
Tiba di sebuah pinggiran jalan yang lumayan sepi, aku menghentikan motor, lalu turun. Kemudian aku beranjak menuju tepian trotoar. Menghempaskan bokongku disana, dengan kaki berselonjor, Zain mengikutiku, lalu duduk disampingku.
“Zain ... Sampai kapan kita akan seperti ini??” Aku menatap Zain, tapi yang di tatap malah tersenyum lembut padaku.
“Kakak, percayalah, semua ini akan segera berlalu“ jawabnya lembut, ah ... Zain, untuk pertama kalinya kamu mampu mengusir rasa takutku.
“Bagaimana caranya??” tanyaku.
“Aku akan berusaha hingga Mamah dan Papah merestui hubungan kita Kakak” jawabnya semangat.
“Kamu bisa Zain??” tanyaku ragu, seorang Muhammad Zain, pria cengengesan, dan manja ini, mungkinkah dia mampu melewati masalah ini?? Hatiku berkecamuk hebat.
“Bisa Kakak, percayalah“ Zain meraih bahuku lalu memeluknya.
“Apa Kakak merindukan aku??” tanyanya.
“Sangat“ jawabku.
Seketika Zain meraih daguku, menatapku dalam, perlahan tapi pasti Zain mencium bibirku lembut dan dalam. Aku menikmati setiap gerakannya.
“Eemmhh Zain, kita lagi di pinggir jalan” Aku melepaskan ciuman Zain, sadar kita berada di tempat umum.
“Kita ini suami istri Kakak” Zain tersenyum.
“Suami istri iya, tapi tau tempat dong“ Aku mendelik.
“Kakak ...”
“Iya“
“Aku hanya ingin Kakak tau, meskipun kita berjauhan, tapi Kakak selalu ada disini, di hatiku“ Zain menunjuk dadanya.
“Hmht, kamu juga Zain,“ Aku menunduk malu.
“Kakak, jangan menyerah, mari kita berjuang bersama” Zain mengacungkan tangannya.
Aku terkekeh melihat tingkahnya, “Semangat!!” Aku membalas acungan tangannya, kemudian kami tertawa bersama. Sungguh cinta itu hanya sesederhana ini, cukup ketika aku bisa bersama Zain, maka semua gelisah, keluh, dan kesahku hilang seketika.
Pukul sebelas malam, sudah terlalu malam bagi kita, untuk terus berjalan-jalan, semua hal yang kita inginkan, sudah kita lakukan.
“Zain, ayo kita pulang“ ajakku.
“Tapi, aku masih sangat merindukan Kakak” rengeknya.
“aku juga Zain, tapi jika terlalu lama kita di luar, kita bisa kena masalah yang lebih besar” jelasku.
“Ah, baiklah, kita pulang“ Zain kembali menuntunku untuk menaiki motor sekuternya, aku memeluk Zain sekuat tenaga dari belakang. Rasanya tak ingin berpisah lagi dengannya.
Zain menggenggam tanganku, dengan tangan kirinya, kali ini, kami adalah dua insan yang tengah jatuh cinta, tak ingin dipisahkan, namun terpaksa harus berpisah karena ujian dari kedua orangtuaku. Ini mengenaskan. Tapi apalah dayaku???.
Tiba di depan rumah, aku turun dari motor, melihat keadaan sekitar, gelap, lampu luar tidak dinyalakan, “Apa Mamah dan Papah sudah tidur??” gumamku menatap Zain.
“Mungkin Kak“ jawab Zain mengedikkan bahunya.
“Kakak,“ Zain mencengkram tanganku erat, dia menatapku dalam, aku tau dia tidak ingin berpisah denganku.
“Hmht” Aku menunduk, karena akupun merasakan hal yang sama.
Ceklek ....
Semua lampu penerangan menyala.
“Yasmin!!!” tiba-tiba terdengar suara Papah berteriak.
Aku memegang tangan Zain kuat, meminta perlindungan.
“Kakak, tenang ya“ Zain membalas cengkramanku.
Papah datang menghampiri kami, dengan menahan emosi.
“Begini kelakuan kamu Yasmin!!” teriak Papah.
“Pah, Zain suamiku, apa yang salah!!??” teriakku.
“Masuk rumah kamu!!” Papah menjentikkan telunjuknya.
“Pah ...”
“Masuk!!!”
“Papah, tolong restui hubungan kami, terima aku sebagai menantumu” Zain turun dari motor kemudian berlutut di hadapan Papah.
“Tidak!!!” Papah melipat kedua tangannya di dada.
“Berani kamu mengajak putriku berkeliaran!!!” tiba-tiba Mamah datang dari dalam rumah dengan menenteng ember, entah apa yang ada di dalam ember tersebut.
“Mah ... “ Aku menghalangi jalan Mamah.
“Anak nakal kamu!!” teriak Mamah.
Bbbyyyuuuuurrrrr ..............
Seketika badan Zain basah kuyup karena di siram air satu ember oleh Mamah.
“Mamah!!!” Aku histeris menghampiri Zain lagi.
“Masuk rumah!!” Papah kembali berteriak
“Sini kamu!!” Mamah menggeret tanganku kuat, lalu memaksaku masuk kedalam rumah.
Sementara pandanganku masih bertahan pada Zain, dia terlihat menggigil kedinginan.
“Zain!” teriakku.
Tapi zain hanya terus berlutut, di hadapan Papah.
“Mamah!! lepas! Yas mau sama Zain Mamah!” teriakku.
“Diam kamu, masuk!!” Mamah melempar tubuhku kedalam kamar.
Brrraaakkk!!!
Pintu di tutup dari luar tak lupa Mamah kembali menguncinya dari luar.
“AAAAAAAAAAAAA!!” Aku berteriak histeris sekuat tenaga.
“Zain .... hiks“ Aku kembali menangis terisak.
Bersambung ................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ...............