
Berjalan di tepian pantai, menyisir ombak yang menggulung, layaknya anak-anak, aku sangat menyukai panorama indah ini. Berlarian ketengah, tapi segera menyingkir kala ombak seolah mau menggulung tubuh. Sangat menyenangkan. Berteriak di antara deru ombak, hingga tak ada satupun orang yang tau, apa yang tengah aku teriakkan. Meski rasanya pita suaraku hampir putus.
“Kakak!!! Awas ombaknya!!!” Zain berteriak, kala melihatku hampir di telan ombak, aku segera berlari ketepian, dan Zain menertawakan aku yang lagi ngos-ngosan.
Aku kembali merasa kesal kala melihat wajah Zain, merasa di sepelekan sebagai seorang istri, kenapa Zain tak kunjung mengerti aku, tak mau mengerti keinginanku. Aku diam, kemudian berlalu, meninggalkan Zain yang tengah tertawa sendiri. Mungkin dia merasa bahagia bisa berada di tempat ini.
“Kakak!!! tunggu!!!” Samar, ku dengar Zain berteriak, mencoba mengejarku.
“Kakak mau kemana??” tanyanya.
Aku diam saja, hanya terus berjalan, tanpa ingin menghiraukannya, biarin aja, toh selama ini, aku sudah terlalu banyak mengerti dia, lah dia?? Kapan dia mau mengerti aku???.
“Kakak, kenapa???” tanyanya, menggenggam tanganku, menatapku penuh tanya.
“Gak pa pa“ jawabku sambil menghempaskan tangan.
“Kakak, jangan begitu, jangan diamkan aku, ayo bicara, ada apa hum??” Dia kembali mencengkram kuat tanganku, mungkin takut aku kabur.
“Zain!!! apa aku terlihat bukan wanita di matamu??? apa aku terlalu tua bagimu hingga kamu tak mengerti keinginanku??!!!” Entah datang dari mana keberanian itu, tiba-tiba saja aku mengeluarkan semua unek-unekku dengan gamblang.
‘semoga Zain tidak mengerti ucapanku, semoga angin semilir, menghembuskan ucapanku yang barusan, Tidak !!! ini begitu memalukan !!!’ hatiku meracau, aku menutup mataku, merasakan debaran di dada, wajahku sudah memerah.
Gggrrreeeppp ...
Tiba-tiba saja aku merasa tubuhku di tarik, dan di dekap seseorang, perlahan kubuka mataku,
Deg !
Zain memelukku dengan erat, pelukan ternyaman yang pernah kurasakan, selama ini, ternyata seperti inilah, rasanya di peluk suami.
“Jangan bicara seperti itu Kakak, apa Kakak tau?? Bagaimana aku menahan diri selama ini?? Aku juga seorang pria normal Kakak,“ Zain mengelus kepalaku lembut.
Aku mengerjapkan mata, apa ini sungguh nyata???.
“Aku rasanya hampir gila, harus terus menahan gejolak ini“ Zain memegang tanganku, lalu mengarahkannya pada dadanya, kurasakan getaran yang sangat hebat di sana.
“Ta tapiiiii ...” Aku bingung, entah apa yang harus ku katakan.
“Aku sangat mencintai Kakak, dari awal kita bertemu, aku tidak pernah menganggap Kakak adalah perempuan yang tua, hanya karena usia kita terpaut jauh, aku justru selalu menganggap Kakak, adalah perempuan terbaik, Kakak adalah istriku, maaf karena harus membuat Kakak menunggu selama ini, terimakasih karena Kakak sudah sabar menungguku“ ucapan Zain begitu beruntun, dan membuatku terhipnotis, aku hanya terdiam mematung sambil kicep-kicep.
“Apa Kakak juga mencintaiku???” tanyanya dengan suara gemetar.
Aku diam lagi, entah apa yang harus ku katakan.
“Kakak“ sapanya lembut, sambil mengusap kepalaku.
“Eh, hmh?? i iya“ jawabku gugup, ini yang ngomong beneran Zain atau bukan sih? apa Zain sudah terasuki hantu di laut ini?? Kenapa dia berubah??.
“Kakak, jangan berfikiran buruk lagi ya,“ Zain memutar tubuhku, kemudian memelukku erat dari belakang.
“Hhmmhh” hanya kata itu yang mampu ku ucapkan.
Zain, kembali memutar tubuhku, hingga kini kami jadi berhadapan.
“I love you Kakak,“ Zain berbisik di telingaku lembut,
Cup ...
Aku membelalakan mata, kala Zain mencium bibirku, begitu lembut dan dalam.
Bersambung.............
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers........