
Tiba di rumah, aku meletakkan semua barang-barangku di samping kursi di ruang tengah, kenapa rasa lelah itu baru terasa sekarang ya??.
Aku berjalan menuju kamarku, ku biarkan Zain, yang sedang merutuki dirinya sendiri, karena harus membopong hadiah penyiksaan yang di berikannya, biar dia tau rasa, gimana rasanya nenteng dua buah permen kapas, yang gedenya hampir sama dengan tubuhku.
“Kakak,“ Zain memanggilku, tapi kubiarkan saja, ku tenggelamkan kepalaku di bantal, rasanya begitu pening.
Krrriiieeetttt ... Pintu di buka,
“Kak,“ Zain kembali memanggilku
“Hmmhtt“ jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
“Eeeehhheee“ Zain tertawa, tapi, sebentar, kenapa tawanya penuh arti ya??.
Aku melempar bantal yang menutupi kepalaku,
“Zain, kamu ngapain kesini?? Kamar kamu kan di sana“ Aku menunjuk kamar yang biasa di tempati Zain.
“Eeehhheeee“ Zain terus mendekatiku, dengan tawa mesumnya.
Seriusly??? aaaaaaaa ... aku sangat lelah, tapi tangan Zain sudah tak bisa di kondisikan,
Dan, semuanya terjadi kembali. Ck.
“Zain???” masih dalam gulungan selimut, aku memanggil Zain.
“Hmmhtt?” jawabnya sambil mengeratkan pelukan, dengan tangan yang lagi-lagi, tidak bisa diam di tempatnya.
“Apa kamu mau tidur disini?? di kamar ini??” tanyaku penasaran, sebelumnya kita tidur di kamar terpisah, tapi sekarangkan kita ... ekkhheemmmm ... sudah menjadi suami istri normal, eehhheee...
“Ya iyalah Kakak,“ Zain semakin erat memelukku, hingga aku merasa sesak.
“Zain, kamu sudah lulus sekolah, kamu juga sudah tidak bisa lagi bermain sepak bola, apa kamu sungguh tidak akan melanjutkan kuliah??” tanyaku penasaran, rencana apa yang akan di lakukan Zain selanjutnya.
“Gak kakak, aku gak mau kuliah“ tegas Zain, ck, so dewasa banget dia.
“Lalu?? kamu mau ngapain Zain??” tanyaku bingung.
“Aku mau kerja aja“ jawabnya yakin.
“Kerja?? Ah... kamu mau kerja di kantor Papah kan??” tanyaku berbinar.
“Gak!!” jawabnya tegas.
“Aku mau cari kerja sendiri“ jawabnya.
“Mau nyari kerja sendiri? maksudnya kamu mau nyari kerja di tempat lain?? Begitu??” tanyaku meyakinkan diriku sendiri.
“Iya Kakak sayang, muach muach muach,“ Zain kembali menghujaniku dengan ciuman.
“Ish, Zain kamu itu hanya lulusan SMA kamu mau kerja apa Zain?” Aku mulai kesal.
“Kakak, apapun pekerjaanku, Kakak harus mendukungku, aku suami Kakak, jadi Kakak harus menerimanya“ suara Zain kian tegas.
“Ish, bukan begitu Zain, ta pi“ suaraku tercekat, bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Zain
“Kakak, Kakak itu tanggung jawabku, aku akan belajar bertanggung jawab pada hidup Kakak, Kakak hanya perlu mendo'akan aku, bisakan sayang??” Zain menatapku lekat.
Deg!
Astagfirullah ... apa tadi katanya?? Zain bilang apa?? Sayang??? aaaa ... rasanya aku ingin terbang ke angkasa raya.
“Eeeehhheee ... baiklah, aku akan mendukung semua keputusanmu Zain“ Aku mengangguk penuh semangat.
“Tapi, sebentar, mulai sekarang Kakak jangan memanggilku Zain lagi“
Aku mengerutkan dahi, “lalu aku harus memanggilmu apa??” tanyaku bingung.
“Panggil aku my hubby“ pintanya.
“Bhhhaaaa ... lucu Zain, tapi aku geli memanggilmu seperti itu“ Aku tertawa ngakak.
“Kakak, aku suamimu, lakukan apa yang aku perintahkan“ tegasnya.
“Ya ampuuunnn ... kamu gak cocok di panggil my hubby, kamu cocoknya di panggil my baby boy“ jawabku masih dengan tawa yang tak berhenti.
“Hish ... Kakak, aku suamimu, bukan anak kecil“ Zain mendengus.
“ Aaaaaa ... baiklah, suamiku“ jawabku sambil terus tertawa.
Bersambung........................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers .....................