Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
23. Sangat Khawatir


Mobil yang dikendarai oleh Angga sudah sampai di kediaman Keluarga Wicaksono dengan selamat. Angga keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Tya. Di depan pintu utama, Ardi sedang menunggu mereka. Walaupun Angga sudah mengirimkan pesan mereka baik-baik saja tetapi sepertinya Ardi sangat khawatir.


" Apakah mereka orang yang sama? " tanya Ardi pada Angga setelah Tya masuk ke dalam rumah.


" Sepertinya begitu, Tuan Muda " jawab Angga.


Ardi mengusap wajahnya kasar dan Angga bisa melihat Angga sangat cemas saat ini.


" Setelah ini tambah lagi anggota untuk menjaga keluarga kita. Aku gak mau mereka jadi korban dari orang-orang itu " ucap Ardi.


" Baik, Tuan Muda " jawab Angga.


Setelah itu Angga langsung pamit pulang karena ia sudah sangat khawatir pada Arisa yang sendiri di rumah.


***


Sementara itu di rumah, Arisa terus mondar-mandir di depan teras karena menunggu sang suami yang belum juga pulang dan tidak memberikan kabar. Arisa sudah mencoba menelpon dan mengirimkan pesan pada Angga tapi tidak satu pun yang di balas. Sepertinya Angga memang tidak memeriksa ponselnya.


" Mas Angga, kemana sih? Kenapa belum pulang juga? " ucap Arisa khawatir.


Walaupun Angga sudah mengatakan akan pulang malam tapi ia tetap khawatir karena hari juga hujan. Ia juga takut jika tiba-tiba nanti ada petir dan ia sedang sendiri di rumah.


Tidak lama kemudian mobil Angga berhenti di depan pagar rumah itu dan Arisa bisa bernapas lega. Angga keluar dari mobil untuk membuka pagar lalu membawa mobilnya masuk dan memarkirkannya di halaman.


" Assalamualaikum " ucap Angga saat sudah memasuki teras.


" Walaikumsalam " jawab Arisa.


Arisa segera meraih tangan Angga dan menciumnya.


" Kamu kenapa berada di luar? " tanya Angga pada Arisa.


" Aku nunggu Mas Angga pulang, aku khawatir. Ini juga lagi hujan dan aku sedikit takut " jawab Arisa.


" Tapi kamu baik-baik saja kan? " tanya Angga memastikan.


" Iya, aku baik-baik aja Mas " jawab Arisa.


Setelah itu mereka berdua pun masuk ke dalam rumah. Arisa meminta Angga untuk segera mandi dan mengganti pakaiannya karena pakaian Angga cukup basah, sedangkan ia menghangatkan kembali makanan yang sudah ia masak untuk makan malam.


Selagi menunggu makanan itu hangat kembali di atas kompor, Arisa pergi ke kamar untuk menyiapkan pakaian ganti untuk Angga. Kali ini Arisa menyiapkannya dengan lengkap walaupun ia harus malu karena melihat barang yang sangat pribadi milik Angga.


" Mulai sekarang harus terbiasa " ucap Siska meletakkan pakaian ganti itu di atas tempat tidur lalu pergi sebelum Angga keluar dari kamar mandi.


Angga duduk di meja makan saat Arisa sedang menata makanan itu. Arisa segera mengambilkan makanan untuk Angga lalu untuk dirinya sendiri.


Angga cukup heran melihat itu. " Kamu belum makan malam? " tanya Angga pada Arisa.


" Belum, Mas " jawab Arisa mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.


" Kenapa? " tanya Angga.


" Aku nungguin kamu, biar kita bisa makan malam bersama " jawab Arisa tersenyum.


" Kebaikan apa yang aku lakukan hingga aku mendapatkan istri sebaik ini walaupun usianya masih sangat muda " batin Angga sambil mengunyah makanannya dan sesekali mencuri-curi pandang pada Arisa di sampingnya.


Baru dua hari Arisa menjadi istrinya tapi ia bisa merasakan jika Arisa merupakan istri yang sangat baik. Awalnya ia mengira jika Arisa akan bersikap manja dan kekanak-kanakan tetapi istrinya itu sangat dewasa dan mandiri.


" Lain kali jika aku belum pulang bekerja, kamu makanlah lebih dulu. Aku tidak ingin kamu sakit karena tidak makan tepat waktu dan menungguku " ucap Angga pada Arisa setelah mereka selesai makan malam.


" Iya Mas " jawab Arisa.


Angga pergi dari meja makan dan membiarkan Arisa membereskan meja makan sendiri karena Arisa pasti akan menolak bantuannya. Tapi baru saja ia sampai di depan pintu kamar, sebuah petir menyambar dengan suara yang begitu kencang.


Angga pun langsung berlari menuju meja makan karena ia sangat khawatir Arisa akan sangat ketakutan seperti waktu itu. Benar saja, Angga melihat Arisa yang sedang duduk di lantai dan menutup kedua telinganya.


" Jangan takut, ada aku di sini " ucap Angga membawa Arisa ke dalam pelukannya agar merasa tenang dan tidak ketakutan lagi.


Arisa pun langsung memeluk Angga dengan sangat erat. " Aku takut, Mas " ucap Arisa dengan suara bergetar.


" Kamu tidak perlu takut lagi, aku menjaga kamu " ucap Angga menenangkan Arisa.


Angga membantu Arisa berdiri dan masih di dalam pelukannya. Ia membawa Arisa ke kamar mereka dan membiarkan semua itu ia bereskan besok pagi. Yang terpenting sekarang ia harus membuat Arisa merasa tenang.


Angga mendudukkan tubuh Arisa di tepi tempat tidur, ia ingin menutup pintu kamar itu tapi Arisa menahan tangannya.


" Mas, jangan tinggalin aku " ucap Arisa menangis ketakutan.


" Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku hanya ingin menutup pintu " jawab Angga.


Setelah bisa meyakinkan Arisa, Angga pun menutup pintu kamar itu lalu menghampiri Arisa kembali. Angga membantu Arisa untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Mas Angga di sini aja " ucap Arisa langsung memeluk Angga lagi saat Angga ingin menjauh darinya.


" Baiklah, aku akan tetap di sini " jawab Angga


Akhirnya Angga ikut berbaring di samping Arisa dengan Arisa yang terus memeluknya erat. Angga membantu Arisa melepaskan hijab instan yang Arisa pakai agar Arisa bisa tidur dengan nyaman nanti.


" Sekarang kamu tidur, aku akan selalu di sini. Aku akan menjaga kamu " ucap Angga mengusap rambut panjang Arisa.


Arisa menganggukkan kepalanya lalu mulai memejamkan matanya. Arisa tidur dengan tangan Angga sebagai bantalnya dan tetap memeluk Angga. Angga pun tidak tega melepaskan karena pasti Arisa akan ketakutan lagi.


" Sebenarnya apa yang membuat kamu bisa setakut ini dengan hujan dan petir " ucap Angga menatap wajah cantik Arisa yang sudah tertidur itu.


Angga sebenarnya sangat penasaran apa yang membuat Arisa akan ketakutan jika turun hujan dan adanya petir karena pasti ada hal buruk yang membuat Arisa trauma. Angga bisa melihat jelas ketakutan di wajah Arisa setiap ada petir, walaupun kali ini sepertinya tidak setakut saat di halte bis.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