
“Zain, beberapa hari ini kenapa kamu terlihat sangat murung sekali??” Pak Ruben bertanya padaku, kala aku tengah melamun sendirian di pantry.
“Engh ... enggak apa-apa Pak Ruben“ jawabku menggeleng
“Tidak apa-apa Zain, kalau kamu ada masalah, kamu bisa berbagi cerita denganku” Pak Ruben mendekatiku, kemudian duduk di sampingku.
“Emmhh ... “ Aku masih bingung menimang-nimang, apa aku harus mengatakan semuanya pada Pak Ruben?.
“Tidak apa-apa, katakan saja, mumpung lagi gak ada orang” Pak Ruben berbisik.
“Se sebetulnya saya sedang ada masalah dirumah Pak” jawabku menunduk.
“Masalah apa?? Coba katakan padaku” Pak Ruben semakin merapatkan tubuhnya padaku.
“Sa saya lagi ada masalah dengan istri saya pak” jelasku ragu-ragu.
“Whaaattt?? ka kamu sudah menikah Zain??!!!” Pak Ruben menutup mulutnya, setelah berteriak.
“I iya pak” jawabku gugup, takut dengan tanggapan Pak Ruben.
“Za zain, kamu baru lulus SMA kan?? kenapa kamu sudah menikah? Atau jangan-jangan? Kamu? Eeeiiiissshhh ... kamu ternyata pria sejati Zain” Pak Ruben terkekeh setelah menuduhku, aku langsung faham akan pemikiran Pak Ruben.
“Aish .... Tidak Pak, bukan karena itu, ah ya sudahlah“ Aku menepiskan tangan, tak ingin menjelaskan apapun lagi, aku tidak mood untuk berbicara lagi.
“Zain, apa istrimu cantik??” tanya Pak Ruben menatapku.
“Ya iyalah, Kak Yas itu perempuan paling cantik didunia ini” jawabku membusungkan dada karena bangga.
“Apa dia memiliki leher yang panjang seperti si Rina? Ish aku sungguh tak menyukai perempuan berleher panjang, itu terlihat seperti jerapah, hhiii ...“ Pak Ruben terkikik, kemudian kembali menerawang.
“Atau apa dia seperti Tyas?? Yang memiliki badan montok? Ish, itu juga aku tidak menyukainya, perempuan montok itu boros kalau di ajak jajan Zain” lanjut Pak Ruben dengan mata menatap langit-langit, dengan tangan menopang dagunya.
“Atau dia seperti Ida?? Perempuan galak?? Iiiissshhhh ... aku sungguh ngeri membayangkan perempuan galak itu, hobinya hanya memerintah!” Pak Ruben kembali bergidik, mungkin khayalannya sudah sangat jauh.
“Kak Yas itu, perempuan yang sangat baik, lembut, dan juga cantik, itulah sebabnya aku sangat mencintainya” Akupun mengikuti gaya Pak Ruben, menopang wajahku dengan tangan, dengan mata menatap langit-langit, membayangkan setiap masa yang telah kami lewati bersama, rasanya sangat menyenangkan, aku begitu merindukannya.
“Sebentar!!” tiba-tiba pak Ruben menepis tanganku.
“Kenapa pak??” tanyaku kaget.
“Kenapa kamu dari tadi memanggil istrimu dengan sebutan Kakak??” tanya Pak Ruben dengan tatapan menyelidik.
“Karena Kak Yas lebih tua dariku, itu adalah panggilan kesayanganku untuknya” jawabku sekenanya.
“Beda delapan tahun Pak“ jawabku jujur.
“Wwhhhhaaaatttt??” Pak Ruben terbelalak kaget.
“Kenapa pak??” tanyaku bingung.
“Zain? Apa dia sering menyiksamu?? Apa dia seperti nenek sihir??” tanyanya beruntun.
“Haish ... Tidak Pak, Kak Yas adalah perempuan yang sangat imut di usianya” jawabku masih ngeyel.
“Oooouuuhhh ... itu menyenangkan Zain, perempuan dewasa itu selalu penuh dengan gairah” Pak Ruben kembali bergidik.
“Tentu saja, Kak Yas adalah perempuan yang aktif dan energik” jawabku bangga.
“Uuuuuhhhh ... apa aku juga harus mencari perempuan yang lebih tua Zain??” tanya Pak Ruben meminta pendapatku.
“Bu Ida saja Pak” usulku,
“Perempuan kacamata itu?? Ish...dia lebih cocok menjadi ibuku Zain, daripada menjadi istriku” jawabnya polos.
“Hhhiiiiaaaaaa .... apa kamu bilang??? Aku pantas jadi ibumu???” tiba-tiba tiga perempuan perkasa yang dari tadi kami bicarakan muncul dipintu.
“Dan aku seperti jerapah??!!!”
“Dan aku perempuan montok yang jajannya boros??!!”
“A ampuuunn ... tidak bu, bukan begitu, ampun! ampun!” Pak Ruben merentangkan tangannya, kemudian menutupkannya ke wajah sebagai perlindungan diri.
“Ruben!! Rasakan betapa ganasnya perempuan-perempuan yang kamu umpat dari tadi!!”.
“Hhhiiiaaaatttt ... !!!!!”
Buk!! bak!! buk!!
“Ampuuunnnn!!!!”
Buk!! bak!! buk!!
Bersambung ............
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ..... ...... ......