
Duhai suamiku, matamu indah, seindah batu permata, namun permata itu sering tenggelam jika kamu tersenyum, kenapa?? Karena matamu sipit. Tatapan matamu membuatku sulit untuk berkilah, apalagi ketika kamu bertanya, kala malam tiba, “Mommy, Pelangi udah bobo belum??” ck, tiap malam nanya gitu melulu, aku tuh capek tau gak?? Capek rebahan melulu karena pekerjaan rumah sudah kamu kerjakan, termasuk memasak, plus jagain Pelangi.
Aku itu perempuan aktif dan energik, tapi kenapa cintamu mengungkungku, membuatku hanya rebahan saja setiap harinya. Ini membosankan.
Pagi ini aku sedang menyiram tanaman bunga di halaman depan, hari terasa sunyi karena adanya virus corona. Tina dan Mas Agus pun ikutan hilang dari pandanganku setiap harinya. Mungkin Mas Agus lagi merangkai pantun lagi buat Tina. Hheee. Tukang sayur, tukang sampah, ibu-ibu rumpi di ujung gang juga ikutan hilang, semuanya stay di rumah aja.
“Hhuuuhhh ...” Aku menarik napas dalam.
Aku mencoba bersenandung pelan, sambil menyemprotkan air, pada bunga mawar kesayanganku.
“Pagi Kak” tiba-tiba melintas seorang pemuda, yang entah siapa, aku tidak mengenalinya, karena dia menggunakan masker di wajahnya, sweater dan juga topi yang hampir menutupi wajahnya.
“Pagi,” Aku memanggutkan kepala, sambil meliriknya, mengerutkan kening, mencoba mengenalinya. Dan dia terus menatapku.
“Mommy!” teriakan itu. Astagfirullah ... membuatku mengerjap seketika.
“Apa??” Aku menoleh setengah kesal, lah orang aku lagi konsentrasi kok, mencoba mengenali orang yang menyapaku.
“Ituh anak Mommy nangis!” teriaknya sarkis.
Kenapa dia??? Biasanya juga kan dia yang ngajak main Pelangi, sekarang tumben amat ngomongnya kayak begituh? Ck, apa itu?? Kenapa diamenatapku dengan tatapan yang membunuh??.
“Iya, sebentar, aku matiin airnya dulu” Aku beranjak, berniat mau mematikan air yang tadi sudah kugunakan untuk menyiram bunga.
“Gak usah! Biar aku aja yang beresin! Lain kali gak usah nyiram bunga lagi!” segera dia mendekatiku, lalu mengambil alih, selang yang sedang aku pegang.
Idih, ketus amat dia, kenapa sih?? Aku masih bingung dengan sikap Zain padaku pagi ini, gak ada angin, gak ada hujan, dia kenapa ketus begitu sih??.
“Kakak cantik!” pria yang menggunakan masker tadi, masih saja berdiri di tempatnya, tetap menatapku, lalu dia mulai berjalan mendekati rumahku.
“Idih, nyari masalah ni orang, gak tau apa? Itu muka pawang udah di tekuk kayak begituh??” gumam hatiku, sementara itu bibirku kelu, entah mau jawab apa? Aku takut sama orang di sampingku, tatapannya itu lho. Ck!.
“Mommy masuk rumah!” tuh kan ...
“Kakak cantik! Tunggu!” lagi orang itu berteriak, malah mendekati pagar, lalu membukanya.
Sementara itu Zain menatap pria itu, dengan tubuh memasang kuda-kuda.
“Siapa kamu?? Berani kamu manggil istriku begitu??” tanya Zain menatap pria jangkung itu dengan tajam.
“Kakak? Siapa dia??” Zain memutar tubuhnya kearahku, sementara aku mengedikkan bahuku. Lah, memang aku tidak mengenali orang itu kok.
Orang itu, masih terus berjalan mendekati kami. Zain dengan tubuh mode siaga, terus menatap orang itu.
Orang itu berhenti di hadapan Zain. Lalu mereka saling menatap satu sama lain cukup lama.
“Siapa lu???” Zain mengamangkan tangannya, bersiap membuka masker yang di gunakan pria tersebut, sementara aku memundurkan langkah ke belakang, takut aja terjadi apa-apa. Lagian orang itu siapa sih?? Di saat orang-orang tengah mengisolasikan diri, kenapa dia malah berkeliaran? Datang kerumahku lagi, plus bikin masalah lagi sama Zain. Ck bener-bener ni orang.
Ditanya sama Zain, orang itu malah menggelengkan kepalanya.
“Siapa Lu??“ lagi, Zain bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Orang itu, malah semakin menundukkan kepalanya, lalu menggelengkannya ke kiri dan kekanan. Seolah sedang mempermainkan Zain.
“Eeeeehhhh nantangin nih orang. Hhhiiiaaaatttt!!!” Zain mendaratkan tinjunya di wajah orang tadi.
Buk bak buk bak buk
“Aaaaaaaa Daddy udah, jangan bikin keributan!” teriakku, sambil mencoba memisahkan mereka.
