
Memiliki tetangga yang masih muda, dan sama-sama masih pengantin baru, adalah sebuah kesenangan tersendiri bagiku, aku merasa sangat nyambung ketika berbicara dengan Tina, Tina memiliki usia beberapa tahun di bawahku.
Kadang aku merasa Tina itu sudah seperti adikku sendiri, ya mungkin karena aku tidak memiliki adik ataupun Kakak, jadilah aku menganggapnya demikian. Tina adalah perempuan yang sangat, unik, lucu, dan terkadang menggemaskan. Berbeda dengan sebelumnya, Pak Anto tetangga lamaku, aku hampir tidak pernah bertemu dengannya, karena selain dia duda pensiunan yang di tinggal mati oleh istrinya, Pak Anto juga terkesan agak genit. Jadi aku lebih memilih tidak dekat dengan para tetangga, yang notabenenya mereka juga sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
“Kakak, nanti siang kita bikin rujak yuk” Ajak Tina, kala kami baru pulang jalan jalan pagi.
“Waahhh ... aku suka itu, ayo” dengan semangat empat lima, aku langsung mengiyakan ajakan Tina.
“Aku punya mangga mudanya, Kakak masih punya bumbunyakan?? Itu lho Kak bumbu yang kemaren kita beli di toko itu” Tina mengingatkan.
“Iya masih ada, sengaja aku sisain” jawabku.
“Ya udah, kita ketemu nanti siang ya Kak” tiba di depan rumah masing-masing, kami berpisah, Tina segera memasuki rumahnya, dan aku memasuki rumahku.
“Kakak, dari mana??” ugh, my baby boy baru bangun bobo imut banget, he.
“Aku baru pulang jalan-jalan pagi sama Tina” jawabku, sambil membuka sandal yang kugunakan dari luar, dan menggantinya dengan sandal khas rumahan.
“Kakak gak bilang sama aku??” Dia cemberut.
“Ya aku gak tega banguninnya, kamu tidurnya pules gituh” jawabku sambil berlalu, meletakkan kue serabi, yang tadi sempat kubeli di jalan, buat sarapan my baby boy.
“Kakak, kalau mau kemana-mana harus izin dulu sama aku” tuh kan, dia cemberut lagi.
“Iya, maaf, besok gak gitu lagi” jawabku sambil berlalu menuju kulkas, menuangkan minuman dingin lalu meneguknya.
“Kakak, jalan-jalan kemana?” suamiku masih mengekoriku, berjalan mengikuti langkahku.
“Gak kemana-mana, cuman jalan aja sampai gapura, terus balik lagi, ini kue serabi, ayo makan” ajakku sambil menarik kursi makan, lalu menuangkan kue serabi pada piring.
“Gak!” eh, dia makin cemberut.
“Kok cemberut, kamu mau aku bikinin sarapan yang lain??” tanyaku bingung, masa iya aku jalan-jalan sebentar aja dia ngambek sih?? Ugh ...
“Gak!” lagi, dia memalingkan muka, dengan tangan di lipat di dada.
“Terus, kamu maunya apa??” tanyaku akhirnya.
“Kakak, jangan jalan terus sama si Tina, gara-gara ada dia, aku jadi di cuekin melulu” bibirnya itu lho, bisa gak sih kalo gak usah di maju-majuin kayak gituh?? Gemessss.
“Loh?? Sejak kapan aku lebih memprioritaskan Tina daripada kamu??” tanyaku menatapnya, darahku sudah mulai agak mendidih.
“Ya buktinya sekarang, Kakak gak bangunin aku, gak bilang dulu kalau mau jalan-jalan” Zain masih ngambek, dasar anak gadis, sukanya ngambekan.
“Iya, kan aku udah janji gak akan gitu lagi” Aku masih mencoba merayunya.
“Ucapan Kakak gak bisa di pegang!” lagi dia merajuk.
“Aku janji gak akan gitu lagi” Aku menjentikkan jari kelingkingku, berniat membuat janji dengan Zain.
Tok ... tok ... tok ...
Terdengar suara pintu di ketuk dari arah depan.
“Siapa Zain??” tanyaku menatapnya.
“Palingan juga Si Tina” Zain mendengus kesal, sambil berlalu menuju arah pintu.
Sementara aku menunggunya,dengan tetap diam di kursi makan, masih dengan menghadapi kue serabi, yang sama sekali belum di sentuh orang yang lagi ngambek.
“Kakak!” Tina melambaikan tangannya.
“Hai” Aku membalas lambaian tangan Tina, duh, Tina selalu datang di saat yang tidak tepat.
“Kakak, mas Agus udah berangkat kerja, aku sendirian di rumah, aku boleh bergabung sarapan disini yah??” pintanya, sambil meletakkan sayur sop di hadapanku.
“Iya, boleh, wah kayaknya enak ya sayur sopnya” aku menatap sayur sop sambil menelan ludahku, rasanya aku begitu menginginkannya.
“Jangan di makan!!” tiba-tiba Zain berteriak.
“Loh kenapa??” Tina menatap Zain dengan wajah bingungnya.
