
Pagi ini ... adalah hari pertamaku masuk kuliah. Rasanya aku bahagia, bisa kuliah di universitas impianku. Saking bahagianya aku bangun terlampau pagi. Aku terlalu bersemangat pagi ini. Aku sudah mempersiapkan segala keperluanku untuk ospek nanti. Senyum tak kunjung luput dari bibirku.
Berkalungkan nama yang terbuat dari kardus, rambut bergelombangku terpaksa harus aku ikat. Menggunakan baju dari karung terigu. Kakak senior yang mengospekku memang kejam. Tapi, tak apalah, yang penting semua itu tidak akan mengurangi kecantikanku.
Setelah berpamitan pada kedua orangtuaku, aku berangkat di antar mang Diman, sopir keluargaku. Sepanjang jalan aku terus bersenandung. Tiba-tiba mobil berhenti, segera aku menyadari jika telah terjadi kemacetan, setelah mendengar bunyi kelakson yang bersahutan.
“Ada apa Mang??” tanyaku pada mang Diman.
“Gak tau non, kayaknya ada kecelakaan deh” jawab Mang Diman sambil memperhatikan keadaan sekitar.
“Wah, bisa telat kalo kayak ginih” gerutuku.
“Sabar Non, mungkin sebentar lagi juga bakalan gak macet lagi” jawab Mang Diman.
Satu jam, aku menunggu, cukup! Ini sudah terlalu lama, sepertinya aku harus mencari alternatif lain, agar aku bisa tiba di kampus tepat waktu. Akhirnya, aku memutuskan untuk turun dari mobil, dan mencari ojek yang lewat. Harusnya sih ada.
Aku celingukan, tak lama aku melihat ada sepeda motor yang lewat. Aku segera melambaikan tangan, menghentikan lajunya.
“Bang, ojek Bang!!!” teriakku.
Motor masih melaju, mungkin dia tidak menyadari lambaian tanganku. Menyebalkan!.
“Mau kemana??” tanya si Abang tukang ojek, yang menggunakan helm fullface, aku tidak bisa mengenali wajahnya. Eh, dia berhenti ternyata. Dia menyadari aku membutuhkan pertolongannya. Di situasi yang genting ini.
“Ke kampus Harapan Bangsa Bang, bisa??” tanyaku antusias.
“Oh, gak bisa” jawabnya sambil kembali menstater motornya, yang baru kusadari motornya motor merek terkenal keluaran terbaru. Dia pasti bukan tukang ojek, jika melihat tampilannya. Ugh ... kenapa aku telat banget sih mikirnya?? Tapi, aku tidak boleh menyerah. Ini hari pertamaku, aku tidak boleh telat.
“Bang, tolong anterin dong, please, nanti aku bayar” Aku mengatupkan kedua tanganku.
“Kamu berani bayar berapa?” tanyanya datar.
“Emmhh ... ya selayaknya aja, emang Abang mau di bayar berapa??” tanyaku penasaran.
“Satu juta, aku anterin kamu sampai kampus, tanpa telat” jawabnya sambil melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.
“Hah?? Mahal amat?? Ini namanya pemerasan!!” teriakku tak percaya.
“Satu juta??? Atau kesiangan di hari pertama ngampus??” tanyanya. Hah?? Kok dia tau kalau ini hari pertamaku ngampus?.
“Kok, Abang tahu kalau ini hari pertamaku ngampus??” tanyaku polos.
“Lihat penampilan kamu” jawabnya sambil menatapku agak aneh.
“Ah, iya ya, hhee” Aku cengengesan.
“Jadi gimana??” tanyanya lagi, sambil bersiap melajukan motornya kembali.
“Eeeehhh ... iya iya, nanti nyampe sana aku bayar!” teriakku, sambil menahan tangannya.
“Oke, naik!” Dia mengedikkan wajahmya, memberi kode, agar aku segera naik di belakangnya.
