Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
69. Harus Bangkit


Mama Mutia berjalan mendekati Arisa lalu duduk di samping Arisa yang terus saja diam dan menatap luar jendela. Mungkin Arisa berharap Angga datang dari sana karena memang jendela kamar itu mengarah ke gerbang utama.


" Sayang " panggil Mama Mutia memegang pundak Arisa.


Seperti biasa tidak ada respon apa pun dari Arisa, Arisa hanya diam.


" Sampai kapan kamu terus seperti ini, Sayang. Kamu harus terus melanjutkan hidup kamu. Semua orang sedih dengan kamu seperti ini. Mama tau ini semua berat buat kami, buat Mama juga tapi kita harus bangkit. Kita tidak bisa terus-terusan sedih seperti ini. Sama seperti kamu, sejujurnya juga Mama yakin jika Angga masih hidup tetapi mungkin tidak ada yang mempercayainya jika mereka tidak merasakan itu. Kamu tidak sendiri, Mama percaya kalau Angga masih hidup. Jadi kamu harus bangkit, kamu tidak inginkan jika nanti Angga kembali kamu seperti ini " ucap Mama Mutia pada Arisa.


Sebenarnya keyakinan Mama Mutia jika Angga masih hidup itu ada tetapi ia diam karena tidak akan ada yang mempercayainya. Mungkin dengan ini juga ia bisa memberikan semangat pada Arisa jika ada satu orang yang mempercayai dirinya.


Benar saja, Arisa menoleh ke arah Mama Mutia dengan mata yang berkaca-kaca. Arisa merasa senang karena pada akhirnya ada orang yang percaya dengan apa yang ia rasakan.


" Jadi Mama percaya sama Arisa kalau Mas Angga masih hidup? " tanya Arisa pada Mama Mutia dengan suara pelan.


Mama Mutia sangat senang melihat Arisa merespon dirinya dan ia harus membuat Arisa untuk bangkit karena Arisa harus menjalani kehidupannya.


" Iya Sayang, Mama percaya. Tapi untuk sekarang biarlah kita simpan keyakinan kita ini karena tidak ada yang percaya pada kita " jawab Mama Mutia.


Arisa pun langsung memeluk Mama Mutia dan menangis di sana.


" Aku senang karena Mama percaya sama aku. Aku sangat yakin kalau Mas Angga masih hidup dan dia akan kembali " ucap Arisa dalam pelukan Mama Mutia.


" Iya Sayang " jawab Mama Mutia mengusap punggung Arisa.


Mama Mutia melepaskan pelukannya dan Arisa ketika Arisa sudah merasa tenang.


" Sekarang kamu harus bangkit dan jalani kehidupan kamu seperti sebelumnya. Angga pasti tidak ingin kamu terus terpuruk seperti ini dan buktikan pada Angga kalau kamu wanita yang kuat dan setia menunggunya " ucap Mama Mutia pada Arisa.


Mungkin terkesan jahat karena memberikan harapan palsu jika Angga benar-benar telah tiada tetapi cara ini yang harus ia lakukan untuk membuat Arisa bangkit.


" Iya Ma. Aku akan bangkit dan menjalani kehidupanku lagi demi Mas Angga " jawab Arisa.


Mama Mutia pun tersenyum dan mengusap sebelah pipi Arisa.


" Akhirnya ada orang yang percaya kalau kamu masih hidup, Mas. Aku harus bangkit seperti yang Mama katakan dan menunggu kamu kembali " ucap Arisa dalam hati.


Setelah itu, Mama Mutia mengatakan keinginannya dan Papa Hari untuk membawa Arisa pergi dark rumah keluarga Wicaksono dan memulai kehidupan baru mereka.


" Arisa, Papa dan Mama ingin mengajak kamu pindah dari rumah ini dan memulai kehidupan baru. Papa dan Mama merasa tidak nyaman terus tinggal di rumah ini dan merepotkan mereka semua yang sudah banyak membantu kita. Papa akan membeli rumah dan kita bisa tinggal di sana " ucap Mama Mutia pada Arisa.


Arisa memang berpikir untuk pergi dari rumah itu tetapi bukan untuk tinggal di rumah yang akan dibeli Papa Hari. Arisa ingin tinggal di rumah yang ia tinggali bersama dengan Angga dan menunggu Angga di sana. Ia ingin mengajak kedua mertuanya untuk tinggal di rumah itu.


" Mama mau tapi Mama bicarakan dulu sama Papa ya. Kalau Papa setuju, kita bisa tinggal di rumah kalian " jawab Mama Mutia.


Menurutnya lebih baik tinggal di rumah putranya untuk saat ini dan uang yang diberikan oleh Arden bisa untuk mereka modal usaha. Bukan hal gampang mencari pekerjaan saat ini apalagi sebuah berkas-berkas penting mereka telah hilang.


Setelah itu, Mama Mutia meminta Arisa untuk beristirahat lagi dan ia akan kembali membawakan makan siang untuk Arisa. Awalnya Arisa menolak tetapi Mama Mutia memaksanya.


" Aku akan menunggu kamu kembali di rumah kita, Mas. Aku akan bangkit agar saat kamu kembali kamu tidak melihat kesedihanku tetapi senyumku " ucap Arisa lirih setelah Mama Mutia keluar dari kamar itu.


***


Sementara itu Mama Mutia menemui Papa Hari dan membicarakan tentang keinginan Arisa untuk tinggal di rumah Angga dan Arisa.


" Bagaimana Arisa? " tanya Papa Hari saat Mama Mutia sudah memasuki kamar.


" Arisa sudah mau berbicara, aku berhasil. Kita harus terus beri semangat padanya agar ia bangkit dari kesedihannya " jawab Mama Mutia.


Papa Hari pun merasa bersyukur mendengar itu. Setelah ini mereka akan memulai kehidupan baru bersama dengan Arisa.


" Mas, Arisa ingin kita tinggal yang di rumah yang Angga beli saat mereka menikah. Ia ingin kita tinggal di sana saja karena semua kenangan mereka di sana. Kita perlu membeli rumah dan memulai kehidupan baru di sana bersama " ucap Mama Mutia pada Papa Hari.


" Bagaimana, Mas? Menurutku lebih baik kita tinggal di rumah mereka. Cari pekerjaan sekarang tidak gampang, apalagi kita tidak memiliki berkas-berkas penting untuk kamu melamar kerja. Jadi lebih baik uang dari Arden untuk kita modal usaha saja dan untuk hidup beberapa bulan kedepan " lanjut Mama Mutia.


" Baiklah, jika menurut kamu yang terbaik untuk sekarang " jawab Papa Hari setuju.


" Aku akan segera berbicara pada Tuan Gunawan mengenai kita yang akan pergi dari rumah ini " ucap Papa Hari.


Mama Mutia pun menganggukkan kepalanya.


Setelah itu Mama Mutia keluar dan mengambil makanan untuk Arisa dan memastikannya memakan semuanya.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