“Ini pasti gak enak!! Ini makan aja kue serabinya!!” Zain mendekatkan kue serabi, yang memang sudah dekat denganku.
“Ta tapi Zain, aku mau sopnya” Aku merajuk.
“Diam dulu” Zain merentangkan tangannya, menghalangi netraku.
“Biar aku dulu yang nyobain” Zain meraih sendok, kemudian mulai mencicipi sop buatan Tina.
“Cuih gak enak!!” Zain melepehkan sop yang di makannya.
“Loh?? Kok gak enak?? Kurang apa??” tanya Tina bingung.
“Rasanya asin banget!!! kamu tambahin upil berapa kilo??” tanya Zain berapi-api.
“Zaiiinnn ... anak orang kamu gituin, nangiskan jadinya??” Aku menyikut tangan Zain.
“Biarin aja, orang masakannya gak enak kok” Zain duduk di kursi, sambil memperhatikan Tina yang tengah menangis.
“Aku sudah berusaha dengan keras untuk memasak sop ini, tapi kenapa semua orang mengatakan jika sop ini tidak enak??? Hhuuaaaa ... “ tangis Tina pecah.
Aku hanya bisa menghela napas.
“Ya udah, sinih sekarang aku yang cobain yaa” Aku kemudian menyendok sop buatan Tina.
Puiiiihhh ... seperti yang di katakan Zain, sopnya memang keasinan “Sopnya enak kok” kataku, mencoba meredakan tangisan Tina.
“O ya??” Tina mengangkat kepalanya.
“Iya, hanya saja, mungkin jika Tina mengurangi garamnya sedikit, mungkin rasanya akan lebih enak” Aku tersenyum menatap Tina, takut jika ucapanku juga akan menyakiti hatinya.
“O ya?? Baiklah lain kali kalau aku masak sop lagi, aku akan mengurangi garamnya” Tina tersenyum padaku.
“Cih! apa bedanya ngurangin garam sama keasinan, dasar perempuan bodoh!” Ku dengar Zain berbisik, menggumamkan sesuatu yang masih bisa kudengar.
“Zain!!” Aku menyikut lagi tangan Zain.
“Perempuan memang susah dimengerti!!” Zain melengos lalu berlalu memasuki kamar.
“Kak Zain gak kerja Kak??” tanya Tina.
“Gak, katanya hari ini libur dia” jawabku.
“Sebentar yah, aku mau nyusulin Zain dulu” Aku beranjak menuju kamar, setelah mendapatkan anggukan dari Tina, sementara itu kulihat sekilas Tina tengah asyik memakan kue serabi yang aku tinggalkan.
Kkkrriiieettt ...
Pintu kamar aku buka, kulihat si anak gadis lagi tengkurep di atas ranjang.
“Zain??” sapaku sambil mengusap punggungnya.
“Aku gak suka Kak, aku gak suka kalau Tina terus main kesini, dia itu ganggu Kak,” Zain kembali mengutarakan ketidaksukaannya pada Tina.
“Zain, gak boleh gituh, dia kan tetangga kita, jadi kita harus menghormatinya” jelasku.
“Aku gak suka sama tetangga yang gak tau waktu kayak dia Kak” Zain kembali cemberut.
“Zain ...”
“Kak, Bi Inah aja kalau aku libur, aku larang buat kesini, kenapa itu si Tina suka banget seenaknya keluar masuk rumah ini??” Zain menatapku.
“Iya, di maklumi aja Zain, mungkin dia gak ada temennya di rumah, mungkin dia kesepian” jelasku.
“Aku juga kesepian, kalo Kakak asyik terus sama Tina” Zain menggenggam tanganku.
“Ya udah, maafin aku ya Zain, aku janji gak akan membiarkan Tina mengganngu kita lagi” Aku tersenyum menatap yang lagi cemberut.
“Beneran??” Zain menatapku semakin dalam.
“Iya” Aku mengangguk.
“Kalau gitu disini dulu lima kali” Zain mengetuk pipinya dengan jari telunjuknya.
“Ck, kebiasaan kamu” Aku memutar kedua bola mataku.
“Ayooooo” Zain mulai memasang wajah mesumnya.
“Iya, iya, muach, muach” Akhirnya aku mengalah, menghujani wajah Zain dengan ciumanku, tapi ... kala ciuman itu masih berlangsung.
“Kakak .... oooohhh may got!!! maaf ganggu Kakak!!” tiba-tiba Tina datang membuka pintu, menutup mulutnya, lalu langsung lari keluar.
“Dasar!!! tetangga gak ada akhlak!!!!” teriak Zain.
Brruuukkk ...!!!!
Zain menutup pintu kamar dengan kesal.
Bersambung .......................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, koment, bintang lima sama votenya juga, author tunggu yaaa....
Kadang, author suka bingung readers, kenapa ya?? jumlah viewers, jumlah like, sama jumlah koment, bedanya jauh banget??? dukungan untuk buku ini, masya Allah banget, buku ini masih tetep stuck di level 5, tau kan artinya??? yah ... begitulah, menyedihkan.
Follow juga akun IG author
Teteh_neng2020