TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Ekstra Part 8


“Hallooo Pelangi sayang, Daddy udah di kantor nih, Pelangi di rumah baik baik yaaa ...” Aku menahan langkahku, ketika mau memasuki ruangan Zain, kala melihat Zain tengah melakukan Video call dengan anak dan istrinya, baru juga nyampe, udah video call aja, gak bosen apa?? Bikin aku iri aja sih, kan aku jadi pingiiinnn.


“Aaaaahhh iya, Mommy nya juga yaaa ... hati-hati di rumah, Daddy mau kerja dulu yah, o ya?? Nanti kalau Daddy pulang kerja mau di bawain apa??” terdengar suaranya begitu menggema menyakiti telingaku.


“Oooohhh ... iya, Mommy mau cireng?? Yang di tempat biasa itu ya?? Iya nanti di beliin, Daddy akan pulang cepat kok, kalau kerjaannya udah selesai, iya, iya, sampai ketemu nanti di rumah ya sayang ... muach” Zain melambai-lambaikan tangannya pada ponsel. Ish ... tadi, istrinya pesan apa?? Pesan cireng?? Dasar norak. Hari ginih, masih aja makan cireng, kampungan, katanya orang kaya.


“Cindy, kenapa berdiri di situ??” tanya Zain tiba-tiba.


“Eh, oh, a aku mau ada yang di tanyain Pak” jawabku gugup, merasa tersentak kala Zain tiba-tiba saja sudah ada di sampingku, mungkin karena aku terlalu asyik mengumpat.


“Oh, mau nanyain apa??” tanyanya datar.


“Ini Pak, masalah perhitungan rugi laba yang bulan kemaren, kok aku gak bisa ya??” Alasanku, memang luar biasa, yah namanya juga Cindy, ya pasti pinterlah.


“Oh, masalah itu? Eemmhh ... sebentar” Zain kemudian duduk di kursinya, lalu menyalakan laptopnya.


Aku mengikutinya, lalu berdiri di sampingnya.


“Ekhem, Cindy, duduknya di depan saya saja, gak usah di samping sini” Ish ... dasar so jaim banget sih?? Aku kan mau deket-deket Zain. Hiks ...


“Ini contoh laporan yang bulan kemarennya, kamu bisa banyak belajar dari laporan ini, atau kalau mau ada yang di tanyain lagi, kamu bisa tanya sama Pak Broto, sekretaris saya” jelasnya.


Ish ... kenapa aku malah di suruh nanya ke si tua bangka itu sih?? Aku kan maunya cuman sama Zain, bukan sama si kumis.


“Oh, ya udah deh” akhirnya mau tidak mau aku pun undur diri, etapi kok Zain juga ikut berdiri sih?? Apa dia mau nganterin aku duduk di kursiku?? Aaaa Zain emang sweat banget deh. Yes ... Cindy gitu loh.


“Gak usah di anter Pak, saya bisa sendiri kok” ucapku sambi tersenyum, malu-malu mau.


“Siapa yang mau nganterin kamu?? Orang saya mau ke mushalah kok, mau shalat dhuha dulu” jawabnya. Ish ... rasanya harga diriku tercabik-cabik inih. Lagian Zain itu sekarang kenapa jadi pria kebangetan sempurnanya sih?? Udah tampan, masih muda, pewaris tunggal beberapa perusahaan, di tambah shaleh pula, sayang keluarga lagi. Kan aku jadi pinnggiiinnnn. Jiwa jombloku meronta-ronta.


“Oh, iya Pak, silahkan” Aku berjalan melipir memberikan Zain jalan. Dia berjalan tanpa memperdulikan aku lagi.


Aku kembali duduk di kursiku, kembali merenung, berfikir keras, rencana apa yang seharusnya kulakukan sekarang.


Ah, apa ini?? Kenapa aku malah kebelet pipis sih? Pasti gara-gara aku kebanyakan mikir ini mah.


Aku segera berjalan menuju toilet, segera memasukinya, setelah selesai, aku segera keluar toilet, lalu bercermin sejenak, dari cermin, aku melihat pantulan wajah Zain yang baru berwudhu, iiihhh ... dia tambah imut aja sih?? Kemejanya di lipat hingga sikut, wajah dan rambutnya masih basah karena air wudhu, yang justru membuat wajahnya menjadi semakin tampan. Ugh ... Zain lihat aku please!.


Aha! Tiba-tiba saja, adegan drama yang sering aku tonton terlintas di dalam bayanganku. Di mana si perempuan sering terjatuh karena licin di depan pria yang di sukainya, terus spontan si pria menangkap tubuh si perempuan, hhiii ... aku praktekin aahhh ... aku Cindy Atmaja, catat! Aku perempuan yang tidak pernah menyerah!.


“Pak, baru wudhu yah??” sapaku, sambil berdiri di depan pintu mushalah, dengan kaki sudah di angkat, bersiap menjatuhkan diri.


“Oh, iya, kamu mau shalat juga??” tanyanya sambil celingukan.


“Eh, enggak, aku lagi halangan” jawabku sambil tersenyum.


“Oh, gituh, terus ngapain disini??” tanyanya sambil terus berjalan melewatiku.


Brruuuuukkkk!!!


“Aaaawwww ...” Aku meraba bokongku yang sakitnya luar biasa, karena ternyata mendarat dengan mulus di lantai.


“Ya ampuunn, Cindy, kamu kenapa??” tanya Zain menatapku aneh, ish ... dasar bukannya di tolongin, malah ngehindar.


“Adduudduuhh ... sakit banget ini pak” Aku meringis, sambil mengusap bokongku, berusaha berdiri, tapi rasanya ngilu banget.


“Kamu kenapa gak hati-hati? Maaf saya gak bisa menolong kamu Cin, saya baru aja wudhu, takut batal lagi” ucapnya sambil menatapku aneh.


“Hadduuhh ...” Aku mencoba mengaduh lagi, dan memang rasanya bokongku remuk, sakit banget. Ini serius.


“Sebentar” Zain mengedarkan pandangannya.


“Oh, Purno! Sinih kamu!!” teriak Zain sambil melambaikan tangannya, pada Purnomo, yang baru saja selesai membersihkan toilet pria. Eh, kenapa zain manggil si Purnomo?? Jangan-jangan ...


“Ini, tolong bantuin Cindy, tadi dia jatuh di lantai” pintanya sambil menunjukku, yang tengah menengadah, minta di kasihani.


“Oh, iya siap pak” jawab Purnomo cepat, sambil bersiap merengkuhku.


“Hah??? Gak usah! Makasih!” jawabku cepat, sambil berusaha berdiri, meskipun susah. Aku?? Di angkat sama Purnomo?? Sorry ya, gak level!.


“Eeehhh ... gak apa-apa Mbak Cindy, sinih saya bantuin” Purnomo masih memaksa, dengan tangan segera menggapai pinggangku.


“Eeehhh ... gak usah!” teriakku, sambil berdiri dengan tertatih-tatih.


Brrruuukkk ...


“Awwww ...” Aku kembali terjatuh, ini serius sakittt. Aku sengaja menjatuhkan diriku dengan keras tadi, karena berharap Zain akan menangkapku.


“Ehhh, Mbak Cindy, udah jangan nolak saya, sinih saya pangku sampai ke klinik kantor”.


Ggrreeeppp ....


Purnomo memangku tubuhku ala bridal style. Lalu dia berjalan dengan bangganya.


Sial!!


Sementara itu, sempat kulirik Zain, tengah tersenyum sambil menutup mulutnya, memasuki mushala.


Bersambung ....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa readers ....