
“Terimalah lagu ini, dari orang biasa, tapi cintaku padamu luar biasaaaaaaa ... eeeaaahhh ... yyeeeaaahhh ... uuhhhuuu ...” terdengar suara lengkingan dari kamar mandi, dengan gendre seriosa.
Ck! aku memutar kedua bola mataku.
“Zain!!! jangan nyanyi kalau lagi dikamar mandi!! Gak baik!!” teriakku.
“Yeeeaaahhh ... yyeeaaahhh“ masih terdengar suara lengkingannya, kali ini dengan gendre R&B.
Ck! aku kembali berdecak, kenapa dia?? Hari ini terdengar begitu bahagia dan sangat sumringah. Iya memang, aku juga tengah bahagia, setelah kami mendapatkan restu dari semua orangtua kemarin, rasanya dada ini terasa sangat plong.
Kejujuran memang bisa mengubah suasana hati kami, awalnya memang berat untuk mengatakan kejujuran itu. Tapi setelah di lakukan ternyata luar biasa, efeknya bagi hidup kami.
Kkkrrriieettt ... pintu kamar mandi dibuka.
“Aku jatuh cinta, kepada dirimu, sungguh-sungguh cinta, oh apa adanya” Zain menunjuk wajahku dengan tangannya, sambil terus menyanyikan lagu-lagu kebangsaannya. Sementara itu handuk berwarna putih masih melilit di pinggangnya, tetesan air bekas mandi masih menetes dari rambut dan tubuhnya.
“Zaiiinnn!! udah ih, kamu jangan nyanyi melulu” Aku mengibaskan tanganku pada wajah Zain, yang masih menunjukku.
“Eeehhheee ... hari ini aku begitu bahagia Kakak” Zain menggaruk tengkuknya.
“Ini baju kamu” Aku menyodorkan baju yang sudah kusiapkan pada Zain, termasuk bokser doraemonnya.
“Kakak? Apa ini?” Zain mengangkat bokser doraemonnya keudara.
“Itu benda kesayanganmu bukan??” tanyaku bingung.
“Ish ... Kakak, aku gak mau pake ini lagi, aku sudah dewasa, masa masih pakai celana motif begini??” rajuknya. Hih, kenapa dia?? Apa restu orangtua kami, membuatnya menjadi so dewasa dengan mengubah selera? Ck.
“Ya ya ya, lalu kamu mau pake yang mana?? Orang semua celana kamu motifnya kayak gitu semua kok” Aku mendekati lemari, lalu mengacak isinya, khusus di bagian dalaman.
“Ini aja,“ Aku mengacungkan bokser dengan motif garis garis, warna gelap.
“Ish, itu seperti Bapak-bapak, aku tidak suka” Zain menggelengkan kepalanya.
“Ini aja yah??” Aku kembali mengacungkan benda keramat itu, dengan warna dan model yang berbeda.
“No no no, itu terlalu dewasa” Zain menjentikkan telunjuknya.
“Ini??” Aku kembali mengangkat bokser lain.
“No! itu terlalu feminim” Zain menggeleng.
“Astaga ... kenapa pagi ini jadi ribut hanya karena daleman??” Aku mendelik, setelah merasa jengah dengan tingkah Zain.
“Ehhheee ... yang ini aja” Zain meraih bokser dengan warna pink, bermotif hati.
“Ck!!! bocah!!” setengah kesal aku ingin mencubit Zain, tapi yang mau di cubit malah berkelit dan lari. Aku tak mau kalah, aku mengejarnya. Dan terjadilah kejar kejaran di kamar yang sudah bak kapal pecah ini.
“Kakak ... “ suara lembut nan manja itu kembali terdengar di telingaku.
“Apa??” Aku menoleh, terlihat si Baby Boy sedang bergelayut manja di pintu dapur.
“Kalau lagi masak jangan sambil maen Handphone, nanti masakannya gosong” Zain mendelik, mendekatiku lalu mengintip ponselku.
“Aku kan lagi liat tutorial masak Zain” Aku mengacungkan ponselku, memang aku sedang menonton tutorial masak udang saus tiram kok. Buat makan My Baby Boy.
