
Kini aku sudah berada di salah satu ruang bersalin, yang berada di salah satu rumah sakit swasta.
“Aaahhh ... Zaiiiinnn perut aku sakit banget” berkali-kali aku merintih, sambil meremas tangannya. Sesekali tanpa sadar aku mencakar tangannya.
“Adduuuhhh ... Kakak sabar yaaa” Zain kembali garuk-garuk, sejurus kemudian, kulihat matanya berkaca-kaca.
“Kakak, maaf sudah membuta Kakak kesakitan” Dia mengelus kepalaku lembut, lalu mencium keningku, “Kakak sabar yaa”.
“Ini semakin sakit, lebih sakit dari yang tadi” ucapku.
“Dokter!! Gimana caranya biar Kak Yas gak kesakitan lagi??” tanya Zain pada Dokter yang menanganiku, terlihat dia begitu prustasi.
“Sabar ya Pak, Bu, ini baru pembukaan lima kok, di nikmati aja setiap prosesnya” jawab Dokter santai.
“Apppaaaa??? Jadi ini masih lama??!” seru Zain.
“Apanya yang mau dinikmati?? Ini sakit??!” teriakku.
Dokter tersenyum “Kalau bisa jangan mengejan dulu ya Bu, rileks saja, kalau Ibu mengejan dari sekarang, bisa menyebabkan kepala bayi Ibu akan memanjang” jelas Dokter.
“Seperti pinokio Dok??” tanya Zain tiba-tiba.
“Pinokio yang panjang itu hidungnya Pak” jawab Dokter tertawa.
“Ah, iya saya lupa” Zain kembali garuk-garuk.
“Ahhh ... Dokter!! Kok kayaknya ada yang pecah ya dari perut saya??!!” teriakku, kala kurasakan ada sesuatu yang pecah seperti balon di dalam perutku, apa bayiku kenapa-napa??.
Dokter segera memeriksa, “Ooohhh ini air ketubannya sudah pecah, tapi pembukaannya belum sempurna, tunggu sebentar lagi ya Bu”.
“Sebentar lagi??? Dari tadi sebentar lagi, tapi kapan Dok??” tanyaku mulai tak sabar.
“Cucuku!!! cucuku sudah lahir??” tiba-tiba segerombol orang masuk tanpa perintah.
“Mamah ... hiks ...” Aku memeluk Mamah, yang tiba-tiba datang dan membuat kegaduhan.
“Tenang sayang, Yas pasti kuat” Mamah dan Mamer memberiku semangat.
“Mamah, ternyata melahirkan sesakit ini ya?? Maafin Yas ya Mah, Yas banyak salah” tangisku pecah, ternyata melahirkan bisa sesakit ini, aku harus mempertaruhkan nyawaku demi lahirnya anakku.
“Tenang sayang, Yas anak Mamah pasti kuat, Yas pasti bisa” Mamer memelukku, sambil berderai air mata.
“Baik, Ibu, sekarang pembukaannya sudah lengkap, siapa yang mau mendampingi Ibu Yasmin??” tanya Dokter tiba-tiba.
Mamah dan Zain saling bertatapan, terlihat Zain berkali-kali menelan salivanya dengan susah payah, mungkin dia tidak tega melihatku terus menahan sakit.
“Saya saja” Zain maju, dan para Mamah segera mundur, keluar dari dalam ruangan sambil komat-kamit.
“Baiklah, sekarang Bu Yasmin ikuti arahan saya ya, Bu Yasmin tarik napas dalam-dalam, kemudian mengejan ya” perintah Dokter, dan akupun mengikuti arahannya.
“Eeeeeuuuuhhhh .... hhhuuuhhh ... Aku gak kuat Dok” ucapku sambil terengah-engah.
Terlihat Zain semakin cemas, keringat dingin mulai membasahi bajunya.
“Kakak, Kakak harus semangat yah, demi anak kita!!” Zain mencengkram erat tanganku, memberiku kekuatan penuh.
Sekali lagi, aku menarik napasku dalam-dalam.
“Eeeeeeuuuuuhhhhhhh ...”
Bbbrruuukkkk ...
Tiba-tiba Zain terjatuh, lemah tak berdaya di lantai.
“Hah??? Zaiiiinnnn kenapa kamu malah pingsan sih??? Aku gimana???!!!” teriakku, sambil merasakan rasa sakit yang semakin menjadi.
“Dasar suami cemen!!” teriakku.
Akhirnya Dokter mengarahkan salah seorang susternya untuk membawa Zain keruang UGD.
Aku kembali meneruskan perjuanganku, melahirkan sendirian, tanpa di dampingi Zain, mungkin sudah takdirnya, aku memang harus jadi perempuan perkasa.
Sepuluh menit kemudian ...
