TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG

TERPAKSA MENIKAHI BRONDONG
Perhatian Zain


“Kakak, aku mohon maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja“ sayup terdengar, suara Zain di antara kesadaranku, dia mengelus wajahku, dan mengompresnya, aku masih memejamkan mataku.


“Kakak, aku sungguh tidak suka jika milikku di sentuh orang lain“ lagi dia berkata sendiri.


“Kakak, apa aku harus mencuci tubuhmu dengan abu gosok?? agar sentuhan si Udin tidak ada lagi di bahu ini??” Zain mengelus bahuku, yang tadi sempat di tempeli kepala si Udin.


“Kakak, aku tidak bisa melihat Kakak bersentuhan dengan pria manapun, jadi jangan begitu lagi hum??” Zain memindahkan kompresan di wajahku, mencelupkannya kedalam baskom, memerasnya, kemudian kembali menempelkannya di wajahku.


Zain terus menepuk-nepuk punggungku lembut, hingga rasa ngilu itu hilang, dan aku kembali terlelap.


Pagi hari ...


Ketika aku terbangun, aku sudah mendengar suara dentingan alat masak dari arah dapur, mungkin itu Zain yang sedang memasak.


Aku mencoba bangun, kini rasa sakit di tubuh dan di wajah semakin terasa, aku tidak mengerti, Zain yang hobi sekali berantem, kenapa dia seperti tidak pernah merasa sakit? Lah aku?? Kenapa rasanya begitu ngilu??.


Aku bangkit, kulihat jam di dinding, ternyata baru pukul lima pagi, aku menuju kamar mandi dengan tertatih, kemudian wudhu, dan segera menunaikan shalat subuh.


Setelahnya, aku kembali terbaring, ugh ... rasa sakit ini sungguh sangat menyiksaku.


Kkkrrriiieettt ....


Pintu di buka, Zain menyembulkan kepalanya, aku segera memejamkan mataku kembali berpura-pura tertidur.


Zain mendekatiku, kemudian meraba dahiku, dan menaikkan selimut hingga ke dadaku.


“Kakak, Kakak istirahat aja ya, aku mau berangkat kerja, aku udah siapin sarapan buat Kakak,“ Zain mencium keningku, kemudian beranjak pergi keluar kamar.


Samar kudengar, suara motor Zain berlalu, aku segera bangkit dan beranjak menuju dapur.


Aku celingukan, kemudian menghampiri meja makan. Lalu membuka kerudung saji yang menutupi makanan, aku tersenyum kala melihat hidangan yang di sajikan oleh Zain. Nasi goreng, telur mata sapi, dan sosis bakar, di tambah segelas lemon tea hangat yang masih mengepul. Aku duduk, kemudian menyendok nasi, ternyata rasanya tidak seburuk yang kukira. Di bawah piring, aku menemukan secarik kertas, perlahan aku membukanya, aku tersenyum kala membaca isinya.


‘Dear istriku ... maafkan aku untuk kejadian semalam, aku hanya sedang cemburu, itu saja. Jangan lupa makan, dan minum obatnya‘ emote love, love, dan cium.


Aku kembali tersenyum, sambil meraih obat yang di maksud Zain, beberapa obat berbentuk pil, dan sebuah obat berbentuk salep ada dalam genggamanku sekarang.


“Zain, apa kamu akan tetap seperti itu?? Zainku yang imut“ lirihku dalam hati. Sambil menempelkan kertas tulisannya di dada.


“Harusnya aku membencimu atas sikapmu semalam Zain, tapi kenapa aku tidak bisa membencimu?? Kamu terlalu imut untuk di benci Zain, iya kan??” Aku menggumam sendiri.


Aku menyambar ponselku dari dalam saku jaket yang kugunakan, terlihat Tante Meta yang menelponku.


“Assalamu’alaikum Tante?” sapaku.


“Wa’alaikumsalam Yas, lagi apa?? Di mana kamu??” tanya Tante Meta.


“Aku lagi sarapan Tante, aku di rumah sekarang, ada apa??” tanyaku.


“Gak apa-apa, kamu jarang main sekarang kesini Yas, kamu main kesinilah, Tante gak ada temen ini,“ pinta Tante Meta, sebetulnya aku juga rindu pada Tante, tapi, apalah dayaku wajahku saat ini sedang tidak memungkinkan untuk keluar rumah.


“Tante, aku sedang tidak ingin keluar rumah“ elakku.


“Loh?? Tumben?? Kenapa?? Kamu lagi sakit Yas??” tanya Tante mulai keppo.


“Tidak Tante, hanya saja aku ingin istirahat, aku lagi males ngapa ngapain“ jawabku sekenanya.


“hah? apa kamu sedang hamil Yas??” Tante Meta histeris, ish ... dasar Tante tukang gosip.


“Gak Tante, bukan begitu“ jawabku bingung, mau menjelaskan apa.


“Ah, apa Tante datang saja ke rumahmu Yas?? Kita periksa test kehamilan“ Tante Meta makin histeris.


“Tante! stop! aku tidak hamil, aku hanya sedang malas saja keluar rumah“ jelasku lagi, tidak ingin Tanteku yang rempong ini semakin menjadi.


“Iya Yas, kamu tau?? Malas itu sifat ibu hamil“ Tante Meta tergelak di seberang sana.


“Ish, Tante jangan nyebarin gosip yang gak bener lho“


“ih, Yas kamu ini gimana sih?? Gak apa-apa, gak usah malu malu“ Tante Meta masih memaksa.


“Udah ah, ngomong sama Tante gak akan ada akhirnya, Assalamu’alaikum“


“Eeehhh ni anak di kasih tau juga, ya udah Wa’alaikumsalam, jangan lupa beli test pack Yas“ masih sempat kudengar ocehan Tante rempong. Tanteku tercinta.


Bersambung ................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ......