
Keesokan paginya, tubuh terasa remuk seperti satu minggu bekerja kasar tanpa henti. Wajahnya sedikit pucat dan juga ia cukup kesulitan berjalan karena pangkal pahanya pegal dan bagian intinya sedikit perih. Bagaimana bisa seperti itu? Tentu saja karena ulah Angga yang terus menggempurnya di atas tempat tidur sampai pukul tiga dini hari dan lebih dari tiga ronde. Arisa benar-benar sangat kewalahan melayani Angga yang semakin hari semakin perkasa saja. Ia juga tidak kuasa menolak jika suaminya itu sudah memberikan sentuhan yang sangat memabukkan.
Walaupun sedikit merasa malas pergi ke kantor, tetapi Arisa harus tetap bekerja karena ia harus memberikan sebuah laporan penting pada Leon. Ia harus memberikannya pagi ini juga karena laporan yang Arisa buat itu akan dibawa Leon untuk rapat bersama dewan direksi.
" Apa sebaiknya kamu tidak pergi ke kantor? Wajahmu terlihat sangat pucat dan kamu terlihat kelelahan " ucap Angga pada Arisa.
Angga merasa sedikit bersalah pada Arisa karena istrinya itu hanya tidur beberapa jam saja setelah mereka melakukan sholat tahajud berjamaah. Lalu bangun kembali saat waktu subuh dan tidur lagi sebentar setelahnya, karena itu ia yang memaksanya. Angga juga melarang Arisa yang hendak pergi ke dapur untuk memasak sarapan.
" Gak bisa, Mas. Ada laporan penting yang harus aku kasih ke Kak Leon dan harus aku kasih pagi ini juga sebelum rapat dimulai " jawab Arisa lalu memoles lipstik di bibirnya.
Arisa membalik tubuhnya setelah ia memastikan penampilannya sempurna pagi itu untuk menutupi wajah pucat dan lelahnya.
" Lagian aku kayak gini juga gara-gara kamu yang gak mau berhenti tadi malam " ucap Arisa mencebikkan bibirnya karena sedikit kesal pada suaminya itu.
" Maaf, Sayang. Tapi kamu tidak menolak dan sangat menikmatinya " jawab Angga tersenyum menggoda Arisa.
Arisa menghela napasnya dan tidak mengatakan apapun lagi. Ia tidak merasa malu hari ini Angga mengatakan itu karena rasa kesalnya lebih besar.
Kemudian Arisa mengambil tas miliknya lalu pergi keluar dari kamar walaupun sedikit menahan rasa sakit dan pegal di pangkal pahanya dan meninggalkan Angga.
" Tunggu, Sayang " ucap Angga segera mengejar Arisa.
Angga dan Arisa pergi ke meja makan dan seperti biasa Papa Hari dan Mama Mutia sudah berada di sana lebih dulu.
" Maaf ya Ma, Arisa gak bantuin Mama masak buat sarapan " ucap Arisa merasa tidak enak pada Mama Mutia.
" Gak papa, Sayang. Kamu pasti capek setelah kemarin kerja " jawab Mama Mutia tersenyum.
Angga duduk di kursi yang biasa ia tempati, sedangkan Arisa membuatkan secangkir teh untuk suaminya. Walaupun sedang kesal tetapi Arisa tetap melakukan tugasnya sebagai istri.
Setelah itu Arisa kembali dan memberikan secangkir teh kepada Angga. Arisa juga mengambilkan makanan untuk Angga lalu untuk dirinya sendiri. Mereka pun sarapan dengan tenang seperti biasanya.
Angga dan Arisa langsung berangkat bekerja setelah sarapan, seperti biasa Angga akan mengantar Arisa terlebih dahulu. Sejak ada suaminya, Arisa menjadi sangat malas untuk menyetir sendiri dan lebih memilih untuk diantar jemput Angga.
" Aku turun dulu ya, Mas " pamit Arisa setelah sampai di kantor.
" Iya Sayang " jawab Angga.
" Ingat, jangan lupa makan siang dan jangan terlalu keras bekerja. Aku tidak ingin kamu sakit " ucap Angga pada Arisa.
" Iya Mas " jawab Arisa.
Seperti biasa Angga memberikan tanda perpisahan dengan mengecup kening Arisa dan Arisa juga tidak lupa mencium tangan suaminya.
" Assalamualaikum " ucap Arisa sebelum turun dari mobil.
" Walaikumsalam " jawab Angga.
Setelah itu Arisa pun turun dari mobil dan melambaikan tangan hingga mobil yang dikendarai oleh Angga pergi.
" Huh, andai aja gak ada laporan yang harus aku kasih ke Kak Leon, aku pasti memilih buat izin " gumam Arisa menghela nafasnya.