Sepanjang jalan kami terdiam. Jarak dari tempat ini menuju kampus palingan hanya sekitar lima belas menit, tapi rasanya begitu cepat, karena aku menyukai parfum yang di gunakan si Abang ojek ini. Tinggal satu tikungan lagi aku akan tiba di kampus.
Ceekkkiiitttt ...
Aku tersentak, ternyata motor telah berhenti. Ku edarkan pandanganku di tempat ini. Ini menyenangkan.
“Turun!” perintahnya.
“Iya, iya, aku bakalan turun, judes amat si Abang” Aku mengerucutkan bibirku, sambil turun dari motornya.
“Iya, bentar” jawabku sambil merogoh tasku, hingga paling dalam.
“Inih” Aku menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah padanya.
“Hah??? Ini dua puluh ribu, bukannya sejuta!” teriaknya.
“Eh, yang janji mau ngasih sejuta siapa?? Aku kan cuman bilang, mau bayar kalo udah nyampe!” teriakku sambil berlari menjauhinya. Huh ... gila ntu tukang ojek. Semoga gak nyusulin ke kampus deh. Aku sempat menoleh, dia memarkirkan motornya. Apa dia mau mengejarku? Segera ku percepat langkah menuju kelasku.
Duh ... kelas udah mau mulai. Aku berjinjit mengintip ruangan kelasku yang sudah di penuhi mahasiswa baru. Dan seorang dosen berkumis tebal, yang kabarnya sangat galak.
“Duh, semoga gak di tegur deh” segala do'a aku panjatkan, agar aku tidak mendapat hukuman di hari pertamaku.
Tok ... tok ... tok ...
Aku mengetuk pintu, dengan hati yang berkecamuk. Gawat juga, kalau aku di tegur di hari pertamaku. Bagaimana kalau aku di bully??.
“Masuk!” teriak dosen dari dalam ruangan. Aku membuka pintu sambil membungkukkan punggungku.
“Kamu hampir kesiangan” ucapnya, aku hanya bisa menunduk.
“Duduk!” sentaknya lagi, dan aku menuruti kata-katanya. Aku menuju bangku paling belakang yang ada di pojokan. Dengan tatapan aneh dari teman-temanku.
“Maaf pak saya kesiangan!” tiba-tiba suara laki-laki itu membuat seisi kelas menatapnya. Pria tampan dan cool.
“Oh, tidak apa-apa, silahkan duduk, karena tidak ada lagi bangku kosong, kamu boleh duduk di sana” Pak dosen menunjuk bangku yang ada di sampingku. Pria itu berjalan menuju bangku di sampingku.
“Kamu, masih punya hutang sembilan ratus delapan puluh ribu lagi padaku” bisiknya, setelah dia duduk di sampingku.
“Hah?? Abang ojek??!!” teriakku tak percaya, jadi dia juga mahasiswa baru di sini. Haduuuhhh ...
“Jangan panggil aku Abang, aku bukan Kakakmu! Dan aku juga bukan tukang ojek!” ucapnya tegas.
“Kenapa ribut-ribut???” teriak Pak Dosen menatap kami, di iringi tatapan teman-teman lainnya.
“Eh, gak apa-apa Pak” jawabku gugup.
“Ya sudah perkenalkan dulu diri kalian! Di mulai dari kalian berdua yang kesiangan!” perintahnya. Aku berdiri untuk
memperkenalkan diriku.
“Hay semuanya ... perkenalkan namaku Pelangi, Pelangi Amadia Zain” tegasku sambil tersenyum.
“Oke Pelangi, selanjutnya kamu!” perintah Pak dosen, sambil menunjuk pria di sampingku.
“Hay ... namaku Fadli, Muhammad Fadli Anwar” jawabnya lantang.
Aku menatapnya lekat. “Hay ... Fadli”
Dia membalas tatapanku “Hay ... Pelangi”
END
.
.
.
kelanjutan kisah Pelangi dan Fadli ada di CINTA SEGITIGA, sekarang sudah up. aku tunggu di sana ya readers.