga tiba di depan pintu, dengan posisi yang sama.
Ceklek ... pintu aku buka,
“Yasmin!!!”
“Mamah??? Papah???” Aku tersentak kaget, kala kulihat ternyata kedua orangtuaku tengah berdiri di depan pintu.
“Kamu apa kabar nak??” Mamah merentangkan kedua tangannya, memelukku erat,
“Aku sangat merindukan Mamah dan Papah“ Aku menangis terisak, aku begitu merindukan kedua orangtuaku yang amat jarang menjumpaiku.
“Siapa dia??? kenapa ada laki-laki muda di rumah ini? Yas? apa kamu telah melakukan sesuatu yang salah??” tiba-tiba Papah segera menyadari keberadaan Zain.
“Eemmmhhh ... Papah, dia Zain, Zain ini Papah dan Mamahku“ Aku berusaha memperkenalkan mereka.
Mereka bersalaman, Papah menatap Zain dengan tatapan membunuh.
“Kenapa kamu bisa ada di rumah saya??” tanya Papah dengan wajah perangnya.
“Sa sayaaa ... “ Zain gugup, sambil terus memegang selangkangannya.
“Pah, Zain suamiku“ jelasku.
“Appppaaaaa??!!!!!!” Mamah dan Papah kompak histeris.
Bersambung .................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys ..........