Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
35. Melihat Musuh


Setelah menghabiskan dua mangkuk mie ayam, Arisa mengajak Angga untuk membeli jajanan kaki lima yang ada di sederetan pinggir jalan itu. Ia menarik tangan Angga untuk menghampiri tukang telur gulung yang ia inginkan.


" Mas Angga mau telur gulung juga? " tanya Arisa karena ia akan memesan lebih banyak jika Angga menginginkannya.


" Tidak, kamu saja " jawab Angga yang sudah kenyang memakan semangkuk mie ayam tadi.


Setelah itu Arisa pin langsung memesan sepuluh tusuk telur gulung untuk dirinya sendiri karena Angga tidak menginginkannya.


" Terima kasih, Bang " ucap Arisa setelah menerima telur gulung itu dan membayarnya.


" Sama-sama, Neng " jawab tukang telur gulung itu menerima uang dari Arisa.


Arisa menarik tangan Angga kembali dan mengajak pergi dari sana.


" Ayo Mas " ajak Arisa.


Angga pun hanya bisa mengikuti langkah kaki Arisa yang terus menarik tangan dan entah akan membawanya kemana. Ia hanya heran karena Arisa seperti tidak merasa lelah dari tadi terus berjalan dengan begitu lincahnya.


" Kita duduk di bangku taman itu ya, Mas " ucap Arisa menunjuk taman yang tidak jauh dari sana.


Angga menganggukkan kepalanya setuju karena kakinya sudah cukup pegal mengikuti Arisa. Padahal ia pernah berlari lebih jauh dari itu tapi rasanya kali ini lebih lelah, apalagi ia dari tadi menyeimbangkan langkah kecil Arisa yang cepat.


" Apa kamu tidak ingin membeli yang lain? " tanya Angga sebelum mereka pergi ke taman dan Arisa juga hanya membeli telur gulung.


" Enggak Mas, ini aja sudah cukup. Nanti kalau aku mau yang lain, aku tinggal beli lagi. Takut mubazir kalau beli banyak tapi gak kemakan nanti " jawab Arisa.


Angga dan Arisa pun berjalan berdampingan menuju taman dengan Arisa yang terus menggandeng tangan Angga. Biarlah ia yang berinisiatif lebih dulu dan Angga juga tidak menolaknya, bahkan sekarang Angga mempererat gandengan tangan mereka. Arisa tersenyum saat melihat tangan mereka yang saling bertaut.


" Walaupun cuma gandengan tangan gini tapi aku udah bahagia banget sama kamu, Mas " ucap Arisa dalam hati sambil menatap wajah Angga yang sedang fokus menatap ke depan.


Arisa terus berjalan dengan senyum yang terus saja mengembang.


" Duduklah " ucap Angga setelah mereka sampai di sebuah bangku kosong di taman itu.


Kemudian Angga duduk lebih dulu dan diikuti oleh Arisa. Angga melepaskan gandengan tangan mereka agar Arisa bisa memakan telur gulung yang tadi ia beli.


" Mas Angga mau? " tawar Arisa setelah memakan satu tusuk telur gulung.


Angga menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika ia tidak mau.


" Mas Angga gak suka? Atau gak pernah makan telur gulung sih? Dari tadi aku tawarin gak mau terus " tanya Arisa karena Angga terus menolaknya.


" Aku pernah memakannya. Aku hanya sudah merasa sangat kenyang " jawab Angga apa adanya bukan karena ia tidak suka.


Arisa pun hanya ber-oh ria saja mendengar itu dan lanjut memakan telur gulung itu lagi.


Selagi menunggu Arisa menghabiskan telur gulung yang sedang dimakannya, Angga melihat ke sekeliling taman yang sangat ramai itu. Ternyata banyak juga pasangan muda-mudi yang sepertinya juga sedang berkencan di sana. Tanpa Angga sadari sebuah senyum tipis terbit dari bibirnya, ia tidak menyangka jika ia juga sedang berkencan dengan Arisa di sana.


Hingga beberapa saat kemudian matanya menangkap satu kelompok orang yang ia kenali. Angga pun menjadi panik karena mereka adalah orang-orang yang menyerangnya dan Ardi dua bulan yang lalu. Jika sampai mereka melihat Angga di sana sudah pasti mereka akan menyerang Angga kembali, apalagi Angga sekarang hanya pergi berdua dengan Arisa tanpa pengawasan anak buahnya. Kalau ia sendiri tidak masalah, tapi sekarang ia sedang bersama Arisa dan tidak ingin Arisa terluka nantinya.


Angga segera mengambil masker di dalam kantong celananya dan memakainya.


" Apa kamu sudah selesai? Kita harus pergi dari sini sekarang " ucap Angga pada Arisa.


Arisa yang baru saja menghabiskan satu tusuk terakhir telur gulung itu pun menganggukan kepalanya tapi ia heran saat melihat wajah panik Angga.


" Kenapa, Mas? Apa ada sesuatu? " tanya Arisa melihat wajah panik Angga karena ia juga ikut merasa panik dan takut sekarang, apalagi ia tahu jika suaminya itu memiliki musuh.


" Nanti akan aku jelaskan, yang penting sekarang kita harus pergi dari sini " jawab Angga takut orang-orang itu cepat mengetahui keberadaannya.


Walaupun sudah menyamar tapi bukan hal mustahil jika mereka tetap akan bisa mengenali dirinya.


Angga pun segera menarik tangan Arisa dan membawanya pergi dari sana dengan terus memperhatikan sekitar dan jangan sampai disadari oleh orang-orang itu. Arisa hanya menurut dan mengikuti kemana pun Angga pergi walaupun ia cukup kewalahan mengikuti langkah kaki Angga yang lebar.


" Mas sebentar, aku capek " ucap Arisa menghentikan langkahnya.


Arisa memang merasa lelah karena mereka cukup jauh berlari, lebih tepatnya ia yang berlari untuk menyeimbangi Angga.


Tanpa pikir panjang Angga langsung berjongkok di depan Arisa dan meminta Arisa naik ke punggungnya. Ia akan menggendong Arisa agar lebih cepat pergi ke tempat ia memarkirkan motor yang masih lumayan cukup jauh.


" Naiklah " pinta Angga.


" Hah? Mas Angga mau gendong aku? " tanya Arisa yang terkejut dengan apa yang Angga lakukan.


" Iya cepatlah. Kita harus pergi sekarang juga " jawab Angga agar Arisa cepat naik ke punggungnya.


Karena tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan yang ia sendiri belum tahu apa penyebabnya, Arisa pun menurut dan langsung naik punggung Angga. Angga segera berlari dengan menggendong Arisa di punggungnya.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di tempat mereka memarkirkan motor Arisa. Jika tahu akan lebih cepat, Angga pasti akan menggendong Arisa dari taman.


" Pakailah " ucap Angga memberikan helm pada Arisa, sedangkan ia memakai helm di kepalanya sendiri.


Angga dan Arisa pun naik ke atas motor setelah selesai memakai helm mereka masing-masing.


" Berpegangan dengan erat karena aku akan mengendarai motor ini dengan kecepatan tinggi " ucap Angga pada Arisa agar berpegangan pada pinggangnya.


" Iya Mas " jawab Arisa langsung memeluk pinggang Angga dengan erat.


Setelah itu Angga pun langsung melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan daerah itu. Ia harus benar-benar memastikan mereka tidak akan diketahui musuh-musuhnya karena itu akan sangat berbahaya.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