Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
138. Amara Zulfa Lesmana


Beberapa hari berlalu dan hari ini adalah hari pemberian nama serta aqiqah putri Angga dan Arisa. Bayi yang baru berusia satu minggu itu begitu tenang di dalam gendongan sang ayah. Putri kecil yang Angga baru Angga dapatkan namanya kemarin karena Angga cukup kesulitan mencari nama untuk sang putri. Sedangkan Arisa menyerahkan nama itu kepada dirinya karena Arisa sudah memberikan nama untuk putri mereka yang lain.


" Bismillahirrahmanirrahim, putri kami ini akan kami beri nama Amara Zulfa Lesmana " ucap Angga menyebutkan nama yang ia pilih untuk sang putri.


Nama Amara sendiri berarti " panjang umur " dan Zulfa berarti " dekat ". Angga ingin putrinya itu berumur panjang dan sangat dekat dengan dirinya serta keluarganya. Sedangkan Lesmana adalah nama yang diwariskan dari keluarganya.


Angga membawa putrinya itu menghampiri keluarga serta tamu satu persatu untuk memotong rambutnya dan memberikan doa yang baik untuk putri mereka, lalu didampingi oleh Arisa yang berjalan di sampingnya dengan membawa sebuah nampan berisi gunting, bedak, dan sebuah wadah kecil untuk rambut putri mereka yang sudah dipotong. Diiringi oleh suara merdu dari anak-anak didik dari pesantren Abi Umar dan Ummi Fatimah yang melantunkan sholawat Ya Nabi Salam Alayika.


" Semoga anak kalian menjadi anak yang sholehah dan berakhlak mulia " ucap Papa Hari mengusap kepala sang cucu.


" Dan semoga menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya " tambah Mama Mutia lalu mengecup kening cucunya itu.


" Aamiin " jawab Angga dan Arisa tersenyum.


Kemudian Angga dan Arisa beralih pada Reno dan Siska yang berada di samping Papa Hari dan Mama Mutia.


" Semoga putri kalian kelak menjadi anak yang baik dan berhati lembut " ucap Reno setelah memotong sedikit rambut keponakannya.


" Semoga juga putri kecil ini akan menjadi wanita yang kuat dan bermanfaat bagi semua orang " sambung Siska mengusap pipi Amara dengan telunjuknya.


Angga dan Arisa mengaminkan semua doa-doa baik yang mereka ucapkan untuk Amara.


Setelah itu, Angga dan Arisa beralih kepada yang lainnya dan mereka juga memberikan doa-dia baik untuk Amara. Keluarga Wicaksono yang sudah menganggap Angga dan Arisa bagian dari keluarga mereka pun hadir dan memberikan doa untuk putri Angga dan Arisa.


" Jadilah anak yang berguna ya, Nak " ucap Tuan Gunawan mengusap lembut kepala Amara.


Nyonya Dewi juga memotong sedikit rambut Amara lalu mengusap kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" Semoga selalu hidup bahagia dan diberikan keberkahan " ucap Nyonya Dewi tersenyum.


Angga dan Arisa kembali duduk setelah selesai dan melanjutkan acara yang lainnya yaitu ceramah agama yang akan di sampaikan oleh Abi Umar yang Angga dan Arisa minta untuk memberikan sedikit ceramah.


" Mau gantian, Mas? " tanya Arisa karena sejak awal acara Angga terus menggedong Amara.


" Tidak, Sayang. Lagipula putri kita tidur dengan tenang " jawab Angga yang masih ingin menggedong putrinya.


Arisa pun mengangguk dan membiarkan Angga menggedong putri mereka.


Acara satu per satu terlewati dengan baik dan acara yang terakhir adalah makan bersama lalu memberikan santunan kepada anak-anak yatim-piatu yang mereka undang dari Yayasan Wicaksono Group.


