Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
118. Sayang Adik Bayi


Saat Arisa dan Tya sampai di kediaman Keluarga Wicaksono, mereka langsung di sambut oleh Nyonya Dewi serta Aditya dan Raila. Raila yang sudah berusia satu tahun dan mulai belajar berjalan, menghampiri Arisa dengan memegang tangan sang kakak.


" Halo Sayang " sapa Arisa pada Raila setelah mencium tangan Nyonya Dewi.


Raila pun tertawa saat melihat Arisa.


Sebenarnya Arisa ingin memeluk Raila tapi dengan perutnya yang sudah sebesar itu, tidak memungkinkan dirinya untuk menunduk.


" Ayo masuk, Sayang " ajak Nyonya Dewi tidak tega membiarkan Arisa terus berdiri.


" Iya Bu " jawab Arisa tersenyum.


Setelah itu mereka semua langsung masuk ke dalam rumah itu dan menuju ruang keluarga. Tya menggendong putrinya yang akan terlalu lama jika membiarkannya berjalan sendiri.


Nyonya Dewi membantu Arisa untuk duduk karena Arisa terlihat kesusahan dengan perutnya yang besar.


" Terima kasih ya, Bu " ucap Arisa setelah duduk dengan nyaman.


" Iya Sayang " jawab Nyonya Dewi mengusap kepala Arisa yang tertutup hijab.


Nyonya Dewi beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dan juga mengambil cemilan untuk Arisa.


" Nah, Raila di sini dulu sama Tante Arisa ya. Bunda mau ganti baju dulu " ucap Tya menurunkan putrinya dan mendudukkan di samping Arisa.


Arisa tentu saja sangat senang dan langsung menciumi pipi tembem putri Ardi dan Tya itu.


" Titip Raila ya, Ris " ucap Tya pada Arisa.


" Iya Kak. Kakak tenang aja " jawab Arisa.


" Adit juga jagain adiknya, jangan sampai ngerepotin Tante Arisa " ucap Tya juga pada sang putra.


" Siap, Bunda " jawab Aditya.


Setelah itu Tya segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya sebentar.


" Raila makin cantik, deh. Tante Arisa tu kangen banget sama Raila " ucap Arisa memeluk tubuh kecil Raila.


Raila hanya tertawa saja dan ia tidak banyak bergerak di pangkuan Arisa.


" Kalau sama Adit kangen gak, Tan? " tanya Aditya yang sudah duduk di samping Arisa.


" Kangen juga dong, Sayang " jawab Arisa mencubit gemas pipi Aditya.


Arisa sangat menyayangi Aditya dan Raila sama seperti ia menyayangi ketiga keponakannya.


" Dede " ucap Raila tiba-tiba.


Arisa sangat terkejut Raila sudah bisa menyebutkan kalimat itu dan yang lebih terkejut lagi, tangan kecil Raila mengusap lembut perut Arisa. Seolah mengatakan jika Raila menyayangi bayi di dalam kandungannya.


" Raila sayang adek bayi ya " ucap Aditya pada adiknya itu.


Raila hanya tertawa sambil tetap mengusap perut Arisa dengan penuh kasih sayang.


Arisa merasa terharu karena Aditya dan Raila menyayangi anaknya yang belum lahir, padahal mereka tidak ada hubungan darah.


" Terima kasih ya, Adit sama Raila sudah sayang sama adek bayi " ucap Arisa mengusap kepala kedua anak itu.


" Iya Tante. Adek bayi kan adik Adit juga jadi Adit pasti sayang " jawab Aditya.


" Aduh, ada apa ini? Kok peluk-pelukan? " tanya Nyonya Dewi yang baru kembali dari dapur.


Nyonya Dewi meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja lalu ikut duduk bergabung bersama mereka.


" Rahasia, Oma gak boleh tau " jawab Aditya.


Arisa pun tersenyum mendengar ucapan Aditya.


" Ya sudah kalau begitu, sekarang minum dulu. Oma sudah buat jus jeruk dingin buat kalian " ucap Nyonya Dewi tersenyum.


Nyonya Dewi mengambil satu gelas jus jeruk itu dan memberikannya kepada Arisa.


" Terima kasih, Bu " ucap Arisa menerima segelas jus jeruk itu.


Arisa segera meneguk jus jeruk itu hingga setengah karena ia sangat haus dan juga cuaca sedang sangat panas.


Tak lama kemudian, Tya yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan pun bergabung dengan mereka.


" Perkiraan lahirnya kapan, Ris? " tanya Tya pada Arisa.


" Perkiraan dokter sih pertengahan bulan depan, Kak " jawab Arisa.


Pada jadwal periksa kandungan yang terakhir kali memang perkiraan anaknya akan lahir adalah pertengahan di bulan depan.


" Rencananya kamu mau lahiran normal atau operasi caesar? " tanya Tya lagi.


" Pengennya normal, tapi kalau gak memungkinkan ya caesar gak papa. Tapi kata dokter sampai sekarang keadaan aku dan bayinya baik-baik aja jadi kemungkinan bisa normal " jawab Arisa yang ingin sekali melahirkan secara normal tetapi tidak memaksakan.


" Mau melahirkan secara normal atau operasi caesar itu sama aja. Yang terpenting ibu dan bayinya baik-baik saja " ucap Nyonya Dewi yang dari tadi mendengarkan percakapan Arisa dan Tya.


" Iya, betul itu " tambah Tya.


Arisa menghabiskan waktu di sana hingga sore hari dan Angga menjemputnya untuk pulang ke rumah mereka.


" Apakah kamu senang hari ini? " tanya Angga saat mereka sudah di perjalanan pulang.


Istrinya itu terus saja tersenyum sepanjang perjalanan.


" Seneng banget, Mas " jawab Arisa tersenyum.


" Apalagi tadi Adit sama Raila bilang kalau mereka sayang sama anak kita. Aku bahagia banget karena mereka menganggap anak kita seperti adik mereka sendiri padahal kan gak ada ikatan darah. Kak Ardi sama Kak Tya berhasil mendidik mereka menjadi anak-anak yang sangat baik " ucap Arisa menceritakan tentang apa yang ia lalui di kediaman Keluarga Wicaksono.


Angga tersenyum dan juga merasa bahagia mendengar itu.


" Keluarga Wicaksono memang orang-orang baik. Mereka juga menganggap aku seperti keluarga mereka sendiri walaupun awalnya tidak mengetahui asal-usul ku dan tidak ada setetes pun ikatan darah " ucap Angga yang sudah merasakan kebaikan dari keluarga Wicaksono hingga ia bertemu orang tuanya, bahkan hingga sekarang.


Arisa menganggukkan kepalanya. Ia merasa bersyukur ia dan Angga dipertemukan oleh orang-orang yang sangat baik seperti keluarga Wicaksono.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