Arisa segera masuk ke dalam gedung perusahaan dan menuju ruangan kerjanya. Arisa meletakkan tas miliknya dan mengambil laporan yang harus ia berikan pada Leon. Ia akan mengantarnya sekarang ke ruangan Leon karena pasti sudah ada di ruangannya karena ia tadi sempat melihat mobil milik atasannya itu.
Tok tok tok.
Arisa mengetuk pintu ruangan wakil direktur yang merupakan jabatan dari Leon dan baru masuk setelah mendapatkan jawaban dari dalam.
" Permisi, Tuan. Saya ingin mengantar laporan yang Anda butuhkan untuk rapat pagi ini " ucap Arisa menyerahkannya pada Leon.
Leon pun menerimanya. " Terima kasih " ucap Leon dengan wajah dinginnya.
" Sama-sama, Tuan " jawab Arisa.
" Saya permisi, Tuan " pamit Arisa karena urusannya telah selesai.
Arisa pun keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruang kerjanya. Ia ingin beristirahat sebentar di sana karena hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Saat Arisa kembali ternyata rekan kerjanya sudah berdatangan dan berada di tempat yang masing-masing, termasuk Rini dan Jodi.
" Kamu kenapa, Ris? Kenapa jalan kamu gitu? " tanya Rini karena ia melihat keanehan saat Arisa berjalan.
Arisa yang mendengar itu pun langsung melebarkan matanya karena ternyata Rini menyadari cara jalannya. Arisa pun segera duduk di kursi kerja miliknya.
" Emang ketara banget ya? " tanya Arisa dengan suara pelan dan Rini pun menganggukkan kepalanya.
" Emang kamu kenapa sih? Abis jatuh? " tanya Rini khawatir jika sahabatnya itu habis terjatuh.
Arisan menggelengkan kepalanya dengan pipi yang bersungguh merah. Mana mungkin ia mengatakan jika itu dikarenakan pertempurannya tadi malam dengan suaminya.
" Terus? " ucap Rini bingung.
" Rahasia, kamu belum saatnya tau " jawab Arisa memalingkan wajahnya agar diri tidak bisa melihat ibunya sudah melihat pipinya yang sudah memerah.
Rini pun dibuat bertambah bingung dan ia mencoba berfikir sendiri apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Pada detik selanjutnya ia baru mengerti apa yang menyebabkan sahabatnya itu berjalan dengan cara yang berbeda.
" Ouhh, aku tau sekarang. Kamu pasti habis olahraga ranjang ya tadi malam " ucap Rini memicingkan matanya dan tersenyum menggoda Arisa.
" Hust, jangan keras-keras " ucap Arisa karena ia takut ada yang mendengarnya walaupun Rini mengatakannya dengan pelan.
" What? Jadi bener? " tanya Rini memastikan.
Arisa menganggukkan kepalanya dan malu-malu.
" Gak usah malu-malu kali, Ris. Wajar sih, kalian kan suami istri " ucap Rini pada Arisa.
" Btw berapa ronde? Sampai kamu cara jalannya jadi gitu " lanjut Rini penasaran.
" Gak tau, tapi sampai jam tiga subuh baru berhenti " jawab Arisa jujur.
Tapi sedetik kemudian Arisa langsung menutup mulutnya dan merutuki dirinya sendiri yang terlalu jujur kepada Rini.
" Astaga, Ris. Suami kamu ganas juga ya " ucap Rini tertawa.
Arisa pun semakin malu karena ditertawakan oleh Rini.
" Ih, jangan ketawa. Jangan dibahas lagi juga, aku malu " ucap Arisa pura-pura kesal agar Rini tidak menertawakannya lagi.
" Oke, oke " jawab Rini menghentikan tawanya.
Setelah itu Arisa pun memutuskan untuk tidur sebentar karena ia belum memiliki pekerjaan yang harus ia kerjakan, lagipula tubuhnya terasa sangat lelah dan ia akan memanfaatkannya untuk beristirahat.
" Rin, aku mau tidur bentar. Nanti kalau ada Bu Sita, cepet bangunin aku ya " ucap Arisa pada Rini.
" Iya, kamu tidur aja. Siapin tenaga buat nanti malam, siapa tau diajak olahraga ranjang lagi " jawab Rini tertawa kecil menggoda Arisa.
Arisa melototkan matanya pada Rini lalu mencari posisi yang nyaman untuk tidur dengan menyandarkan kepalanya di atas meja.
Ternyata obrolan Arisa dan Rini itu didengar oleh Jodi. Hati Jodi jelas saja sakit tapi ia tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa berusaha ikhlas karena Arisa tidak bisa ia miliki.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " π
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π