TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Hadiah Dari Zain


“Kenapa kamu bisa ada disini, dan terlibat perkelahian??” tanyaku berusaha sabar.


“A aku ...”


“Aku apa zain??” tanyaku mulai gemas.


“Aku kerja disini Kakak,“ akunya sambil gemetaran.


“Kerja?? Maksudnya??” Aku berusaha mencerna apa yang dikatakan Zain.


“Mbak memangnya tidak tahu, adik Mbak sudah dua minggu ini bekerja paruh waktu di caffe kami, dari pukul empat sore hingga pukul sepuluh malam,“ jelas manager sambil mengerutkan dahinya.


‘Jadi ini alasan Zain selalu pulang malam dan tampak kelelahan? Dia tidak kerumah Ibunya, tapi pergi bekerja paruh waktu? Tapi kenapa? Kenapa harus ada perkelahian lagi? Apa dengan berkelahi semua masalah jadi selesai?' hatiku bergemuruh.


“Maaf pak, saya tidak tahu“ jawabku menunduk lesu, merasa malu atas semua hal yang sudah dilakukan Zain.


“Sekarang orang yang di pukul Zain mana??” tanyaku sambil celingukan, dari tadi aku hanya melihat Zain sendirian.


“Orangnya sudah dibawa kerumah sakit Mbak “ jawab Manager.


“Di bawa kerumah sakit?? Apa separah itu??” tanyaku tidak percaya.


“Iya Mbak, bahkan lukanya harus di jahit, karena terkena pecahan piring” Manager caffe terus menghela napas, mungkin dia juga ingin melakukan terapi paru - paru, seperti yang sering kulakukan.


“Saya harap Mbak mau bertanggung jawab untuk biaya pengobatannya, dan ....” suara manager tercekat.


“Dan apa pak??” tanyaku.


“Dan Mbak mau mengganti seluruh kerusakan yang telah di lakukan Zain,“ Manager caffe menyodorkan secarik kertas, dan langsung aku terima.


“Apa?? Sepuluh juta pak??” Aku membelalakkan mataku, tidak percaya dengan apa yang kulihat,


“Iya Mbak, Zain telah merusak lebih dari dua lusin piring, satu lusin mangkuk, dan beberapa gelas import“ jelas Manager lesu.


“Zaiiiiinnnnnnnn!!!!!” Aku hampir saja berdiri hendak meremas wajah Zain yang sudah acak - acakan.


“Tenang Mbak, sabar,“ Manager caffe pun ikut berdiri, dan mencoba memegang tanganku.


“Jangan pegang tangan kak Yas!!!!“ tiba - tiba Zain yang dari tadi hanya merunduk, berdiri. Kemudian menghempaskan tangan manager.


“Diam kamu!!” sentakku, yang membuatnya terdiam dan kembali duduk ketempatnya semula.


“Baik pak, tolong maafkan semua kesalahan adik saya ya pak, saya akan mengganti rugi semuanya“ jawabku akhirnya, sambil menyodorkan ATM pemberian mertua, harusnya aku bisa shopping sesuka hati dengan saldo yang ada didalamnya, tapi ini?? Aku malah harus terus ganti rugi, untuk semua kesalahan yang telah Zain lakukan. Hiks ...


“Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak, kalau ada apa - apa lagi, jangan sungkan hubungi saya ya pak“ Aku kembali menjabat tangan Manager, dan melangkahkan kaki menuju luar caffe, kulihat tanpa diminta Zain mengikutiku dari belakang.


Aku memasuki mobilku di ikuti Zain yang telah duduk disampingku, sepanjang perjalanan, aku tidak mengatakan apapun, aku hanya diam membisu. Aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi tingkah suami bocahku ini.


Apa aku kembali lagi saja pada si Udin ya? Bukankah dia siap menceraikan Zanet demi aku?? Eh ... Astagfirullah ... entah apa yang sedang merasuki fikiranku ini?.


Setibanya di rumah, aku tidak mengatakan apapun, aku berjalan memasuki dapur, lalu mengambil minuman dingin dari kulkas, kemudian meneguknya, berharap minuman ini bisa menenangkan fikiranku yang sangat kacau balau tak karuan.


“Kakak ...” terdengar suara si bocah memanggilku, aku tidak peduli.


“Kakak, maafin Zain ya?” rengeknya,


“Kakak, Jangan marah ya“ lagi dia mengiba.


“Bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama Zain??” tanyaku datar, membuatnya terlihat semakin gemetar.


“I iya Kakak, maaf Zain khilap“ jawabnya, membuatku jengah.


“Khilaf?? Zain, apa dengan kekerasan semua masalahmu akan hilang??” tanyaku sambil menarik kursi kemudian mendudukinya.


