
Lama berjalan dengan di apit oleh satu orang perempuan yang cerewet, dan satu orang laki-laki yang tengah cemberut. Membuatku merasa tidak nyaman.
Sementara itu Tina terus nyerocos menceritakan kehidupannya dan suaminya. Dan aku hanya bisa mengiyakan saja.
“Mas Agus itu kerja suka gak tau waktu Kak, bahkan di hari libur saja dia masih suka bekerja, aku jadi gak punya temen dirumah” ucap Tina masih dengan setia menggandeng tangan sebelah kananku. Sementara di sebelah kiri, yang lagi cemberut hanya berjalan mensejajari kami.
“O ya??” jawabku asal.
“Iya Kak, kadang suka pulang tengah malam juga, makanya lain kali boleh ya kalau aku nginep di rumah Kak Yas??” tanyanya.
“Enggak!” jawab yang lagi cemberut tegas, membuat kami terlonjak.
“Zain??” Aku menatapnya merasa tidak enak pada Tina.
“Boleh kok” jawabku tersenyum.
“Beneran ya Kak?” Tina begitu sumringah.
“iya” jawabku tersenyum sambil mengangguk.
Jalan-jalan hari minggu ini, sungguh sangat membingungkan bagiku, karena aku harus meladeni dua makhluk yang berbeda suasana hati, yang satu ceria, dan yang satu murung. Cemberut dan ngambek.
Tiba di depan rumah, aku dan Tina berpisah. Tina melepaskan tangannya dari tanganku, setelah berpamitan dia menuju rumahnya. Dan aku menuju rumahku, dengan digiring oleh orang yang lagi ngambek.
Zain berjalan tanpa menoleh kearahku, dia masuk kedalam kamar, lalu masuk kedalam kamar mandi. Mungkin dia mau bersih-bersih.
Aku menungguinya, dengan duduk ditepi ranjang. Selang beberapa menit, Zain keluar dari kamar mandi, masih dengan wajah ditekuk.
“Zain” sapaku, tapi dia malah melengos, ketara sekali wajah juteknya, tapi tidak mengurangi keimutannya.
“Kakak, sudah berapa kali kuperingatkan! Jangan berani-beraninya menemani orang lain kalau lagi ada aku” Dia duduk di pinggir ranjang sambil melipat tangannya.
“Maaf Zain, terus aku harus gimana?? Aku gak enak sama Tina” jawabku.
“Aku gak peduli” jawabnya masih dengan bibir yang di majukan kedepan. Boleh di cium gak sih?? Gemessss.
“Kakak, mau gak aku izinin pergi ketoko kue lagi??” Ancamnya. Lagi-lagi dia mengancamku dengan hal yang sama, ck, dia tau kelemahanku.
“Yah, kamu ancamannya gitu terus Zain??” Aku memalingkan wajah, merasa jengkel juga.
“Terus Kakak mau hukuman apa dariku??” Dia menatapku dengan tatapan yang ... ah ... taukan??? Mesum mak.
Dia menggeser tubuhnya kesampingku.
“Za Zain ... ini masih siang” Aku berusaha menolak, haduuuhhh ... tadi aku menghindari kejadian ini habis-habisan, sekarang kenapa malah jadi gini sih?? Aku sudah tidak bisa berkelit lagi.
“Lalu??” tanyanya, tangannya sudah mulai tak bisa di kondisikan.
“Eemmhh ... tunggu nanti malam yah” Aku berusaha negosiasi lagi. Aku sama Zain udah kayak pemilik warung sama pembeli, tiap hari harus adu tawar mulu, adaaa aja yang harus di negosiasi.
“Sekarang?? Atau Kakak gak boleh keluar rumah??” Ancamnya, ancaman apalagi itu?? Ck, ini tidak adil.
“Ta tapi ...”
“Aku perlu matiin lampu gak??” tanyanya.
“Gak perlu, matiin lampu atau gak sama aja kok, ini kan masih siang” aku mendengus kesal sendiri.
“Ehheee aku sayang sama Kakak” Cih, ngerayu dia, karena lagi ada maunya.
Mau tidak mau akhirnya aku menjalankan sunnah rasul di siang bolong, punya suami mesum jadinya kayak gini nih, gak tau waktu. Ck.
Bersambung .................
karena banyak yang minta double up, author double up yaaa, yah meskipun dukungan untuk buku ini masih begitulah, hhee...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, terus dukung author dengan cara .... vote, like, komentar, dan bintang limanya ya readers ....
Oh iya, terimakasih banyak untk Kakak2 yang sudah memberikan vote koinnya, author sangat senang menerimanya, semoga kakak2 di beri rizky yang banyak dan selalu di berkahi Allah yaaaa ... .....