Orang tadi mencoba melawan Zain, tapi dia kalah telak, dia mencoba mencakar wajah Zain, tapi Zain sangat lihai dalam urusan berkelahi. Tahu kan?? Zain langganan guru BP dulu, gegara dia suka banget berantem. Tapi, kalau di rumah, baru denger suara klotrak klotrek dikit aja, dia langsung ngumpet di belakangku sambil megangin ujung dasterku. Suami aneh!.
Tak lama ...
“Hah?? Lu tau gua???” tanya Zain, dengan tangan menyambar masker yang di gunakan pria tadi.
“Imam??!!!, waaahhh parah Lu? Mau ngerjain gua lu??!!!” teriak Zain, sambil terus memukuli pria tadi yang ternyata Imam.
“Dasar suami bucin Lu, cemburuan!” teriak Imam, sambil menyeka keringat di dahinya akibat perkelahiannya dengan Zain.
“Ya amppuunnn ... ayo masuk rumah semuanya” ajakku akhirnya.
***
“Kakak cantik, bosen gak sih?? Punya suami bucin kayak dia?? Yang kerjaannya cuman bisa ngurung Kakak Cantik di rumah saja??” tanya Imam padaku, setelah dia duduk di kursi ruang tengah, dengan hidangan teh panas dan cemilannya, hasil sajian dari Zain.
Setelah sebelumnya dia sempat cuci tangan dan membersihkan dirinya. Zain, memang sekarang agak protektif dengan kebersihan. Apalagi kalau mau pegang Pelangi, beuh ... dia mah paling gak bisa kalo liat orang lain langsung pegang Pelangi tanpa cuci tangan atau bersih-bersih dulu, apalagi sekarang lagi musim virus kayak gini. Padahal dulu, taukan?? Gimana joroknya dia?? Ya mungkin ini hikmah dari Zain kerja sebagai OB yaaaa. Semua yang kita lakukan pasti ada hikmahnya. Apapun itu.
“Emmmhhh ... ya gitulah” jawabku tersenyum sambil mengedikkan bahu.
“Kalau di tanya bosen atau enggak dengan kungkungan cintanya si Papah muda, jawabannya ya banget lah.” Ku ceritakan sedikit pengalamanku pada Imam, kala Zain tengah mengecek Pelangi di kamarnya.
“Gimana enggak? Kemaren aja ya, aku lagi pegang ponsel, liat chat dari Mamah, belum tahu jelas kebenarannya, si Papah Muda udah langsung ngomel aja, dia bilang ginih ‘Bagus yah, suami ada dirumah, masih aja mainin ponsel, Kakak mau aku sita ponselnya???’ Teriaknya kala itu.” Aku menirukan suara Zain, sambil sesekali tertawa, geli membayangkan kebucinan Zain.
Aku jawab “Ini pesan dari neneknya Pelangi Daddy”
“ ‘Ah, bohong’ Celanya, sambil merebut ponselku, dan setelah di ceknya, ternyata benar pesan itu memang dari Mamahku.”
“Eh, udah gituh tahu dia ngapain??” Aku menatap Imam, yang tengah menyimak ceritaku, Imam menggeleng, sambil bersiap tertawa.
“Ya garuk-garuklah, merasa tidak bersalah. ‘Ya udah, kalau gituh kita matiin aja lampunya yah??’ tawarnya tiba-tiba, mungkin maksudnya mau mengalihkan perhatianku”
“Idiiihhh ... ogah, yang salah siapa yang di hukum siapa??” Aku ya gak terima dong di gituin.
“Eeeehhheee ... Ya maaf Kakak” pintanya sambil melemparkan tubuhnya di kasur, dengan lampu yang sudah di matikan.
“Ya ya ya, seperti biasa akan aku maafkan” yah begitulah, salah satu keposesifan Zain terhadapku.
“Hahahahaha ...” Imam tertawa “Kalau aku udah ogah banget di gituin Kak” Imam terus tergelak.
“Kalian pada ngomongin apaan sih??” tanya Zain tiba-tiba dengan Pelangi dalam gendongannya. Ugh ... gemess deh kalo liat Zain kayak gituh.
“Gak ngomongin apa-apa” Aku menggeleng, sambil tersenyum kearahnya.
“Hay Pelangi, sinih sama Om!!” teriak Imam riang, sambil menengadahkan tangannya.
“Ish ... No! Lu gak higienis” Zain membentikkan jari telunjuknya.
“Eeeee sembuarangan! Gua udah cuci tangan pake sabun kali” Imam tak terima.
“Tetep gak! Pelangi cuman boleh di gendong sama Mommy dan Daddy nya” Zain duduk di sampingku,
“Ish ... sombong banget sih” Imam mendengus kesal.
“Lagian Lu mau ngapain si dateng kesini?? Si Budi mana??” tanya Zain akhirnya.
“Eeeemmmhhh ... Gua datang kesini mau ................”
Bersambung ....................
Mau apa coba?????? Hhheee
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komentar, bintang lima dan vote juga. Akan ada ekstra part lagi. Up nya kapan?? Gak tau, gimana respon dari readers semua aja aku mah. Hheee .....