TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Hobby Zain


Pagi yang cerah, sang surya tampak malu-malu keluar dari peraduannya, kini hubunganku dan Zain, semakin dekat, tapi, baru sebagai Kakak dan adik. Yah ... selama kita bisa mari kita dekatkan diri kita dengan pasangan halal kita, mendekatkan diri, mendekatkan hati, yah meskipun kami masih belum bisa berkontak fisik sih, tapi setidaknya komunikasi adalah hal yang harus dijaga dalam setiap hubungan serius.


“Kak, hari ini Zain ada latihan sepak bola sepulang sekolah“ izinnya ketika kami sarapan bersama, sepak bola itu adalah hobi Zain, dan kebanyakan para pria lainnya. Yang menurutku sangat membosankan, karena aku sama sekali tidak menyukainya. Tapi, demi kemaslahatan bersama, aku pun harus menghargai hobby Zain, yang terkadang aku harus melewatkan drama serial pavoriteku hanya karena jadwalnya sama dengan jam tayang bola yang sudah di tunggu Zain.


“Kenapa sih?? suka banget sama bola?? gak cape apa?? bola satu di kejar-kejar banyak orang? kenapa gak kamu beli aja bola satu truk sekalian biar gak usah ngejar satu bola??” sungutku pada Zain.


“Ih Kakak, itukan tantangannya, harus mendapatkan sesuatu yang di incar orang banyak“ jelasnya, yang membuatku langsung geleng-geleng kepala.


“Hmmhhtt“ jawabku malas.


“Jadi pemain sepak bola itu mimpiku dari dulu Kakak,“ jelasnya lagi sambil menerawang.


“O ya??” tanyaku seraya menatapnya.


“Iya, makanya aku gak mau kuliah, aku mau masuk sekolah bola aja“ lagi penjelasannya membuatku mendelik.


“Main bola?? ampun Zain, kamu mau hidup dari hasil menendang bola??” Aku sungguh tidak menyukainya.


“Kakak, main bola itu hoby, ya aku hanya ingin menyalurkan hobyku saja“ elaknya.


“Iya, tapi hoby kamu itu ganggu, menyita waktu, dan sekarang apa?? kamu gak mau lanjutin kuliah, hanya karena kamu mau jadi pemain sepak bola??” tanyaku mulai jengah.


“Tapi Kakak, sekarang banyak kok, atlite yang kaya raya hanya karena dia seorang pesepak bola“ sanggah Zain.


“Gak, apapun alasannya aku gak setuju“ jawabku sambil meninggalkan meja makan, berlalu menuju kamar, sungguh aku tidak mengerti dengan keinginan Zain, boleh saja menyalurkan hoby, tapi tidak dijadikan kewajiban juga kali. Menyebalkan.


Aku membuka lemari, kemudian memilah milih pakaian yang akan ku gunakan pagi ini, pagi ini aku memilih untuk pergi ke toko kue saja, ingin rasanya aku membuat adonan kue yang mirip dengan wajah Zain, biar bisa aku makan. Huhh ....


“Kakak, aku berangkat sekolah ya ...” terdengar teriakannya dari luar.


“Iya ...” balasku, malas membuka pintu, aku malas debat lagi dengan si bocah.


“Kakak, aku mau berangkat sekolaahhh ...!!!” lagi terdengar teriakan khasnya.


“Iya, berangkat aja sana“ masih malas membuka pintu, aku tak ingin bergeming.


“Kakak, aku mau berangkat sekolah!!!“ terdengar lagi teriakannya untuk yang ketiga kalinya, kali ini dia mengeja kata-katanya.


‘kenapa sih?? tinggal berangkat aja padahal ‘ aku ngedumel gak jelas, sambil menuju pintu.


“Astagfirullah, ngapain kamu??” Aku kaget, ketika membuka pintu yang pertama kulihat adalah uluran tangan Zain.


“Aku mau berangkat sekolah“ lagi dia mengulang kata-katanya.


“Iya, tau, ya udah berangkat sana“ usirku, malas.


Tapi Zain malah menggerakkan tangannya hingga membuatku mengerti.


“Oooh salim, ya udah nih“ Aku memberikan tanganku untuk di kecup si bocah.


“His, bukan Kakak,“ Dia menolak tanganku.


“Lah?? apa dong ??” tanyaku bingung.


“Bekel, aku udah gak punya uang bekal“ jelasnya yang langsung membuatku memutarkan kedua bola mataku.


“Kirain,“ aku langsung kembali masuk kedalam kamar, kemudian meraih dompet, dan mengambil uang lima puluh ribu seperti biasanya.


