Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
97. Kepergok Mama Mutia


Di pagi hari yang sedang dihiasi dengan rintik-rintik air hujan, Arisa membangunkan suaminya yang tidur lagi setelah sholat subuh. Angga mengeluh jika udara sangat dingin dan terus bergelung dalam selimut hingga tertidur. Arisa membiarkannya saja karena jarang sekali Angga tidur setelah sholat subuh. Lagipula hari ini adalah akhir pekan sehingga ia dan suaminya itu tidak harus pergi ke kantor.


" Mas, bangun yuk " ucap Arisa menggoyang lengan Angga pelan.


" Eghh " lenguh Angga karena merasa ada yang mengganggu tidurnya.


" Mas, cepat bangun " ucap Arisa lagi karena Angga masih belum membuka matanya.


" Sebentar lagi, Sayang " jawab Angga tanpa membuka matanya.


Angga menarik tangan Arisa hingga Arisa terjatuh di atas tubuhnya dan memeluknya dengan erat.


Arisa tentu saja terkejut dan ingin segera melepaskan pelukan itu tetapi Angga malah semakin mempereratnya.


" Mas, ayo bangun ih. Ini udah siang loh, Papa sama Mama aja udah sarapan. Bahkan Papa sudah pergi ke bandara dari tadi " ucap Arisa pada Angga agar lekas bangun.


Jam memang sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan Angga masih saja betah berada di atas tempat tidur. Papa Hari bahkan sudah berangkat ke bandara untuk pergi keluar kota, membantu perusahaan Wicaksono Group yang berada di Surabaya bersama Tuan Gunawan.


" Baiklah, aku akan bangun. Tapi berikan aku kecupan selamat pagi terlebih dahulu " ucap Angga mulai membuka matanya menatap wajah cantik istrinya.


" Ih, gak mau " tolak Arisa malu jika ia harus mengecup bibir suaminya itu lebih dulu.


" Jika begitu aku akan melanjutkan tidurku saja " ucap Angga memejamkan matanya kembali.


Cup.


Mata Angga langsung terbuka lebar saat merasakan bibir manis istrinya itu menempel di bibirnya. Tangan Angga langsung bergerak cepat menahan tengkuk Arisa sebelum istrinya melepaskan ciuman itu. Angga menekannya sehingga ciuman itu semakin dalam dan Angga terus menelusuri isi mulut istrinya itu.


Arisa memukul-mukul dada Angga karena ia sudah hampir kehabisan napas.


" Huh, hah, huh, hah " Arisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya setelah Angga melepaskan ciuman mereka.


" Kamu tu, Mas. Bilangnya cuma kecupan tapi aku hampir kehabisan napas " ucap Arisa memukul dada Angga lagi sedikit keras.


Angga hanya terkekeh karena melihat wajah Arisa yang kesal dan juga puas mendapatkan ciuman dari istrinya itu.


Setelah itu, Arisa mengajak Angga untuk segera keluar dari kamar dan sarapan. Angga pun pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan juga menggosok gigi lalu menyusul Arisa yang sudah berada di meja makan lebih dulu.


" Mama dimana? " tanya Angga karena tidak melihat keberadaan Mama Mutia.


" Mama ke supermarket depan, katanya ada yang mau dibeli " jawab Arisa dan Angga pun menganggukan kepalanya.


Angga segera duduk di kursi yang biasa ia duduki dan menunggu Arisa yang sedang mengambilkan makanan untuk dirinya.


" Seharusnya kamu makan lebih dulu, tidak perlu menungguku " ucap Angga pada Arisa.


Angga bisa menebak jika Arisa belum sarapan karena menunggu dirinya. Tidak mungkin sepagi ini Arisa akan makan untuk yang kedua kalinya.


" Gak papa, Mas. Lagian aku maunya makan berdua sama kamu " jawab Arisa tersenyum.


Setelah itu mereka pun sarapan bersama dengan sesekali diselingi dengan obrolan-obrolan ringan.


" Mau kopi, Mas? " tawar Arisa setelah selesai makan.


" Boleh " jawab Angga.


Arisa segera membuatkan secangkir kopi hitam untuk Angga dan meletakkannya di hadapan suaminya itu.


Kemudian Arisa membereskan meja makan dan mencuci bekas makan mereka. Sedangkan Angga menikmati secangkir kopi buatan istrinya itu di meja makan.