“Paling kalau ada chat masuk di bales juga” Dia mendelik, ugh ... gemes lama-lama, rasanya pengen nampol, pake bibir. eh?.
“Ya kan sekalian Zain” Aku berkilah.
“Kakak“ panggilnya, sambil mendorong kursi makan yang menempel rapat pada meja.
“Aku mau bawa bekal buat makan siang hari ini,” pintanya, tumben sekali dia.
“Iya, baiklah” tak ingin banyak protes, aku langsung menyetujui permintaannya.
“Zain, hari ini aku mau ke toko kue ya, pulangnya pasti agak sorean,” izinku, ugh ... aku harus selalu minta izin atas apapun yang akan aku lakukan pada suamiku ini. Kalau enggak dia bisa ngomel-ngomel, taukan?? Kalau bocah udah ngomel kayak apa?? Serem juga.
“Iya, tapi jangan genit-genit sama si Om itu lho” peringatnya, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Riyan Zain, namanya Riyan, kamu bisa memanggilnya Kakak, sama seperti kamu manggil aku” Entahlah, meskipun awalnya aku marah ketika Zain menggilku ‘Kakak' tapi lama-lama aku suka ketika Zain memanggilku Kakak, rasanya berbeda saja, di tambah lagi, dia bilang kalau panggilan ‘Kakak’ itu adalah panggilan kesayangannya untukku, my baby boy lucukan??.
“Ish, aku masih gak suka sama dia” Zain mengibaskan tangannya.
“Gak boleh gitu Zain, gak baik, Riyan 'kan masih kerabat kita juga” jelasku.
“Apapun alasannya Kakak” ok. Suara Zain mulai agak meninggi, pertanda aku sudah tidak boleh membantah lagi.
“Baiklah,” jawabku, sambil duduk di hadapan Zain, meraih piring kemudian mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya, hasil karyaku pagi ini.
“Eeeemmmhhh ... masakan Kakak tambah enak aja” ting, ting, Zain mengedipkan matanya berkali-kali.
“Gombal” Aku mendengus, menahan senyuman, rasanya bahagia bisa dipuji suami sendiri.
“Jangan lupa bungkusin buat nanti makan siang” lagi perintah yang sama.
“Tuh, udah aku siapin” Aku menunjuk rantang makanan yang sudah aku tata dengan rapi di pojokan meja makan.
“Kakak, emang istri yang baik” Zain kembali mengunyah makanannya.
“Eemmhh ...” Aku kembali menahan senyuman.
“Kakak, aku berangkat kerja dulu ya” pamit Zain, dia menyodorkan tangannya padaku, aku mengernyitkan dahi.
“Minta bekal??” Aku tersenyum, kala ingat kebiasaan Zain dulu, menyodorkan tangan kalau mau minta bekal sekolah,
“Bukan” Zain menggeleng.
“Apa??” tanyaku sambil mengebikkan bibir.
“Salim” jawabnya.
“Ini” Aku menyodorkan tanganku.
“Ish, Kakak yang harus salim sama aku” Dia terus menyodor-nyodorkan tangannya.
“Uuuuhhhh ... “ Aku tersenyum, meraih tangannya, lalu menciumnya.
“Istri baik, sinih” tiba-tiba Zain menarik tanganku,
Cup ... dia mengecup keningku singkat, aku tertegun, agak kaget bercampur senang.
Cup cup cup Zain kembali menghujani wajahku dengan ciumannya.
Aku tersadar, pipiku memerah, sebelumnya Zain sering melakukan hal ini padaku, tapi kali ini sensasinya agak berbeda, entahlah, aku sangat senang kali ini. Bisa sedekat ini dengan Zain, menghabiskan banyak waktu bersama, tanpa rasa cemas dan gelisah membuatku sangat bahagia.
bersambung .......................
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, boleh author minta like, komentar, bintang lima dan votenya yaaa ...
follow juga akun IG author yaaa ( Teteh_neng2020) Makasiiihhh .....