
Mulai hari ini Zain di skors oleh pihak sekolah, hingga tiga hari kedepan.
Entah apa yang akan dilakukan anak itu selama menjalani masa skorsnya.
“Zain, aku harap kamu bisa merenungi setiap kesalahan kamu, selama kamu di skors, aku harap kamu juga bisa belajar dengan baik, sebentar lagi kamu memasuki kelas tiga. Kamu sudah menjadi seorang suami, harusnya kamu bisa bertanggung jawab atas hidupku, tapi lihat sekarang, kamu bertanggung jawab untuk dirimu sendiri saja tidak bisa.“ Ucapku ketika kami tengah sarapan di hari pertama Zain di skors.
“I iya Kakak“ jawabnya sambil gemetaran, anak ini, kenapa dia? Dia bisa memukul teman - temannya di sekolah dengan gagah berani, tapi kenapa ketika di hadapanku dia selalu gemetaran.
“Zain, apa sebaiknya kita berpisah saja??” tanyaku spontan, entahlah, aku tiba - tiba merasa tidak ingin hidupku lebih hancur lagi, memutuskan untuk menerima pernikahan yang tidak pernah kubayangkan, apalagi bersama pria bocah yang tidak bisa kuandalkan adalah hal yang sangat sulit untukku.
“Jangan Kakak, aku tidak mau,“ jawabnya sambil menunda sendok makannya.
“Kakak, aku janji, mulai sekarang aku tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi, mulai sekarang aku akan bersikap baik, aku akan menjadi suami yang baik, untuk Kakak dan Ayah yang baik bagi anak - anak kita nanti“ mohonnya mengiba, yang membuatku sedikit tergelak, dia bicara apa tadi?? Ayah yang baik katanya, hhhhuuuhhhh ... haaaahhhhh ... aku yakin anakku akan malu jika tahu punya Ayah yang suka berantem disekolah.
“Zain, aku tidak tahu apa yang sudah kulakukan ini adalah hal benar atau tidak, tapi yang pasti aku tidak akan kuat jika kamu masih tetap bersikap kekanakan, aku hanya manusia biasa Zain“ lagi aku mengemukakan setiap unek - unekku.
“Kakak, aku mohon“ sekali lagi wajahnya mengiba.
“Iya, kamu ingat ya Zain, jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi“ lagi aku mengalah, sebagai orang yang usianya lebih tua darinya, aku harus bisa lebih bijak, mungkin aku harus memberi Zain kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
“Makasih Kakak, Kakak hari ini aku mau ke rumah Mamah, boleh??” tanyanya dengan alis yang di naik turunkan.
“Iya, boleh mungkin itu lebih baik buat kamu Zain, kamu bisa merenungi setiap kesalahan kamu, di rumahmu sendiri.” Jawabku sambil terus mengunyah roti sarapan pagi ini.
“Iya Kakak,“ jawabnya sambil menunduk, aku tahu ada penyesalan yang teramat dalam dimatanya.
“Aku anterin kamu ke rumah Mamah“ lanjutku lagi.
“Tidak, jangan Kakak, aku bisa berangkat sendiri“ tolaknya.
“Kenapa??” tanyaku heran.
“Aku gak mau terus ngerepotin kak Yas,“ jawabnya sambil tersenyum imut.
“Oh ya udah,“ hah ... tau diri juga dia.
“Aku berangkat kerja dulu ya Zain, kamu kalau mau berangkat kunci pintunya, jangan lupa lho ya“ Aku berdiri dari kursi dan melangkahkan kaki menuju pintu utama.
“Iya Kakak, Kakak tunggu!“ teriaknya seraya menghampiriku.
“Apa lagi?? Minta uang jajan??” tanyaku sambil meraih dompet yang ada di dalam tas yang tengah ku tenteng.
“Ish ... bukan Kakak, salim dulu, Kakak 'kan mau pergi“ jawabnya sambil menyodorkan tangannya.
Aku menggelengkan kepala, sambil menyodorkan tanganku, dia meraih tanganku dan “Muach ... hhheee”.
”Ish ... Zain ...” aku mengelap punggung tanganku yang dicium oleh Zain.
“Kakak, jangan dihapus, nanti Kakak cepet kangen sama aku!“ teriaknya, yang tidak aku respon.