Arisa baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya dan mengelap tangannya dengan lap kering di dekat rak piring. Tapi tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan pelakunya tidak lain dan tidak bukan pasti suaminya.


" Mas " pekik Arisa karena sempat terkejut.


Arisa memang tidak menggunakan hijab karena hanya mereka berdua di rumah.


Tubuh Arisa langsung meremang karena mendapatkan perlakuan seperti itu dari Angga. Apalagi tangan Angga berusaha memasuki kaos yang Arisa pakai jika Arisa tidak langsung menghentikannya.


" Mas, tangannya jangan nakal " ucap Arisa menahan tangan Angga.


" Tidak nakal Sayang, aku hanya ingin menyentuh mainan kesukaanku " jawab Angga.


Wajah Arisa memerah seperti tomat matang karena mengerti mainan apa yang Angga maksud.


" Ist, nanti kalau Mama liat gimana. Lepasin ih " ucap Arisa memukul tangan Angga yang kembali ingin masuk ke dalam kaosnya.


" Mama sedang pergi ke supermarket, jadi aman " jawab Angga.


Angga membalik tubuh Arisa hingga menghadapnya. Angga juga mendorong tubuh Arisa hingga membentur meja dan berada di bawah kungkungan Angga.


" Jangan macam-macam deh, Mas " ucap Arisa berjaga-jaga karena Angga semakin mendekatkan wajahnya.


" Tidak sayang, aku hanya ingin satu macam " jawab Angga tersenyum smirk.


Angga langsung menarik tengkuk leher Arisa sehingga ia bisa menciumnya. Arisa hanya pasrah karena tenaganya tidak akan bisa melepaskannya dari suaminya itu. Angga menarik pinggang Arisa sehingga tubuh mereka menempel.


Setelah Arisa terbuai dengan ciuman mereka, tangan Angga bergerak untuk masuk ke dalam kaos yang dikenakan oleh Arisa. Arisa tidak menyadari itu hingga suaminya itu meremas salah satu dadanya di dalam bra. Angga terus memainkannya dan Arisa tidak munafik jika ia juga menikmati itu.


Suara lenguhan terdengar dari mulut Arisa yang masih dibungkam oleh oleh bibir Angga. Angga bahkan tidak ada puasnya untuk terus mengecap bibir manis itu.


" Eghh " lenguh Arisa karena Angga terus memainkan dadanya.


Mereka terus menikmati semua itu di dapur hingga suara seseorang mengagetkan mereka berdua.


" Lanjutkan di kamar, jangan di dapur " ucap seseorang yang suaranya sangat mereka kenali.


Angga dan Arisa sangat terkejut dan langsung melepaskan pangutan bibir mereka. Angga juga langsung mengeluarkan tangannya dari dalam kaos Arisa. Mereka salah tingkah dan sibuk merapikan pakaian mereka masing-masing.


Mama Mutia yang baru saja kembali dari supermarket hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak dan menantunya itu. Ia berniat pergi ke dapur untuk meletakkan barang belanjaan tetapi malah melihat sebuah adegan panas dari pasangan yang sedang kasmaran itu.


" Sana pergi, Mama mau beresin barang belanjaan " usir Mama Mutia karena anak dan menantunya itu hanya menundukkan kepalanya malu.


Tentu saja sangat malu, apalagi Arisa yang serasa tidak memiliki keberanian lagi untuk melihat wajah ibu mertuanya itu setelah kepergok tadi.


" Arisa ke kamar dulu, Ma " ucap Arisa lalu langsung pergi ke kamarnya.


" Angga juga, Ma " sambung Angga langsung menyusul Arisa.


Lagi-lagi Mama Mutia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum melihat itu lalu mulai merapikan barang-barang belanjaan.


Sementara itu di dalam kamar, Arisa merasa sangat kesal pada suaminya. Ia juga merutuki kebodohannya karena terbuai oleh sentuhan Angga sehingga harus menanggung malu karena kepergok Mama Mutia.


" Sayang, jangan marah. Lagipula kamu juga menikmatinya " bujuk Angga karena Arisa terus mendiamkannya setelah masuk kamar.


Arisa pun semakin kesal mendengar itu walaupun yang Angga katakan benar jika ia menikmatinya tetapi tetapi saja itu karena Angga memaksanya.


Kemudian Arisa segera naik ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, termasuk kepala. Angga pun segera menyusul istrinya itu dan terus berusaha membujuknya karena ia tidak ingin sampai harus kehilangan jatahnya jika Arisa terus marah.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