
Bulan sempurna indah di atas sana, menggantung, menggelayut di antara ribuan gemerlap bintang. Seperti malam kemarin, keindahan malam di tempat ini membuatku terpesona.
Setelah mandi, aku kembali mengobrak-abrik koperku, aku mencari pakaian yang bisa aku gunakan untuk pergi dengan Zain malam ini. Yah dia mengajakku pergi keluar, untuk jalan-jalan.
Ah ... jujur, aku sudah membayangkan, aku bisa berjalan-jalan romantic, dengan panorama indah tempat ini.
Aku mengambil satu setel baju, baju pemberian Zain waktu itu, satu-satunya benda yang di berikan Zain, dengan uang hasil kerja kerasnya. Aku bangga bisa menggunakannya.
Ku rentangkan baju berwarna pink peach tersebut, lalu ku kenakan, lalu aku berlenggak lenggok, di depan cermin, lalu memperagakan ketika nanti Zain, mengajakku berdansa “Ish, menggelikan, hhii“ Aku terkekeh.
Sementara Zain, masih mandi. Aku memoles wajahku, dengan sedikit makeup.
Sementara itu, selesai berdandan, sambil menunggu Zain, aku merebahkan tubuhku di atas kasur, sambil menatap langit-langit, aku kembali membayangkan ketika dulu aku bertemu dengan Zain, rasanya lucu, aneh, unik.
“Kakak, lagi mikirin apa?” tiba-tiba Zain datang, dengan rambut basah, dan handuk di lilitkan di pinggang.
“Lagi mikirin sesuatu“ jawabku sambil tersenyum, menatapnya lekat.
“Tapi, bukan mikirin si Udin kan??” tanyanya tiba-tiba.
“Ish, bukan“ jawabku, memutar kedua bola mataku, tak terima dengan tuduhannya.
“Lalu??” tanyanya menyelidik.
“Aku sedang membayangkan waktu pertama kali kita bertemu, lucu yah??” Aku kembali terkikik.
“Ish, memalukan“ Zain mendengus tidak suka.
Aku diam, memperhatikan Zain yang menggunakan pakaiannya.
Celana zeans warna hitam, dan kaos polos merek terkenal berwarna abu-abu. Oh ... stop!!! ada pemandangan yang tidak enak dilihat!!!.
“ Zain??” Aku memanggilnya.
“Apa Kak??” tanyanya menatapku aneh.
“Eemmhh“ Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
“Apa kamu membawa kemeja?” tanyaku ragu.
“Tidak, memangnya kenapa kak??” Zain terlihat bingung.
“Eeemmhh ... sebentar“ Aku berlari, kembali mengobrak abrik koperku.
“Ini dia“ Aku mengacungkan benda yang ku cari, sebuah syal berwarna hitam, yang sengaja aku bawa, untuk persiapan.
“Pakai ini" Aku memakaikan syal pada leher Zain, mencoba menutupi garis-garis ungu kemerahan di leher Zain. Ck, ini pasti efek dari lampu yang dimatikan oleh Zain.
“Ish, tidak Kakak, aku tidak suka, memakai syal seperti orang sakit “ Zain merengek.
“Zain, eemmhh“ bagaimana cara aku menjelaskannya?.
“Apa??” Aku mendelik.
“Kakak, pasti mau mencoba menutupi ini kan??” Zain menunjukkan tanda itu sambil tertawa.
“I iya, memangnya kamu gak malu??” tanyaku ragu.
“Tidak, bahkan aku akan memamerkannya pada semua orang, jika aku adalah pria dewasa“ Zain menepuk dadanya bangga.
“Ish, Zain, jangan begitu, ayo pakai ini“ Aku mengejar Zain, memaksanya untuk menggunakan syal.
“Tidaakkk Kakak, aku tidak mau, ah, sebentar, apa aku harus mengabadikannya dengan camera??? “ Zain tersenyum menyeringai.
“Tidaaakkkkk!!“ dasar suami mesum.
“Ah, iya, jika di fikir-fikir kita belum pernah berfoto bersama, apa Kakak mau berfoto denganku??” tanya Zain menatapku.
“Iya, mau, tapi pakai dulu syalnya“ Aku masih memaksanya.
“Hhiiii ... tapi ada syaratnya“ Zain tersenyum penuh arti.
“Ish, apa??” tanyaku.
“Di sini sepuluh kali" Zain mengetuk pipinya dengan telunjuk.
“Dua kali“ Aku bernegosiasi, ck, udah kayak tawar menawar sama si abang sayur ini mah.
“Tujuh kali “
“Lima kali?”
“Enam kali deal“
“Ish ... muach, muach, muach“ aku menghujani pipi Zain dengan ciuman. ( Oeeekkkk...author geli membayangkannya hhii )
“Sekarang pakai syalnya“
“Baiklah“
Aku mendekati Zain memakaikan syal, tapi tiba-tiba Zain memegang pinggangku kuat, memutar tubuhku dengan cepat bibirnya menyentuh keningku,
Cekrek, cekrek, cekrek. Zain mengabadikan moment ini berkali-kali.
Ugh ... Zain I Love You geber-geber deh.
Bersambung..................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers,.....
O ya readers, author belum cerita ya, jadi, author terinsfirasi membuat cerita ini, dari sebuah drama korea, yang di bintangi oleh aktor seo in guk. Di mana seo in guk masih kelas dua SMA tapi tergila gila oleh seorang tante tante, yang usianya berbeda sepuluh tahun. Tapi author gak plagiat lho yaaa...hanya terinsfirasi. Selebihnya adalah mutlak halunya author, hheee...semoga readers semua masih suka dengan cerita ini yaaa....