
Angga masuk ke dalam kamar setelah semuanya beres dan kerabat serta keluarga mereka pulang ke rumah masing-masing. Angga melihat Arisa yang sedang memakaikan pakaian pada Amara karena putrinya itu baru saja selesai mandi.
" Lelah sekali " gumam Angga dengan wajah lesu.
Brugh.
Angga menjatuhkan tubuhnya atas tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat pegal karena sibuk mengurus acara pemberian nama putrinya dan juga menggendong sang putri berjam-jam dengan posisi yang sulit diganti. Dengan berbantalkan kedua lengannya, Angga mulai memejamkan matanya. Angga butuh waktu untuk istirahat yang tenang setelah berinteraksi dengan banyak orang.
Lelah, itulah yang Angga rasakan, karena ia yang biasanya tidak suka keramaian harus berada di tengah-tengah orang banyak dan berinteraksi dengan mereka semua. Apalagi Angga yang baru bisa beristirahat merasakan kepalanya sangat pusing.
Aska pun tertidur tanpa peduli dengan istri dan putrinya yang juga berada di kamar itu untuk sebentar saja, karena ia sangat-sangat lelah.
Sementara Arisa menatap sang suami yang terlihat begitu lelah di atas tempat tidur. Ia merasa kasihan kepada suaminya itu yang begitu sibuk akhir-akhir ini. Apalagi semenjak kehadiran sang buah hati membuat perhatian dirinya untuk Angga sangat berkurang. Terlebih lagi dirinya tidak ingin jauh dari Amara setelah kejadian penculikan itu. Itu terasa sangat tidak adil dan Arisa sangat menyadari itu.
Kendati demikian, Angga maupun Arisa sama-sama memaklumi itu. Walaupun ada kerinduan ingin selalu dimanjakan dan waktu berdua, tetapi mereka berdua mencoba untuk bersikap dewasa dan saling memahami.
Arisa meletakan Amara yang sudah tertidur setelah mandi dan menyusu di dalam box bayinya. Arisa memastikan putrinya itu tidur dengan nyaman lalu ia beranjak untuk menghampiri sang suami.
Arisa naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Angga yang sedang memejamkan matanya. Dengan lembut Arisa mengusap wajah Angga dan memberikan beberapa kecupan di sana, ia bisa melihat wajah lelah suaminya itu.
" Maaf ya, aku sekarang kurang perhatian sama kamu. Sampai kamu sangat lelah seperti ini dan aku tidak menyadarinya " gumam Arisa merasa bersalah.
" Eunghhh, Sayang? " ucap Angga terbangun karena merasa pergerakan di wajahnya.
" Aku ganggu ya, Mas? " tanya Arisa karena suaminya itu terbangun.
Sudah jelas sebenarnya jika Arisa sangat mengganggu tidur Angga, apalagi Arisa terus mengusap wajahnya dan memberikan beberapa kecupan.
" Tidak, Sayang " jawab Angga karena jika ia menjawab " iya " maka istrinya akan merasa sangat bersalah.
" Dimana Amara? " tanya Angga karena tadi Arisa sedang bersama putri mereka.
" Amara sedang tidur di box bayinya " jawab Arisa.
Angga pun menganggukan kepalanya.
Kemudian tanpa mengatakan apapun, Angga menarik Arisa ke dalam pelukannya. Setelah ada Amara, ini adalah pertama kalinya Angga memeluk Arisa dengan begitu tenang.
" Sayang " panggil Angga pada Arisa yang menyadarkan kepalanya di dadanya.
" Iya Mas " jawab Arisa.
" Aku.... " Angga tidak bisa meneruskan ucapannya karena mendengar suara pintu kamar mereka diketuk.
" Biar aku yang buka " ucap Arisa melepaskan pelukan Angga.
Arisa turun dari tempat tidur dan menuju ke arah pintu. Sedangkan Angga tetap pada posisinya yang masih berbaring di atas tempat tidur.
" Ada apa, Ma? " tanya Arisa saat melihat Mama Mutia berada di depan pintu.
" Itu Sayang, Papa dan Mama ingin tidur dengan Amara malam ini. Papa sama Mama kangen banget sama Amara karena seharian ini gak ada kesempatan sama Amara sama sekali. Apa boleh? " ucap Mama Mutia mengatakan tujuannya yang ingin membawa Amara untuk tidur bersamanya.
Kebetulan sekali, jika Amara tidur bersama dengan Papa Hari dan Mama Mutia, maka ia bisa memberikan perhatian penuh pada Angga malam ini.
