
Aku masih menunggui Zain dirumah sakit, Zain masih terbaring lemah dengan kaki yang masih membengkak, rasa iba semakin menyelimuti hatiku, aku tau Zain hanya berpura-pura kuat, agar tidak membuat kami khawatir, sesungguhnya Zain sangat sedih dengan kenyataan yang dia terima, yah ... aku pernah melihat Zain menangis dengan memeluk lutut, ketika aku pulang dari kantin rumah sakit.
Aku harus menghibur Zain, tapi entah apa yang harus kulakukan, agar kesedihannya bisa berkurang.
Ah, iya, hari dimana Zain kecelakaan 'kan bertepatan dengan hari ulang tahunnya, aku melupakan itu, bahkan kue tart ulang tahun Zain, entah bagaimana kabarnya setelah aku lempar.
Apa aku merayakan ulang tahun Zain sekarang ya?? baiklah, akan kubuatkan kejutan kecil buat Zain, agar dia tidak terlalu sedih.
Aku segera menelpon Sarah, agar mengirimkan kue tart ulang tahun buat Zain, lengkap dengan lilinnya.
Tak lama kemudian, pesananku datang, kue tart dengan banyak coklat, sudah ditanganku, lengkap dengan lilin angka delapan belasnya, sekarang aku memikirkan bagaimana cara aku memberikan kejutannya buat Zain. Lama aku berfikir, akhirnya aku mendapatkan ide.
Aku mengendap-endap memasuki ruangan tempat Zain dirawat, kulihat dia masih tertidur pulas, karena baru saja Dokter menyuntikkan sesuatu kedalam infuse an Zain. Aku harus menunggunya hingga Zain terbangun dengan sendirinya.
Sambil menunggu Zain, aku membuka google untuk mencari insfirasi, tapi masih buntu, semua cara rasanya tidak romantis dan agak berlebihan. Eh, sebentar, kenapa aku memikirkan sesuatu yang romantis untuk Zain ya??? ck, ada-ada aja.
"Oke Yas, tarik napas, buang, tarik napas, buang. Huft".
Akhirnya aku mematikan lampu ruangan Zain, kemudian menyalakan lilin-lilin yang tadi sempat aku beli sendiri, kemudian menyimpan lilin angka delapan belas di atas kue, dan menyalakannya.
Menurut perkiraan, sebentar lagi Zain akan terbangun, dan setelah kumatikan lampu ...
“Kakak!!!“
Tuh kan dia bangun, dia kan takut kegelapan, jadi pasti akan langsung bangun jika lampu penerangan mati. Ck bocah, emang deh.
“Kakak,“ Zain kembali memanggilku, lalu dia membenahi dirinya, dari tidur menjadi duduk, dia celingukan, mungkin baru menyadari jika di sekelilingnya sudah banyak lilin yang menyala, dari cahaya remang aku melihat Zain mengerjapkan matanya berkali-kali, mungkin masih bingung, ya maklumlah, orang baru bangun tidur, kadang suka linglung.
Aku maju mendekati Zain, dengan kue tart di tangan, dengan lilin angka delapan belas yang menyala,
“Happy birthday Zain, happy birthday Zain,“ Aku terus menyanyikan lagu selamat ulang tahun, sementara Zain hanya melongo melihatku.
“Kakak,“ sentaknya, ck, baru sadar dia dengan kejutan dariku.
“Selamat ulang tahun ya Zain, semoga panjang umur, sehat selalu, dan segera bisa menjadi suami yang baik“ kataku, mengucapkan do'a pada Zain, sambil menyodorkan kue untuk meniup lilinnya.
“Kakak, terimakasih, aku sangat senang, Kakak mengingat ulang tahunku“ terlihat wajah Zain begitu terharu.
“Iya, sama-sama, sekarang tiup dulu lilinnya ya“ Aku kembali menyodorkan kue tart yang kupegang.
“Hmh“ Aku menjawab dengan hati yang was-was, suasana ini ... aaawwww ...
“Kakak, aku ... aku ...” suara Zain terbata wajahnya kian mendekat pada wajahku, hingga kurasa napasnya menerpa wajahku.
“Za zain, “ Akupun terbata.
“Kakak, aku ...” Suara Zain makin terbata, tangannya kian bergetar memegang tanganku, hidungnya sudah mulai mendekati hidungku.
“Ya ampun, inikah moment itu???” hatiku bergemuruh hebat, jantungku berdebar tak karuan.
Wajah kami semakin dekat, di antara remang -remang cahaya lilin, aku bisa melihat Zain menutup matanya, ah ... tidak!! Bibir Zain juga semakin mendekat pada bibirku, apa yang harus kulakukan??!!!
Dan ...
“Zain!!!! Taaaarrrrrraaaaaa!!!!!”
Cetrek ... lampu menyala
“Aaaaaaaaaaaaa ....” refleks aku berteriak sambil mendorong wajah Zain.
“Bhaaaaaaaa!!!!“ tawa itu aku mengenalnya, aku memutar tubuhku, dan tampaklah dua ultaramen cosmos yang kala itu pernah datang membantu Zain untuk memukul si Udin.
“Kaliiiaaaaaannnnnn!!!” ku dengar Zain berteriak, tapi kenapa suaranya agak jauh ya??.
Aku memutar tubuhku “Astagfirullah, Zain!!!”
Aku menutup mulutku yang menganga tak percaya, atas apa yang tak sengaja kulakukan.
Zain, sedang terlentang di bawah ranjang, dengan wajah di penuhi kue tart.
“Zain maafkan aku!!!”
Bersambung................
Hay readers, jangan lupa dukungannya yes,