" Terima kasih banyak telah mengundang kami dan memberikan sedikit rezeki untuk anak-anak panti, Tuan Angga, Nona Arisa " ucap Ibu panti pada Angga dan Arisa sebelum mereka pergi.


Angga menganggukkan kepalanya. " Kami yang seharusnya berterima kasih karena kalian semua telah hadir dan mendoakan putri kami " jawab Angga.


Setelah itu Ibu panti serta anak-anak itu pergi dengan menggunakan sebuah bus yang sengaja Angga sewa untuk menjemput dan mengantar mereka ke panti asuhan.


" Kak Angga, boleh aku gendong Amara sebentar? " ucap Tya karena ia sudah ingin menggedong bayi mungil itu dari tadi.


" Tentu saja " jawab Angga.


Angga pun memberikan putrinya agar Tya bisa menggendongnya, lagipula tangannya sudah cukup pegal karena cukup lama menggendong Amara.


" Amara pinter ya, Ris. Dari tadi anteng dan gak rewel sama sekali " ucap Yeni menoleh-noel pipi Amara yang sudah lebih berisi sekarang.


" Iya Kak, Alhamdulillah banget " jawab Arisa tersenyum.


" Kalau malam rewel gak, Ris? " tanya Siska pada Arisa.


" Enggak, Kak. Bahkan Amara jarang banget nangis kalau malam, biasanya cuma bangun setiap dua jam sejak karena haus atau popoknya penuh " jawab Arisa.


Putrinya itu memang merupakan bayi yang pintar dan tidak rewel sehingga ia belum merasakan kesulitan menjadi seorang ibu dan sangat menikmati itu sekarang. Apalagi Angga berperan sebagai suami siaga dan selalu membantunya, jadi Arisa tidak merasa tertekan dan mengalami baby blues.


" Pinter banget sih ponakan Tante ini " ucap Tya menciumi pipi Amara yang masih tertidur dengan lelap.


Raila yang melihat sang ibu sedang menciumi Amara pun langsung menghampiri Tya.


" Dede " ucap Raila memegang tangan Amara pelan.


" Iya Sayang, ini dedek. Namanya Amara dan ini adiknya Raila " ucap Tya pada putrinya.


Raila terus memperhatikan wajah Amara yang masih tertidur lelap, sepertinya dia masih heran melihat Amara karena selama ini dirinya paling kecil di keluarga mereka.


" Kenapa, Sayang? " tanya Arisa mengusap rambut lurus Raila.


" Sepertinya dia masih bingung, selama ini kan dia yang paling kecil dan belum ada bayi lagi " ucap Siska yang melihat Raila terus menatap Amara.


" Kalau enggak itu kode kalau Raila pengen punya adik, Mbak " ucap Yeni pada Tya.


" Nanti dulu deh kalau mau punya adik, Raila masih terlalu kecil " jawab Tya yang belum ingin memiliki anak lagi.


" Lebih baik kamu aja yang bikinin adik buat Lio dan Lia, Yen. Mereka udah besar dan pas kalau di kasih adik " ucap Siska pada Yeni.


Siska sendiri tidak bisa hamil dan memiliki anak lagi karena rahimnya sudah diangkat setelah melahirkan kedua putranya.


" Pengennya gitu, tapi sama Leon gak boleh. Dia trauma aku koma dan pingsa lagi " jawab Yeni yang sebenarnya ingin memilki anak lagi tapi Leon melarangnya.


" Kalau kamu gimana, Ris? Mau cepat nambah anak lagi? " tanya Tya pada Arisa.


" Mau, Kak. Tapi mungkin gak dalam waktu dekat deh soalnya fokus sama Amara dulu " jawab Arisa yang ingin memberikan kasih sayang penuh pada Amara.


Setelah itu Arisa membawa Amara ke kamar mereka dan yang lainnya membantu untuk membereskan rumah yang berantakan karena acara pemberian nama putri Angga dan Arisa.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " 😘


Tolong follow ig saya @tyaningrum_05 dan akun NT saya Gadis Taurus ya 😘