" Boleh kok, Ma " jawab Arisa tersenyum.
Arisa kembali masuk ke dalam kamar dan mengambil Amara yang masih tidur dengan nyenyak.
" Iya Sayang, kamu tenang aja " jawab Mama Mutia.
Setelah itu Mama Mutia membawa Amara untuk pergi ke kamarnya dan Arisa langsung menutup pintu kamar itu. Arisa menghampiri Angga yang tidak tidur kembali dan sepertinya menunggu.
" Amara akan dibawa kemana? " tanya Angga karena putrinya itu tidak kembali setelah dibawa keluar oleh Arisa.
" Ke kamar Mama. Amara akan tidur sama Papa dan Mama malam ini, gak papa kan? " ucap Arisa pada Angga.
Angga pun menganggukan kepalanya.
" Oh iya, kamu tadi mau bilang apa? " tanya Arisa karena ucapan Angga sempat terhenti karena kedatangan Mama Mutia.
Angga mengigit bibir bawahnya karena ia cukup ragu untuk mengatakannya setelah ucapannya terhenti tadi. Angga menatap mata Arisa yang masih menunggu jawaban darinya dan menangkup salah satu pipinya.
" A-aku, aku rindu, Sayang " ucap Angga dengan tatapan mata sendu.
Arisa tersenyum, ia bisa melihat kerinduan yang sangat besar dari sorot mata sang suami. Ia juga mengerti maksud rindu yang dikatakan sang suami. Bukan rindu biasa karena mereka pun selalu bertemu setiap hari.
" Sudah pusing banget ya kepalanya? " tanya Arisa dengan senyum di bibirnya.
Angga menganggukkan kepalanya dengan lesu. Kepalanya memang terasa sangat pusing, apalagi ia belum mengeluarkan sesuatu di bawah selama satu minggu. Tentu saja kepalanya terasa sangat pusing dan seakan ingin pecah.
" Mau di sini atau di kamar mandi? Gak tega lihat kamu seperti ini, aku bantu ya " ucap Arisa mengusap wajah Angga.
Seperti mendapatkan angin segar, Angga langsung sumringah dan menganggukkan kepalanya dengan cepat. Walaupun tidak dengan cara biasanya, yang terpenting kepalanya tidak pusing lagi.
" Di kamar mandi saja " jawab Angga.
Arisa menurut dan mereka segera pergi ke kamar mandi. Angga segera melucuti pakaiannya dan ia juga meminta Arisa untuk melepaskan seluruh pakaiannya. Arisa yang ingin menyenangkan sang suami segera melepas seluruh pakaiannya.
Kemudian Angga meraih kedua tangan Arisa dan mengalungkannya di lehernya. Angga memberikan kecupan lembut tapi bergairah dan Arisa langsung membalasnya.
" Manjakan aku dengan sentuhanmu " ucap Angga dengan suara yang serak.
Arisa menganggukkan kepalanya lalu mengarahkan satu tangannya ke bawah. Walaupun belum terlalu berpengalaman melakukan itu, tetapi Arisa berusaha melakukannya dengan baik agar sang suami puas.
Arisa benar-benar memanjakan Angga dengan sentuhan tangannya yang membuat Angga melayang. Beban dan rasa sakit di kepalanya perlahan menghilang seiring dengan suara erangan dan juga cairan putih yang tercecer di lantai kamar mandi.
" Sudah cukup? " tanya Arisa saat sang suami bersandar di tubuhnya karena sangat lemas setelah mengeluarkan semua yang ia tahan selama satu minggu.
Angga hanya menganggukkan kepalanya dengan sebuah senyum puas. Angga memang benar-benar puas dengan apa yang dilakukan sang istri untuk memanjakan. Entah dari mana Arisa belajar, tetapi benar-benar dibuat mabuk kepayang dan tidak berdaya.
" Kalau gitu kita mandi ya. Sebentar lagi magrib " ucap Arisa pada Angga.
" Iya Sayang " jawab Angga.
Setelah itu Angga dan Arisa pun mandi bersama. Kini Angga yang bergantian untuk memanjakan Arisa dengan memandikannya. Senyum di bibir Angga tidak luntur dari tadi karena mendapatkan sebuah kepuasan dan bisa menikmati waktu berdua dengan sang istri.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " π
Tolong follow ig saya @tyaningrum_05 dan akun NT saya Gadis Taurus ya π