Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
24. Berbagi Cerita


Arisa terbangunnya saat merasa tenggorokannya sangat kering dan ia membutuhkan air putih sekarang. Ia melihat ke sampingnya ternyata Angga belum tidur dan sedang membawa sebuah buku. Arisa melihat jam dinding di kamar itu yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


" Mas Angga kenapa belum tidur? " tanya Arisa dengan suara serak lalu mendudukkan tubuhnya.


Angga yang sedang fokus membawa buku di tangannya tidak menyadari jika Arisa terbangun.


" Aku ingin menjaga kamu. Aku tidak ingin kamu terbangun dan merasa takut kembali " jawab Angga menutup buku yang tadi ia baca dan meletakkannya di atas nakas.


Arisa merasa terharu mendengar itu, Angga benar-benar menjaga dirinya. Ia semakin yakin bahwa Angga laki-laki yang dikirim untuk menjadi tempat ia bersandar.


" Terima kasih Ya Allah, walaupun cara pertemuan kami tidak termasuk baik tapi Engkau mengirimkan seorang laki-laki yang sangat baik untuk menjadi suami hamba " ucap Arisa dalam hati.


" Kenapa kamu terbangun? apa kamu butuh sesuatu? " tanya Angga menyadarkan Arisa dari lamunannya.


" Eh itu, aku haus " jawab Arisa yang tersadar.


Mendengar itu, Angga pun langsung menuangkan air putih ke dalam gelas yang memang sudah ia siapkan di atas nakas jika mereka merasa haus di tengah malam.


" Terima kasih, Mas " ucap Arisa menerima segelas air putih itu dari Angga.


Arisa meminum air putih itu hingga habis karena tenggorokannya memang terasa sangat kering. Angga meminta gelas itu kembali dan meletakkannya di atas nakas setelah Arisa selesai.


Setelah itu mereka pun saling diam dan menyandarkan tubuh mereka di atas tempat tidur.


" Arisa " panggil Angga setelah lama terdiam.


" Iya Mas " jawab Arisa menoleh ke arah Angga.


" Apa aku boleh bertanya sesuatu? " ucap Angga pada Arisa.


" Boleh. Mas Angga boleh tanya apapun sama aku dan aku pasti jawab kalau aku bisa " jawab Arisa.


Angga menatap wajah Arisa. " Kamu selalu ketakutan jika ada hujan dan petir, apa kamu pernah mengalami hal yang buruk tentang hujan dan petir? " tanya Angga pada Arisa.


Arisa terdiam sebelum menjawab pertanyaan dari Angga. Ingatannya kembali ke saat kejadian empat belas tahun yang lalu. Walaupun tidak terlalu jelas tapi ia bisa mengingat jika saat itu turun hujan dan petir saat ia dan keluarganya baru pulang dari Surabaya untuk liburan dan saat itu nyawa kedua orang tuanya terenggut.


" Dulu saat umurku empat tahun, aku dan keluargaku mengalami sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku. Saat itu kami sedang berada di perjalanan pulang dari Surabaya. Di tengah perjalanan tiba-tiba turun hujan disertai petir dan angin kencang, karena penglihatan Ayah terhalang oleh air hujan akhirnya Ayah tidak bisa mengemudikan mobil dan akhirnya mobil yang kami tumpangi menabrak pembatas jalan. Ayah dan Ibu yang posisinya saat itu berada di depan langsung meninggal di tempat. Sedangkan aku dan Bang Reno terluka cukup parah saat itu. Mulai saat itu aku sangat takut dengan hujan dan petir, hingga saat Bang Reno mulai bekerja, Bang Reno bawa aku ke psikiater buat hilangkan trauma ini. Walaupun tidak separah dulu tapi tetap saja ketakutan itu tetap ada sampai sekarang " jawab Arisa menceritakan apa yang membuatnya sangat takut dengan hujan dan petir.


Angga diam mendengarkan cerita Arisa tapi tangannya tiba-tiba tergerak untuk menghapus air mata Arisa di pipinya. Sungguh Angga merasa tidak rela air mata itu jatuh dari mata Arisa, entah apa artinya itu tapi ia tidak menyukainya.


Sedangkan Arisa terpaku dengan perlakuan Angga itu. Angga menghapus air matanya dengan sangat lembut.


" Iya gak papa, Mas " jawab Arisa menundukkan kepalanya.


Angga merutuki tangannya yang tergerak begitu saja untuk menghapus air mata Arisa.


" Mulai sekarang kamu tidak perlu takut lagi, aku akan bantu kamu agar tidak takut lagi pada hujan dan petir. Aku tidak ingin kamu terus ketakutan dan trauma seperti itu, karena aku tidak bisa berada di dekatmu setiap saat dan aku punya tanggung jawab yang lain. Tapi kamu juga harus berusaha untuk melawan rasa takut dan trauma itu " ucap Angga pada Arisa.


" Iya Mas, aku juga akan berusaha. Aku juga gak mau seperti ini terus " jawab Arisa.


Arisa sudah lelah harus terus merasa ketakutan dan trauma saat ada hujan dan petir. Ia ingin bisa mengatasi traumanya itu agar ia tidak menyusahkan banyak orang lagi untuk menenangkannya.


" Oh iya Mas, aku sudah jawab pertanyaan kamu. Sekarang aku yang mau tanya sama Mas Angga " ucap Arisa pada Angga.


" Silahkan, tanya saja " jawab Angga.


" Apa Mas Angga tidak mempunyai keluarga? Dari almarhum orang tua Mas Angga gitu? " tanya Arisa penasaran.


Di hari pernikahan mereka hanya keluarga Wicaksono dan kakak angkat Angga yang datang mendampinginya. Ia memang sudah mengetahui jika orang tua Angga sudah meninggal dari Reno saat Reno menceritakan apa yang ia ketahui tentang Angga.


" Aku tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini selain keluarga Wicaksono dan Kak Teno. Sama seperti kamu, orang tuaku juga sudah meninggal karena dibunuh seorang perampok yang merampok rumah kami. Sejak saat itu aku sendirian dan tinggal di jalanan karena rumah orang tuaku direbut oleh teman ayahku, hingga aku bertemu Kak Teno dan kami diangkat anak oleh Tuan Gunawan dan Nyonya Dewi " jawab Angga.


Arisa merasa sedih mendengar itu, ternyata ia lebih beruntung daripada Angga. Ia masih mempunyai Reno yang selalu menyayangi dan melindunginya sedangkan Angga seorang diri.


Arisa membawa tangan Angga ke pangkuannya dan menggenggamnya. " Mulai sekarang Mas Angga gak sendirian lagi. Aku istri Mas Angga sekarang dan aku akan selalu ada di sisi Mas Angga. Kalau Mas Angga ada apa-apa, Mas Angga bisa berbagi cerita sama aku " ucap Arisa menatap mata Angga.


Angga tersenyum tipis karena ia merasa menemukan seseorang yang menjadi tempatnya untuk pulang dan berkeluh-kesah. Lagi-lagi ia tidak menyangka mendapatkan seorang istri seperti Arisa.


Angga menganggukkan kepalanya. " Kamu pun harus begitu. Jika ada apa-apa bicaralah padaku " ucap Angga.


" Iya Mas " jawab Arisa tersenyum.


Setelah itu mereka pun memutuskan untuk segera beristirahat karena hari sudah semakin malam dan besok mereka harus beraktivitas kembali. Mereka tidur di tempat tidur yang sama lagi tapi ada sebuah guling sebagai pembatas mereka di tengah. Angga merasa canggung jika memeluk Arisa lagi karena menganggapnya sebuah guling.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