“Nih,“ Aku mengasongkan uang tersebut dengan wajah masam.


“Makasih“ jawabnya, masih dengan juluran tangan.


“Apalagi??” tanyaku jengkel.


“Salim,“ jawabnya sambil tersenyum menenggelamkan mata sipitnya.


“Muach, muach, muach“ Dia mencium tanganku tiga kali, dan langsung pergi begitu saja.


“Zaiiinnnn, kamu iiihhh ...” Aku berteriak histeris, kala melihat tanganku sudah penuh dengan air liurnya, dasar jorok, bocah, aku terus ngedumel pagi ini.


Setelah Zain berangkat sekolah, aku membenahi rumah, kegiatan ini sudah sangat biasa kulakukan, semenjak kedua orangtuaku berangkat keluar negri, untuk waktu yang cukup lama, aku menjadi perempuan mandiri sejak kecil. Jadi tidak heran, kini ketika aku mendapatkan suami yang lemah, maka aku sudah kuat, ketika suamiku tidak bisa melindungiku, maka akulah yang harus melindunginya, eh.


Setelah selesai membenahi rumah, aku langsung bergegas menuju toko kue, ingin rasanya aku bereksperimen resep baru, untuk menghilangkan semua penat yang tengah melanda.


Setibanya di toko kue, aku di sambut oleh pegawaiku, kulihat, hari ini pegawai cukup sibuk, meski toko agak sepi.


“Siang Kak Yas,“ sapa mereka.


“Iya, siang“ jawabku malas.


“Sarah, ini ada pesanan ya?? kok pada sibuk banget, padahal pengunjung lagi sepi“ tanyaku pada Sarah.


“Iya Kak, lagi ada pesanan kue soes dua ribu biji, untuk acara syukuran aqikah anaknya katanya,“ jelas Sarah, sambil terus memasukkan kue soes kedalam dus.


“Oooh gituh, Riyan belum datang??” tanyaku sambil mengedarkan pandangan.


“Belum Kak, mungkin sebentar lagi“jawab Sarah.


“Ya udah, kamu lanjutin aja ya, semangat“ dengan lemah aku menuju dapur.


“Siang Mbak,“ tiba-tiba suara pria yang sudah tak asing di telingaku menyapa, aku memutar tubuhku, mengurungkan niat untuk pergi kedapur.


“Siang,“ sambut Sarah.


“Saya mau ambil pesanan,“ jelas laki-laki itu mengutarakan niatnya.


“Iya pak sebentar lagi,“ jawab Sarah sambil mempercepat gerak tangannya.


“Ok, saya tunggu, bay the way, Yasmin nya belum datang??” tanya si pria sambil celingukan.


“Udah, mau apa kamu?” Aku mengedikkan daguku.


“Hhee, Yas, aku pesan kue di toko kamu, untuk syukuran anaknya Zanet“ jawab pria itu, yang tak lain adalah si Udin.


“Oh,“ jawabku singkat.


“Kamu apa kabar Yas??” lagi dia bertanya membuatku semakin malas.


“Baik, seperti yang kamu lihat, aku sangat sehat“ jawabku sambil memegang erat tali tas yang kugunakan, antara kesel, jengkel, dan entahlah, segala rasa bercampur aduk jadi satu.


“Aku seneng lihat kamu bisa setegar ini Yas, o ya?? gimana suami bocah kamu??” lagi dengan sinis dia bertanya, dan yup, pertanyaannya sukses membuat para pegawaiku memandangku penuh dengan kebingungan.


“Eh, jangan sembarangan kamu ya, bagaimanapun keadaannya dia jauuuuhh lebih baik dari kamu Udin“ Ku tekankan kata kataku pada sang mantan, yang super nyebelin ini.


“Haha, Yas, kamu udah fikirin belum?? permintaan aku kemarin??” tanyanya dengan menaik turunkan alis.


“Males mikirinnya, gak penting,“ jawabku sambil hendak berlalu, tapi terhenti karena si Udin memegang tanganku erat.


“Yas, berpisahlah dari anak kecil itu, kembalilah padaku, kita mulai semuanya dari awal“ pintanya yang membuatku ingin muntah.


Bbbbrrruuuuukkkkk .......


“Aaaaaawwwww ...” tiba-tiba si Udin tersungkur kelantai, karena pukulan seseorang.


Bersambung...................


Readers, jangan lupa dukungannya buat Kakak Yas, dan Dede Zain yaaaa....hhee.....