
Setelah kejadian baku hantam antara Zain dan Udin tempo hari, kini semua pegawai di toko kue pun sudah tahu faktanya, fakta bahwa aku sudah menikah dengan pria kecil bernama Muhammad Zain, kalau ada yang nanya bagaimana perasaanku?? jawabannya pasti antara malu, gengsi, tengsin dan sejenisnya.
Menikah itu impian setiap perempuan normal, dan impian perempuan normal adalah bisa menikah dengan pria yang dewasa, bisa melindungi, bertanggung jawab, ganteng, kaya raya, dan sebagainya, sedangkan Zain?? dia juga tampan, berasal dari keluarga kaya raya, tapi?? dia masih bocah mak, jangankan harus bertanggung jawab untuk diriku, dirinya saja harus di tanggung oleh kedua orangtuanya, dan yang sekarang mungkin akulah yang harus bertanggung jawab atas hidup Zain, hhuuuhhh ....
“Ciiiieeee ... Kak Yasmin, ternyata udah nikah yah?? tapi kok gak undang-undang kita sih!?” seru Sarah pegawaiku, ketika aku datang ke Toko kue.
Aku hanya memutar kedua bola mataku,
“Apa sih?? kalian, udah jangan gosip“.
“Hiiihhii Kak Yas, suami Kak Yas kok imut banget sih??” Sarah kicep-kicep.
“Hhmmhhtt ...” Aku berdeham, sambil melewati mereka.
“Tapi Kak, suami Kak Yas masih SMA ya?? aku liat dia pakai baju seragam SMA kemarin??” Masih dengan ke kepoannya Sarah malah mengikutiku.
“Iya,“ akhirnya jawabanku meluncur begitu saja.
“Kak Yas, hati-hati lho ya, kalau punya suami masih remaja“ Sarah memperingatkan.
Aku berhenti berjalan, kemudian memutar tubuhku, menatap Sarah.
“Memangnya kenapa??” tanyaku sambil mengerutkan kening.
“Ya Kak Yas tau sendirilah, masa remaja itu, adalah masa yang labil, masa untuk menentukan pilihan, remaja itu adalah masa dimana orang akan memiliki rasa penasaran yang tinggi, dan ingin mencoba semua hal baru“ jelas Sarah, membuatku tertegun.
“Kamu bener juga Sar,“ Aku duduk di antara kursi pengunjung diikuti Sarah.
“Sar, kamu waktu remaja gitu juga??” tanyaku tiba-tiba.
“Hhee ... lebih dari itu Kak“ jawabnya cengengesan.
“Hah?? maksudnya gimana??” tanyaku.
“Iya Kak, dulu waktu aku sekolah, selain suka nyontek dan suka kabur di jam pelajaran, aku suka ikut sama cowok aku buat tawuran lho Kak“ jelasnya membuatku melongo, kulihat penampilan Sarah dari atas hingga bawah, keliahatannya alim banget ni anak, tapi ...
“Bahkan Kak, pernah yah, aku mau kabur dari sekolah, aku manjat pagar sekolah kan?? tau gak Kak?? ternyata rok aku nyangkut dipagar sekolah, jadinya badan aku ngegantung gituh, terus diketawain anak-anak lain, hahahaha” Sarah tertawa mengingat masa lalunya.
“O ya?? terus kamu di turunin siapa dong??” tanyaku penasaran dengan cerita Sarah.
“Ternyata masa remaja kalian kayak gitu ya??” Aku menunduk mengingat kembali masa sekolahku, dimana aku hanya menghabiskan seluruh waktuku hanya untuk belajar, jika ada waktu luang disekolah, aku akan menghabiskan waktu untuk berdiam diri dipojokan perpustakaan.
Dan jika aku ada waktu luang diluar sekolah, aku hanya akan mengikuti beberapa les tambahan, waktuku tersita oleh belajar, hingga aku tidak pernah merasakan masa remaja seperti mereka.
“Kak, suami Kak Yas gitu juga gak??” tanya Sarah tiba-tiba.
“Eeemmhh ...” Aku bingung mau jawab apa, apapun bentuknya Zain itu suamiku, mana mungkin aku menyebar aibnya, tapi kenyataannya Zain kan langganan guru BP. Ah ... Zain kamu sungguh-sungguh membuatku pusing setengah mati.
“Kak???” Sarah kembali bertanya.
“Iya??” jawabku.
“Suami Kak Yas disekolahnya pasti populer banget ya??” tanya Sarah lagi.
‘Iya, populer, saking populernya sampai jadi langganan guru BP.’
“Eeemmhh, mungkin“ jawabku sambil mengedikkan bahu.
“Kalau populer, berarti banyak cewek yang naksir dong Kak??” pertanyaan Sarah membuatku tersentak.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Ya maksudnya, kalau anak-anak yang populer disekolah itu kan biasanya disukai banyak orang Kak, masa gitu aja gak ngerti sih Kak??” Sarah terlihat jengkel ketika bicara denganku, seketika ingatanku kembali melayang pada seorang gadis yang meminta restu dariku, untuk hubungannya dengan Zain, ish ... mereka sungguh tidak punya harga diri, perempuan macam apa yang mengejar ngejar laki-laki??.
“Kak??” Sarah menepuk pahaku.
“Eh, apa?” seketika aku tersadar dari kegiatan mengumpat perempuan yang naksir Zain.
“Aku kembali kerja lagi ya Kak“ pamit Sarah sambil beranjak.
“I iya“ jawabku sambil meneruskan lamunanku,
Bener juga apa yang dibilang Sarah, Zain disekolah pasti punya banyak pacar, hhuuhhh ... sebentar, kenapa aku jadi mikirin Zain yang di taksir banyak perempuan ya???ish ... aku tidak suka fikiran ini.
Bersambung...............
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaaa....readers manis...