
Percayalah, segala bentuk kebohongan yang pernah kamu lakukan, tidak akan pernah berujung dengan kebaikan. Ketika kamu melakukan sebuah kebohongan, maka kamu akan sibuk mencari kebohongan lainnya, untuk menutupi kebohongan yang sudah kamu buat.
Terkadang, jujur untuk di benci di awal, dan di sukai di akhir akan lebih baik, daripada bohong untuk di sanjung di awal, tapi di benci di akhir.
Kebohongan akan terasa menyakitkan jika sudah di ketahui kebenarannya.
Percayalah, bohong itu melelahkan.
Malam ini, aku, Pamer, dan Mamer sedang duduk di soffa di ruang tengah, sementara Zain duduk di kursi soffa di hadapan kami.
“Kakak ... maaf, aku udah bohongin Kakak selama ini” Zain menundukkan kepalanya, dengan tangan yang di apit di antara kedua pahanya, menyembunyikannya, karena tangan Zain terlihat gemetaran.
Aku hanya bisa diam, sungguh aku tidak bisa mengatakan apapun.
“Hhhuuuhhh .... “ terdengar Pamer menghela napas berat.
Sementara Mamer dari tadi hanya menangis, mungkin tidak terima jika putra semata wayangnya akan menjalani pekerjaan seperti ini.
“Mamah, bilangin sama Kak Yas, aku merasa bersalah, aku gak akan berbohong lagi” Zain mendekati lalu mengiba pada Emaknya. Tapi, seolah kelu Mamerpun hanya terdiam.
“Papah ... “ Zain berlutut di bawah kaki Pamer.
“Eeeekkkhhheeeemmmm“ tiba-tiba Pamer berdehem hingga membuat kami agak terlonjak kaget.
“Anak nakal, apa yang sudah kamu lakukan hah!!!?? Kamu membuat Papah malu, dengan bekerja sebagai OB di perusahaan mitraku!! Apa kata relasi bisnis Papah nanti Zain?? Kenapa kamu tidak memikirkan segalanya sebelum kamu bertindak!!!?” terlihat wajah Pamer begitu merah padam. Mungkin beliau amat marah.
“Maaf Papah” Zain kembali menunduk, aku tahu, dia merasa amat bersalah.
“Maaf Zain?? Maaf?? Semua kata maafmu sudah tidak berguna sekarang Zain, Papah sudah dapat malu besar!!!” Papah mengusap wajahnya, terlihat beliau begitu kalap.
“Kenapa kamu selalu bikin malu kami Nak??” kali ini Mamer angkat bicara, sementara aku masih tetap diam, menonton kejadian ini dengan seksama.
“Maaf Mamah” Zain menoleh padaku, segera aku memalingkan wajahku.
“Sungguh tak ada yang bisa di harapkan dari kamu Zain!!” bentak Papah.
“Papah!!! Mamah!!! Semua yang aku lakukan selama ini adalah untuk kalian semua!!” tiba-tiba Zain berdiri.
“Cih ... untuk kami??” Pamer melengos.
“Selama ini, aku hanya di cap sebagai anak kecil yang tidak bertanggung jawab, aku juga hanya di cap sebagai Zain anak Mamah sama Papah, aku tidak ingin itu!!, tak pernah sekalipun Mamah dan Papah percaya pada pilihan dan keputusanku, aku tidak suka itu Papah, sebagai seorang pria sejati, aku ingin memilih jalan hidupku sendiri” Zain terdiam, menghentikan kata katanya, mencoba mengambil napas.
“Dulu, waktu aku mau jadi pemain bola Mamah dan Papah melarangku, sekarang ketika aku bekerja kenapa Mamah dan Papah juga malu?? hanya karena aku bekerja sebagai OB?? Aku hanya ingin menjadi suami yang bertanggung jawab Pah, aku tidak ingin menggantungkan hidupku pada kalian, aku hanya ingin menafkahi anak dan istriku dari hasil jerih payahku sendiri, salahkah aku?? Tapi, kenapa semua yang aku lakukan selalu salah di mata kalian??” Zain melanjutkan ucapannya dengan masih berapi-api. Zain yang imut, lucu, dan selalu tertawa entah pergi kemana dia? Sekarang yang ada hanya Zain yang tengah kalap.
Aku hanya bisa menutupi wajahku dengan kedua tanganku, rasanya dadaku sungguh sesak, tak menyangka kejadian ini akan terjadi. Sementara itu, air mataku sudah luruh. Aku masih tidak percaya dengan segala pemikiran Zain.
“Kakak!! apa Kakak juga tidak akan menerimaku jika aku bukan anak Mamah dan Papah?” tiba-tiba Zain menunjuk wajahku, pertanyaan macam apa itu?? Aku tau Zain tengah dikuasai emosi. Kami semua sama-sama emosi, atas ketidak jujuran Zain. Aku tidak menjawab, aku tetap diam, aku tidak ingin menjawab sebuah pertanyaan penting di saat aku tengah emosi.
