
“Hah?? Zain??” Aku beranjak, menyibak selimut, kemudian mendekati bayangan hitam itu, ku sibakkan gorden, terlihat Zain sedang berdiri tegak, melambaikan tangan sambil tersenyum, menenggelamkan mata sipitnya.
“Zaiiiinnnn ...“ Aku menganga tak percaya, Zain ada di hadapanku, seketika rinduku terobati.
“Kakak ...“ Zain melambaikan tangannya.
“Zain ... “ Aku membalas lambaian tangannya.
Zain mendekatiku, berusaha membuka jendela.
“Zain, hati-hati“ bisikku, sambil membentikan telunjuk, memberi isyarat, agar Zain tidak berisik, agar Papah dan Mamah tidak mendengar suara kami.
Jendela, dengan di lapisi teralis besi, cukup sulit ketika membukanya. Tapi, demi cinta apapun menjadi terasa mudah, termasuk membuka teralis besi jendela kamarku.
“Kakak ... “ Zain memelukku erat, setelah dia berhasil masuk kedalam kamarku.
“Zain ... “ Aku membalas pelukannya, menebus rindu yang menggebu.
“Apa Kakak merindukan aku??” tanyanya menatapku penuh harap.
“Tentu saja aku sangat merindukanmu my baby boyku“ mataku berkaca-kaca.
“Ish, aku suamimu Kakak“ Zain memutar kedua bola matanya.
“Hmht, suamiku Muhammad Zain“ Aku mengangguk, mencubit pipinya gemas.
“Kakak, mau jalan-jalan??” tawarnya.
Aku terdiam, aku sangat ingin berjalan-jalan dengan Zain, tapi dengan situasi seperti ini?? Kalau Mamah dan Papah tau, bisa jadi tambah runyam urusannya.
“Ayo Kakak“ Zain menuntun tanganku, mendekati jendela tempat dia masuk tadi.
“Ta tapi Zain“ Aku meronta.
Zain tersenyum “Kakak bisa mengandalkan aku kali ini” katanya penuh percaya diri.
“Baiklah,“ Aku mengikuti langkahnya, melompat dari jendela. Huh ... kita sudah seperti maling.
Kami berjalan mengendap-endap, menuju pagar, dan berhasil!! kami berhasil keluar dari rumahku,
“Taaarrraaaa!!” Zain merentangkan kedua tangannya.
“Hah??” Aku menutup mulutku, “Zain, kita mau jalan-jalan menggunakan motor ini??” tanyaku kala melihat motor sekuter sudah berada di hadapanku.
“Iya, Kakak suka??” tanyanya.
“Hhmhh, aku suka, sangat suka” jawabku menganggukkan kepala.
“Baiklah, ayo naik istriku“ Zain menuntun tanganku,
“Ahhh ... terimaksih suamiku“ Aku menaiki motor Zain,
Setelah melewati jalanan sepi, Zain merentangkan tangannya.
“Zain!! bahaya!!” Aku menegurnya, takut jika aku akan terjatuh.
“Hahha ... Kakak coba berteriak!!” perintahnya.
“Hah?”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!” Zain berteriak sekuat tenaga.
“Kakak, kalau kita merasa sangat sesak di dada, berteriak bisa menjadi penawarnya” teriak Zain.
“Ayo teriak!!” perintahnya lagi.
“Aaaaa“ teriakku pelan.
“Jangan begitu, itu terlalu imut, untuk berteriak! begini ... AAAAAAAAAAAAAA!!!” Zain kembali mencontohkanku.
“AAAAA!!!” Aku masih ragu untuk berteriak.
“Kakaaaaaaaaakkkkkk!!!! Aku mencintaimuuuuuuuuuuu!!!!” Zain berteriak lagi.
“Zain, aku juga!!“ dengan malu-malu aku mengikuti saran Zain.
“Ish, mana bisa pelan begitu di sebut berteriak??” Zain mengusap kepalanya.
“ZZAAAIIIINNNN !! AAKKUU JUGA SANGAT MENCINTAIMUUUUU!!!” teriakku akhirnya.
“Nah, bagaimana?? Apa terasa lega??” tanyanya menoleh kebelakang.
“Hemh ... sangat lega“ jawabku.
Cceekkkiiitttt ...
Tiba-tiba motor di rem mendadak, hingga aku hampir terpental.
“Zain!! apa-apaan kamu?? Bahaya tau!!” Aku memukul punggung Zain saking kagetnya.
“Kakak, jika di fikir-fikir, kenapa rasanya tidak seru??” Zain menatapku, sambil tersenyum mencurigakan.
“Apa maksudmu Zain??” tanyaku bingung.
“Kakak, bawa motornya, Kakak yang didepan, aku di belakang” Zain turun dari motor, dan aku menurut mengemudi motornya.
Angin malam menerpa wajah kami, rasanya sedikit lega, aku mengendarai motor, Zain memegang pinggangku, kami meneriakkan rasa cinta, rindu, dan segala kegelisahan kami di antara sunyinya malam. Ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah kami, tapi setidaknya beban di dadaku sedikit berkurang. Cinta kadang terlihat gila. Tapi begitulah ia.
Bersambung .............
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ............ ............. .......................