“Ti tidak Kakak,“ Jawabnya terbata sambil menunduk.


“Zain, apa dengan melakukan kekerasan kamu merasa keren?” tanyaku lagi, menatapnya tajam.


“Lalu?? Kenapa kamu selalu baku hantam dengan temanmu sendiri??” tanyaku mulai mengintimidasi.


“Di dia bukan temanku Kakak, dia sudah menghinaku“ jawabnya tertunduk, dan kakinya semakin gemetar, jangan - jangan dia ngompol juga, ish ....


“Apapun alasannya Zain,  kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah,“ Aku menatap manik mata manusia yang katanya sudah menjadi suamiku, sungguh ini berat bagiku, kenapa aku harus menikah dengan bocah ini??.


“I iya Kakak, maafin Zain yaaa”


“Zain, aku harus apalagi agar kamu mau berubah?” tanyaku lemah.


“Maaf Kakak“.


“Apa hanya kata itu yang kamu miliki Zain?? Apa selamanya kamu akan tetap seperti itu??” tanyaku beruntun.


“Ti tidak Kakak, tolong jangan marah lagi ya kak,“ rengeknya lagi.


“Zain, aku tidak tahu, ada baiknya jika kamu pulang saja kerumah orangtuamu“ hish ... dialog ini, biasanya suami yang akan memulangkan istrinya kerumah mertuanya ketika di kecewakan, tapi lihat? Kini aku yang ingin memulangkan suamiku ke rumah mertuaku sendiri.


“Tidak Kakak, jangan, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi“ kali ini suaranya terdengar lebih memelas.


“Zain, apapun bentukmu, berapapun usiamu, apapun statusmu, kamu itu suamiku, dan harusnya, kamu jadi panutanku. Maaf Zain, bukan ini yang ku inginkan dalam menjalani rumah tangga ini“ Aku sungguh menyerah, dan memutuskan menjadi janda perawan adalah yang terbaik untuk saat ini.


“Kakak, jangan seperti ini, aku janji ini yang terakhir, aku tidak akan mengulanginya lagi, Kakak, aku mohon, lihat aku Kakak, aku akan menggit lidahku hingga berdarah“ rayunya lagi, mengulangi adegan yang sama seperti tempo hari, ketika dia melakukan kesalahan.


“Iya, silahkan gigit aja gigit“ jawabku sambil berlalu meninggalkannya sendirian.


Aku memasuki kamarku dan merebahkan tubuhku diranjang, hari ini sungguh hari yang sangat melelahkan jiwa dan raga.


Tok ... tok ... tok ....


“Kakak, aku boleh masuk kamar gak??” terdengar si bocah masih merajuk.


“Gak, kamu pergi aja Zain!!!“ teriakku dari dalam kamar.


“Gak bisa Kakak, Kakak gak mau lihat aku?? Aku juga terluka Kakak, pelipis aku sakit!!“ teriaknya tak mau kalah.


“Aku gak peduli Zain, obati saja lukamu sendiri, kamu waktu baku hantamnya ngerasa sakit gak?? Kenapa sekarang ngerengek minta di obatin sama aku!!!??” teriakku lagi tanpa membuka pintu kamar.


“Kakak, aku beneran pergi lho ya!!!“ teriaknya.


“Iya, pergi aja pergi!!!“ masih dalam posisi rebahan aku kembali berteriak.


“Beneran ya, jangan di cariin!!!“ teriaknya lagi lebih keras.


Aku mengedikkan bibirku, “Iya, gak akan!“ jawabku.


Kemudian suara Zain tidak terdengar lagi, aku tidak peduli, aku membenahi posisi rebahanku, lebih baik aku tidur saja. Etapi, si bocah beneran minggat gak ya?? Ah bodo amat, tapi aku penasaran. Aku kembali menyibakkan selimut yang sudah nyaman nempel di tubuhku. Aku berjalan membuka kunci dan membuka pintu.


“Zain ...” panggilku, tapi yang di panggil tak kunjung muncul


“Eh apa ini??” Aku meraih bungkusan berbentuk kotak di hadapanku yang hampir saja aku tendang, aku membukanya perlahan.


“Ini dari Zain??” gumamku sambil tersenyum,


“Waaahhh ... si bocah seleranya lumayan juga ya??” setelah membuka bungkusan kadonya, aku melihat ada satu setel baju berwarna pink peach dengan motif bunga - bunga, lengkap dengan hijabnya dengan warna senada,


“Ini apa lagi??” Sambil mengerutkan dahi aku meraih benda selanjutnya.


“Zaiiiiinnnnnnn!!!!!” Aku berteriak kala melihat ****** ***** dan bra, yang juga serasi dengan baju yang kupegang, berwarna pink bermotif bunga - bunga.


Bersambung........................


Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.....