Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
50. Sisi Lain Angga


Setelah selesai berdoa untuk mendiang Ayah dan Ibu Arisa, Angga dan Arisa pun segera pergi ke mobil Angga karena hari semakin siang dan matahari semakin terik.


" Ayo masuk " ucap Angga membukakan pintu mobil untuk Arisa.


Arisa tersenyum mendapatkan perhatian kecil itu dari Angga dan langsung masuk ke dalam mobil.


Setelah itu Angga pun memutari mobil dan masuk ke dalam mobil. Angga duduk di balik kemudi dan segera memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


" Mas Angga gak mau ajak aku ke makam kedua orang tua kamu? Aku juga mau bertemu kedua orang tua kamu, Mas " ucap Arisa pada Angga karena ingin tahu dimana makam kedua orang tua Angga dan ingin mengunjunginya.


" Tidak bisa " jawab Angga tanpa menoleh ke arah Arisa dan fokus menyetir.


" Kenapa, Mas? Aku juga kan mau dikenalin sama kedua orang tua kamu, Mas " tanya Arisa menatap Angga.


" Karena aku tidak tahu makam kedua orang tuaku karena jasad mereka tidak pernah ditemukan semenjak pembunuhan mereka. Atau mungkin jasad mereka dibuang oleh para pelaku " jawab Angga dengan wajah tanpa ekspresi tapi di matanya tersimpan kesedihan.


Arisa terdiam dan merasa bersalah, apalagi ia melihat kesedihan yang sangat dalam dari mata Angga.


" Maafin aku ya, Mas " ucap Arisa merasa sangat bersalah.


" Hmm " jawab Angga dingin.


Arisa mengira jika Angga berubah sikap karena dirinya, padahal Angga hanya merasa sedih dan gagal hingga sampai saat ini tidak berhasil menemukan dimana makam kedua orang tuanya, atau memang benar jasad kedua orang tuanya dibuang oleh para pelaku itu. Hatinya terasa sakit ketika mengingat kejadian yang membuatnya hanya sendiri di dunia ini dan kehilangan kedua orang tuanya.


Beberapa saat kemudian, Angga menepikan mobilnya karena ia merasa tidak bisa fokus lagi untuk menyetir karena bayangan kejadian pembunuhan kedua orang tuanya kembali muncul.


Arisa merasa bingung kenapa Angga tiba-tiba berhenti tetapi ia tidak berani bertanya dan takut Angga marah kepadanya, apalagi kemungkinan besar penyebabnya adalah dirinya yang membuka luka lama Angga. Arisa hanya diam dan memperhatikan Angga yang bersandar dan memejamkan matanya.


Hingga terdengar suara isak tangis dari Angga lalu susul dengan Angga yang berteriak memanggil kedua orang tuanya.


" Mama, Papa " teriak Angga langsung membuka matanya.


Napas Angga tersengal-sengal dan tidak beraturan, bahkan sekarang air mata sudah membasahi matanya. Arisa sangat terkejut dan ia khawatir melihat Angga seperti itu.


" Mas, kamu kenapa? " tanya Angga khawatir.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Arisa, Angga langsung menarik Arisa dan memeluknya dengan erat dan menangis. Sepertinya sekarang Angga membutuhkan tempat untuk meluapkan semua yang ia rasakan. Arisa hanya diam dan berusaha menenangkan Angga dengan mengusap lembut punggung kekar suaminya itu. Ia akan bertanya pada Angga setelah Angga merasa tenang nanti. Sekarang ia hanya akan menjadi tempat ternyaman bagi Angga untuk menumpahkan kesedihannya.


Arisa hanya belum menyangka jika orang yang terlihat kuat seperti Angga tetapi memiliki sisi yang lemah juga.


" Maaf " ucap Angga setelah tenang dan melepaskan pelukannya.


" Gak papa, Mas. Aku akan selalu ada buat Mas Angga kalau Mas Angga butuh sandaran. Mas Angga sekarang gak sendiri lagi, ada aku istri Mas Angga " jawab Arisa menggenggam tangan Angga.


Angga menganggukkan kepalanya lalu mengusap wajah Arisa. Ia merasa lebih baik setelah memeluk Arisa dan meluapkan semua perasaan yang ada di hatinya.


Angga tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. " Aku merasa sedih bukan karena kamu. Aku merasa sedih karena aku merasa gagal tidak bisa menemukan makam ataupun jasad kedua orang tuaku sampai sekarang. Hatiku rasanya tidak tenang sebelum melihat jasad ataupun makam mereka " jawab Angga sendu.


" Kamu jangan sedih lagi ya, Mas. Aku yakin kalau memang Allah masih ingin kamu mengetahui keberadaan kedua orang tua kamu, pasti Allah pasti memberi petunjuk keberadaan mereka " ucap Arisa menenangkan Angga dan ia tidak ingin melihat suaminya itu bersedih.


" Iya Sayang " jawab Angga tersenyum.


Angga benar-benar mendapatkan rumah dan tempat untuk ia berbagi semua perasaannya. Ia bisa menunjukkan sisi dirinya yang lain dan bisa bersikap apa adanya jika bersama Arisa. Arisa begitu dewasa walaupun umurnya masih sangat muda.


Sedangkan wajah Arisa sudah bersemu merah karena panggilan sayang dari Angga. Walaupun bukan yang pertama tapi itu berhasil membuatnya salah tingkah.


" Kenapa wajahmu memerah? " tanya Angga yang sebenarnya sudah tahu jika Arisa seperti itu karena ia memanggilnya sayang.


" Gak papa kok " jawab Arisa langsung mengalihkan wajahnya agar Angga tidak melihat dirinya yang sedang malu.


Angga tersenyum lalu menangkupkan kedua pipi Arisa agar menghadap wajahnya.


" Kamu tidak perlu malu lagi. Bukankah wajah jika suami memanggil istrinya dengan panggilan sayang " ucap Angga pada Arisa.


Arisa pun menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya ia tetap saja merasa malu.


Setelah itu Angga menjadi terfokus pada bibir istrinya itu. Ia ingin sekali mencium bibir yang menjadi candunya.


Cup.


Angga menempel bibir yang membuat kedua mata Arisa membola. Ia terkejut dan juga Angga menciumnya di dalam mobil di tepi jalan. Bisa aja nanti ada seseorang yang melihat mereka tapi bukankah mereka sekarang sudah suami istri, jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi.


Awalnya Arisa ingin menolak dan meminta Angga untuk melepaskan ciuman itu tetapi malah ia sekarang terlena dan membalas ciuman itu. Mendapatkan balasan dari Arisa, membuat Angga bersemangat. Apalagi Arisa membuka mulutnya sehingga membuat Angga semakin memperdalam ciuman mereka.


" Sebaiknya kita lanjutkan di rumah " ucap Angga setelah melepaskan ciuman itu dan mengusap bibir Arisa yang basah.


Angga tidak ingin kebablasan dan melakukan hal yang sangat diinginkannya di dalam mobil. Angga memutuskan untuk segera pulang dan melanjutkannya di atas tempat tidur yang nyaman. Sedangkan Arisa hanya menundukkan kepalanya karena ia juga terbuai dan melupakan dimana mereka sekarang.


Setelah itu Angga langsung menjalankan mobilnya kembali dan menuju rumah dengan kecepatan tinggi karena ia sudah tidak bisa menahan lagi, apalagi sesuatu di tubuhnya sudah memberontak.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