“Ooooeeeekkkk ... ooooeeekkk ... oooeeeekkkk ... “
Akhirnya bayi mungil berjenis kelamin perempuan yang masih terlihat sangat merah terlahir kedunia ini. Aku begitu terharu ketika pertama kali melihatnya. Seorang suster membawanya, lalu menyimpannya di atas dadaku, rasa haru, bangga, senang tak terkira menyelimuti hatiku. Aku begitu bahagia, bisa menjadi seorang Ibu, setiap rasa sakit yang kurasakan tadi, tiba-tiba sirna kala melihatnya tertidur nyenyak di atas dadaku.
“Terimakasih banyak Dokter” tanpa terasa aku meneteskan air mata haru dan bahagia.
Dokterpun mengangguk dan keluar dari ruangan, meninggalkan aku dan bayiku yang tertidur di dalam boksnya.
“Eh, suster?? Mana suami saya??” tanyaku, bingung juga, gimana keadaan si Papah muda sekarang?.
“Emmhh ... suami Ibu, baru siuman, mungkin dia akan segera kesini” jawab Suster sambil tersenyum, aku mengangguk.
Tak lama kemudian ....
“Sayang ... !!!” Zain datang terengah-engah, lalu memelukku erat, kemudian mencium keningku.
“Zain, kita jadi orangtua” Aku menangis dalam pelukannya.
“Mana anak kita??” tanyanya, sambil mendekati boks bayinya.
“Assalamu’alaikum sayang, Papah adzanin kamu dulu yah” Zain memangku anaknya, lalu mengadzaninya. Aku menatap kegiatan Zain dengan penuh haru.
“Cucuku, mana cucuku??” tiba-tiba para orangtua kembali datang dengan hebohnya.
“Halllooo ... “ Mereka heboh berebut ingin memangku cucunya.
“Ish ... tenang, semuanya harus antri jika mau melihat putriku!!” teriak Zain sambil merentangkan tangannya.
“Ish ... Mamah udah gak sabar ini, besan aku dulu yang mau melihat cucuku!!” teriak Mamah.
“Tidak bisa besan, aku dulu” Mamer gak mau kalah.
“Ish, ya sudah suwit aja” Zain memutar kedua bola matanya, melipat tangannya di dada.
“Ya udah, kita barengan aja” akhirnya mereka kompak.
“Loh?? Kok Papah udah duluan sih mangku babynya!!” teriak mereka kompak, kala melihat para Papah tengah menggendong cucunya.
“Eeehhheeeee ...” para Papah kompak tertawa.
“Kakak ... “ tiba-tiba Tina dan Bi Inah datang sambil menyeret kaki masing-masing, yang terlihat sangat gemetaran.
“Tina, Bibi, terimakasih banyak telah membantuku tadi” Aku tersenyum menatap mereka yang terlihat lemas.
“Aku, demi apapun, baru pertama kali melihat orang yang mau melahirkan Kak, aku bener-bener takut” Tina memelukku “Selamat ya Kak, udah jadi Ibu” bisiknya di telingaku, aku mengangguk lalu tersenyum.
“Non, demi apapun Bibi gak mau lagi, di ajak sama non Tina, jantung Bibi serasa mau copot!!” seru Bi Inah, sambil mengurut dadanya.
Aku kembali tertawa, “maafkan kami ya Bi”
“Selamat ya Non, sudah jadi Ibu” Bi Inah ikut memelukku dengan penuh rasa haru.
“Terimakasih Bi, terimakasih semuanya”
“Yasmin!!! gimana rasanya melahirkan??” tiba-tiba tiga orang makhluk masuk kedalam ruanganku dengan banyak hadiah di tangannya.
“Tante Meta, Om Bayu, Riyan” Mereka memelukku kompak.
“Rasanya melahirkan itu nagih, rasanya mau lagi” jawabku, sambil nyengir.
“Hhahaaahhha” Mereka tertawa bahagia.
“O ya Zain?? Kamu beri nama siapa anakmu??” tanya Tante Meta tiba-tiba.
Semua orang yang ada di dalam ruangan ini menatap Zain, menunggu jawaban Papah muda,
“Putriku, akan aku beri nama Pelangi Amadia Zain, artinya anak perempuan yang penuh cinta dan kebaikan” ucap Zain sambil tersenyum.
“Aaahhh nama yang Indah, hay pelangi ...” sapa Tante Meta sambil menoel pipi Pelangi.
Pelangi putriku, semoga kelak dia menjadi anak yang shalehah, semoga kelak dia menjadi penolongku di akhirat nanti, semoga kelak dia bisa menjadi amal jariyah yang tak pernah terputus untuk kedua orangtuanya.
Aamiin.
Meet world Pelangi Amadia Zain.
TIMIT