TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Rencana Budi


“Mamah mertua hobynya shopping barang-barang branded dari luar negri, Papah mertua hobynya membeli saham, ish ... kenapa hoby mereka sungguh sangat sulit aku wujudkan?” Aku berjalan mondar-mandir di kamar Budi, sambil mengacak rambutku.


“Zain! Kamu kenapa mempersulit dirimu sendiri sih?? Kenapa kamu tidak meminta bantuan kedua orangtuamu saja??” Budi menepuk pundakku.


“Sebagai lelaki sejati, aku harus bertanggung jawab Budi, aku harus bisa berjuang sendiri!” tegasku, entah sudah berapa puluh kali Budi memperingatkan aku tentang idenya.


“Ouuuhhh ... Zain kami, sekarang sudah dewasa yaaa” Budi mencubit pipiku gemas.


“Ish, jangan menyentuhku! Itu menggelikan!” Aku menepis tangan Budi.


“Lalu, sekarang kamu mau apa Zain?” tanya Budi.


“Entahlah, aku bingung, hobby Papah dan Mamah mertua sungguh membuatku frustasi” jawabku kembali berjalan mondar mandir.


“Zain, kamu datang saja kerumahnya, kembali memohon pada mereka” usul Budi lagi.


“Tapi, aku masih trauma, sebelumnya aku sudah diguyur air seember!” Aku kembali mengingat kejadian malam itu.


“Ish, jangan mudah menyerah Zain, kamu pasti bisa melakukannya” Budi memberiku semangat.


“Budiiiiiiii!!!” tiba-tiba suara lengkingan khas emaknya Budi terdengar hingga ke angkasa raya.


“Haduh! kaget aku!” Budi mengerjap.


“Sebentar Zain“ Budi menepuk pundakku, lalu secepat kilat melesat pergi kearah sumber suara.


Lama, Budi tak juga kembali, aku kembali duduk terdiam, meraih ponsel kemudian menatap foto-fotoku dan Kak Yas, yang sempat kami ambil waktu bulan madu.


“Kakak ... aku merindukanmu, apa Kakak juga merindukan aku??” ratapku dengan pilu.


Rasanya rindu ini begitu menggebu, hingga aku sulit mengendalikannya.


“Ah ... apa aku culik saja Kak Yas? Bukankah dia istri syahku? Aku berhak atas dirinya, begitupun sebaliknya, tak ada yang salah bukan??” gumamku dalam hati, mencoba memikirkan bagaimana caraku membawa Kak Yas pergi.


“Ish ... Tidak!! itu bukan tindakan pria sejati! aku harus tetap meminta restu pada Papah dan Mamah mertua apapun yang terjadi, aku harus bisa!” kembali kubulatkan tekadku.


“Ada apa sih? Heboh amat?” tanyaku, menatap Budi yang tengah mengusap wajahnya.


“Ada kabar menggemparkan dikeluargaku Zain” jawab Budi.


“Apa? Apa? Apa?” tanyaku antusias.


“Kakak Iparku hamil Zain, Ibuku sangat bahagia, Ibu mau membuat acara syukuran besar-besaran, mungkin akan terjadi hingga tujuh hari tujuh malam Zain” jelas Budi sambil tetawa.


“Dasar lebay“ Aku menoyor kepala Budi.


“Huh Zain, aku yakin, selama ngidam Kakak Ipar pasti akan menyusahkan aku” keluh Budi.


“Kenapa?” tanyaku heran.


“Yah, tau sendirilah Zain, bagaimana manjanya Kakak iparku, padahal dulu Ibu tidak merestui hubungan mereka, bahkan setelah menikahpun Ibu masih saja bersikap tidak baik, sekarang, setelah tau Kakak Ipar hamil, Ibu langsung heboh mau ngadain syukuran” jelas Budi panjang lebar.


Tiba-tiba aku menghentikan langkahku, berdiri mematung, kemudian memutar tubuh menatap Budi, yang juga tengah menatapku.


“Hamil!!!” teriak aku dan Budi bersamaan, ternyata fikiranku dan Budi kali ini sama.


“Tapi apakah mungkin?? Bagaimana caranya? Kak Yas kan tidak sedang hamil?” Aku kembali terduduk lesu.


“Aish ... tenang Zain, semuanya bisa di atur” Budi tersenyum penuh arti.


“Apa maksudmu??” tanyaku bingung.


“Ohhhoooooo ...” Budi malah tertawa jahat.


Bersambung ..............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa readers, like, koment positif, vote sebanyak banyaknya, dan jangan lupa beri rating bintang lima, follow author juga yaaaaa ...... ...... .......