“Zain, aku bangga sama kamu, kamu adalah suami dan calon Ayah terbaik, kamu pria bertanggung jawab, yang pernah aku kenal, aku mencintai kamu, bukan karena kamu anak dari Mamah dan Papah, tapi karena aku tahu Zainku adalah pria yang bertanggung jawab” ucapku akhirnya.
“Kamu bukan anak yang mau memanfaatkan harta orangtuanya, kamu juga bukan suami yang mau memanfaatkan harta mertua dan istrinya, aku bangga punya Zain, tapi Zain? Kenapa kamu harus berbohong?? Karena kebohonganmu, aku juga jadi ikut berbohong, dengan mengatakan pekerjaanmu pada orang lain” Aku kembali terdiam.
Seketika bayangan masa lalu bersama Zain muncul bergantian dikepalaku, hari ketika aku memutuskan hubungan dengan si Udin yang sudah berkhianat dariku lalu bertemu Zain tanpa sengaja, malam ketika aku mendatangi pernikahan Si Udin, yang membuatku terjebak harus menikah dengan Zain, hari hari ketika Zain menjadi siswa nakal, dan aku harus bertanggung jawab. Hari di mana Zain, untuk pertama kalinya bekerja, menghasilkan uang, dan memberiku baju dengan gaji pertamanya, malam pertama kami, hari-hari dimana kami di pisahkan karena kedua orangtuaku, perjuangan kami untuk bisa kembali bersama hingga hari ini, aku kembali menemukan fakta bahwa Zain adalah pria yang bertanggung jawab, dengan mau bekerja tanpa mau bergantung pada siapapun. Meskipun usia kami terpaut jauh, nyatanya Zain bisa berfikir lebih jauh dariku. Aku fikir, hanya aku anak yang tidak ingin bergantung pada uang orangtua, nyatanya Zain pun begitu.
“Kakak ... Jika aku tidak berbohong, akankah Kakak mau menerimaku?? Akankah Kakak mau menerima pekerjaanku yang hanya jadi seorang OB??” tanya Zain, menatapku penuh harap.
“Tentu saja” jawabku “Zain adalah Ayah dari anakku, aku sangat mencintaimu, anak kita juga akan bangga jika dia tau, punya Ayah bertanggung jawab seperti kamu” jawabku, seraya berdiri, lalu mendekati Zain, Aku memeluk Zain dengan derai air mata.
“Maafkan aku sayang, karena aku, Kakak menangis” Zain menempelkan jempolnya di pipiku, mengusap air mataku.
“Tidak seharusnya aku bohongin Kakak, maaf Kakak, aku hanya terlalu takut, Kakak meninggalkanku karena keputusanku” Air mata Zain ikut luruh, aku tau Zain begitu menyesal.
“Mana bisa seperti itu?? Kamu adalah Imamku, aku harus mengikuti langkahmu, selama kamu melakukan hal yang baik, dan apa yang kamu lakukan sekarang adalah hal baik, aku bangga sama kamu Zain” Aku mengeratkan pelukanku.
Dalam sebuah pelukan, kami menangis bersama, rasanya begitu aneh, segala macam perasaan bercampur aduk dihatiku, rasa senang, terharu, bangga dan sedikit kesal ada di dalam hatiku kini. Tapi, aku sangat mencintai Zain, apapun yang dia lakukan aku akan memaafkannya selama dia mau mengakui kesalahannya, dan mau berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.
Sementara itu, Mamer dan Pamer hanya bisa saling tatap, dan menempelkan kepalanya satu sama lain, sambil tersenyum memperhatikan tingkah kami.
“Ternyata Zain kami sekarang sudah dewasa, kamu mau bertanggung jawab atas keluargamu nak” Mamah mengusap ingus yang keluar dari hidungnya karena terlalu lama menangis.
Aku melepaskan pelukan Zain, lalu berputar menatap Mamer dan Pamer yang tengah menatap kami.
“Mamah, boleh aku meminta sesuatu??” tanyaku.
“Apa sayang?? Tentu boleh” Mamah mengangguk.
“Mamah, jangan bilang ‘Zain kami’ lagi, karena Zain juga milikku” pintaku sambil tersenyum.
“Hahaha ... baiklah, Zain kita!!” seru Pamer dan Mamer kompak.
“Mamah, Papah, Kakak sayang, terimakasih sudah mendukungku, aku begitu bahagia” Zain memeluk kami bertiga, dan kami membalas pelukannya. Dengan posisi aku sebagai Lala, dan Zain sebagai pooh.
Setelah kebohongan yang selama ini di sembunyikannya, Zain terlihat lebih lega, dan lebih bebas.
Bersambung .......
Jadi, kalau ada readers yang lagi terjebak dalam sebuah kebohongan, jujur aja yah, percayalah, jujur itu melegakan J
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers .... like, komentar, bintang lima dan vote juga.
terimakasiihh ...