Aku memasuki mobilku, sebelum aku mengemudikannya, aku menoleh ke arah Zain, yang tengah memperhatikanku, sambil dadah dadah, Ya Allah ... sampai kapan kegiatan ini akan berakhir, kenapa semuanya jadi terbalik. Mungkin karena aku sering menonton serial TV dengan judul “Dunia Terbalik”, kini akupun jadi ikut merasakan, gimana rasanya jadi pemeran perempuan di serial tersebut.
Zain POV
“Hallo Zain, dimana kamu??” terdengar suara sahabatku Budi yang tengah sama - sama diskors menelpon.
“Kamu, jadi gak ke caffe Ayahku, untuk mulai bekerja??” tanyanya.
“Iya, jadi kok, bentar lagi aku kesana“ sahutku sambil mengambil jaket dan topi, kemudian keluar dari rumah, dan menguncinya dari luar.
“Iya, cepetan ya, aku tunggu“
“Iya, bawel amat sih“ aku menutup sambungan telponku,
Setelah aku mendapat hukuman dari sekolah, selama tiga hari kedepan, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan paruh waktu, aku ingin menjadi pria yang bertanggung jawab, apalagi kini aku sudah menjadi seorang suami.
Aku di tawari bekerja di sebuah caffe milik Ayah Budi, temanku. Aku bekerja sebagai karyawan paruh waktu, yang akan bekerja dari pukul empat sore, hingga pukul sepuluh malam. Setelah uang jajanku dihentikan oleh Papah dan Mamah, aku terpaksa harus bergantung pada kak Yas. Dan itu semua membuatku tidak nyaman, aku harus bekerja sendiri, agar mendapatkan penghasilan sendiri. Tapi untuk sementara aku harus menyembunyikan kegiatanku yang satu ini, kepada keluarga dan juga istriku.
“Zain, mulai sekarang kamu saya terima bekerja disini, pekerjaan kamu untuk sementara ada dibelakang“ Manager caffe menjelaskan padaku.
“Di belakang?? Maksudnya masak?? Aku gak bisa masak pak,“ tanyaku bingung.
“Bukan Zain,“ Manager tampak menggelengkan kepalanya.
“Lalu apa pak??” tanyaku heran.
“Nyuci piring“ jawabnya datar.
“What????” Aku terbelalak kaget, aku mana pernah mengerjakan hal - hal seperti itu?.
“Iya, kenapa? Kamu keberatan?” tanya si Manager mengerutkan dahinya.
“Ti tidak pak, baik saya akan terima pekerjaan ini,“ jawabku akhirnya.
“Baik, silahkan kamu menuju arah dapur, disana kamu bisa mulai bekerja“ perintah manager padaku, aku langsung menurutinya, dan beranjak pergi kearah dapur, meninggalkan ruangan manager.
Setibanya di dapur, mataku terbelalak, aku melihat ada setumpuk piring, gelas, dan sendok kotor yang berjejer di atas wastafel,
“Semangat Zain, kamu pasti bisa, demi kak Yas,“
Setelah beberapa jam berkutat dengan piring kotor yang tidak ada habisnya, aku menoleh jam di dinding, waktu menunjukkan pukul delapan malam, aku harus segera menghubungi kak Yas, takut dia khawatir. Aku merogoh ponselku dari dalam saku celana, kemudian mencari kontak Kak Yas, dan langsung menekan tombol Call.
“Hallo, Assalamu’alaikum, kak Yas, Zain masih dirumah Mamah, nanti Zain akan pulang agak malam yaaa” izinku setelah telpon diangkat.
“.............”
“Iya kak, Zain akan hati - hati kok, iya Kak, sampai jumpa nanti dirumah ya, udah dulu ya kak, Assalamu’alaikum“ Aku menutup telpon, tanpa mendengar jawaban telpon dari Kak Yas, karena melihat Manager menghampiriku.
“Zain, kamu kerja yang bener ya, jangan banyakin nelpon“ tegurnya dengan nada sinis.
“Iya, baik pak“ jawabku sambil menunduk.
Ah ... jadi seperti ini rasanya bekerja, untuk menghasilkan uang?? Ternyata sulit juga ya??Mamah, Papah, maafin Zain yang selama ini selalu menganggap enteng pekerjaan Papah dan selalu menghambur - hamburkan uang yang kalian berikan dengan sia - sia.
Bersambung..............
Readers, tolong tinggalkan jejaknya yaaa....jangan lupa, kalau ada typo atau ada tulisan yang tidak sesuai dengan EYD nya, lapor author yaaaa....makasih.