
Satu bulan berlalu.
Angga dan Arisa sudah berada di salah satu kamar di hotel milik Keluarga Richard. Mereka akan menghadiri acara akad nikah Teno dan Rini yang diselenggarakan di hotel itu. Lalu untuk resepsi pernikahan akan diadakan di tempat yang sama pada malam harinya.
" Jangan terlalu mencolok ya, Mbak. Saya ingin lipstik warna peach saja " ucap Arisa pada seorang make up artist yang sedang meriasnya.
" Baik, Nona " jawab make up artist itu.
Sedangkan Angga memainkan ponselnya di sofa yang ada di kamar hotel itu selagi menunggu Arisa selesai di rias. Angga memang jarang sekali meninggalkan Arisa dan berusaha untuk selalu berada di dekatnya sejak mereka sampai di hotel. Angga tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada istrinya itu, apalagi sudah mendekati hari persalinan.
Tak lama kemudian, Arisa sudah selesai dirias dan make up artist itu keluar dari kamar mereka setelah membereskan semua peralatan make up yang digunakannya.
" Mas, ayo kita keluar. Sepertinya sebentar lagi acaranya mau dimulai " ucap Arisa berdiri dari duduknya.
" Iya Sayang " jawab Angga menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya.
Angga segera menghampiri sang istri yang sudah sangat cantik itu, bahkan bisa-bisa mengalahkan kecantikan sang pengantin wanita.
" Kami cantik sekali, Sayang. Mungkin saja kecantikan Rini yang menjadi pengantin akan kalah dengan kecantikan kamu " puji Angga pada sang istri.
Arisa tersenyum mendengar pujian dari sang suami. Meski hampir setiap hari Angga memujinya cantik tetapi hatinya tetap terasa berbunga-bunga setiap mendengarnya.
" Terima kasih, Suamiku Sayang " ucap Arisa segera menggandeng tangan Angga.
" Iya Sayang " jawab Angga tersenyum.
Setelah itu mereka pun segera keluar dan menuju ballroom hotel tempat diadakannya acara pernikahan Teno dan Rini. Mereka berjalan sangat pelan karena Angga harus menyeimbangkan langkah kaki sang istri dan Angga juga tidak akan membiarkan Arisa berjalan dengan cepat.
Sesampainya di ballroom hotel, Angga meminta Arisa untuk duduk di kursi yang sudah disediakan untuk anggota keluarga kedua calon pengantin. Di sana juga sudah ada Ardi dan Tya bersama dengan kedua anak mereka.
" Aduh, Raila cantik banget sih " ucap Arisa mencubit pelan balita yang sedang ada dipangkuan Tya itu.
" Terima kasih, Tante " jawab Tya mewakili putrinya yang sedang tertawa itu.
" Kalau Adit ganteng gak, Tante? " tanya Aditya yang berdiri di sampingnya.
" Ganteng dong, Sayang. Ganteng banget malahan " jawab Arisa mengusap kepala Aditya.
Aditya pun tersenyum senang mendengar jawaban dari Arisa.
Tak lama kemudian, acara akad nikah Teno dan Rini pun akan segera dimulai. Teno sudah duduk di hadapan Pak Bambang dan bersiap mengucapkan kalimat ijab kabul atas nama Rini. Sedangkan Rini masih berada di ruangan berbeda menunggu Teno mengucapkan ijab kabul. Arisa tidak bisa mendampingi Rini karena ia sudah tidak bisa terlalu banyak bergerak.
Beberapa saat kemudian, Teno menjabat tangan Pak Bambang dan berhasil mengucapkan kalian ijab kabul dengan satu tarikan napas dan Rini sudah sah menjadi istrinya.
" Alhamdulillah " ucap Arisa menangkupkan kedua tangannya di wajahnya saat para saksi mengatakan sah.
Setelah itu, Rini keluar dari sebuah ruangan dan memasuki ballroom hotel itu dengan didampingi oleh kedua adik perempuannya. Rini sangat cantik dengan menggunakan kebaya serta siger khas adat Sunda.
" Rini cantik banget ya, Kak " ucap Arisa pada Tya saat Rini berjalan menghampiri Teno yang sudah sah menjadi suaminya.
" Iya, Ris. Aura pengantin keluar banget " jawab Tya setuju dengan Arisa.
Setelah semua rangkaian acara selesai, Angga dan Arisa menghampiri Teno dan Rini untuk mengucapkan selamat dan berfoto bersama mereka.
" Aamiin. Terima kasih ya, Ris " jawab Rini membalas pelukan itu.
Tidak hanya Arisa yang memeluk Rini, Angga pun memeluk Teno yang menjadi orang penting dalam hidupnya.
" Selamat atas pernikahan kalian, Kak. Aku berdoa agar Kakak selalu bahagia " ucap Angga menepuk punggung Teno.
" Terima kasih, Angga " jawab Teno membalas pelukan Angga.
Kemudian mereka pun foto bersama dengan meminta seorang fotografer untuk mengambil gambar mereka. Arisa tersenyum saat fotografer itu mulai mengambil foto mereka, Arisa juga merasa sangat bahagia karena sahabatnya itu akhirnya menikah.
Baru saja foto ketiga diambil, Arisa memegang perutnya karena ia merasakan sakit yang teramat sangat. Sepertinya itu adalah kontraksi seperti yang beberapa kali ia rasakan dari pagi, tetapi ini lebih sakit.
" Sepertinya aku mau melahirkan " gumam Arisa merasakan perutnya mulas dan semakin sakit.
Arisa tidak mengatakan apapun tentang kontraksi yang mulai ia rasakan karena ia mengira itu adalah kontraksi palsu.
" Akh, Mas Angga " ringis memanggil sang suami.
Angga yang mendengar itu pun langsung menghampiri Arisa dan ia sangat panik melihat istrinya seperti kesakitan.
" Kamu kenapa, Sayang? " tanya Angga panik.
" Arisa " ucap Rini juga menghampiri Arisa.
" Perut aku sakit, Mas. Sepertinya aku mau melahirkan " jawab Arisa meringis.
Angga pun bertambah panik luar biasa mendengar itu karena perkiraan lahir Arisa masih sekitar satu minggu lagi. Teno dan Rini pun tidak kalah panik karena Arisa akan melahirkan dan itu di acara pernikahan mereka.
" Apa? Melahirkan? Bukannya masih satu minggu lagi? " ucap Angga mendadak bingung.
" Mas, sakit " ucap Arisa karena rasa sakitnya semakin menjadi.
Arisa memukul suaminya itu karena Angga hanya diam saja dan sepertinya orang yang bingung.
" Kak Angga, cepat bawa Arisa ke rumah sakit. Arisa sudah mau melahirkan, Kakak mau Arisa melahirkan di sini " ucap Rini menyadarkan Angga.
" Ah iya " jawab Angga tersadar.
" Cepat bawa Arisa keluar, biar Kakak minta tolong seseorang untuk menyiapkan mobil " ucap Teno pada Angga.
Teno segera pergi menghampiri salah satu anak buahnya untuk mengantarkan Angga dan Arisa ke rumah sakit. Ia tidak mungkin pergi mengantarkan mereka karena ini adalah hari pernikahannya.
Angga pun segera mengangkat tubuh Arisa dan membawanya keluar. Sedangkan Arisa meremas jas Angga untuk melampiaskan rasa sakitnya. Angga pergi diam-diam dan akan memberitahukan kedua orang tuanya nanti karena tidak ingin memberikan keributan di pernikahan Teno dan Rini.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " π
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π