
Keesokkan paginya, seperti biasa Arisa sedang menyiapkan sarapan dan juga bekal untuk dirinya dan Angga di dapur. Arisa memasak sup bola-bola daging seperti yang ia katakan kemarin.
" Sudah siap. Sekarang tinggal panggil Mas Angga aja " ucap Arisa setelah selesai menata makanan di atas meja makan.
Arisa pun beranjak pergi ke kamar untuk memanggil sang suami yang tadi masih mandi dan kemungkinan sekarang sudah selesai.
Sedangkan Angga, baru keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk di pinggangnya. Angga menghampiri tempat tidur dimana pakaian ganti yang disiapkan oleh Arisa ada di atasnya.
" Sepertinya Arisa masih di dapur " ucap Angga karena kamar itu terlihat sepi.
Merasa apa dan tidak ada siapapun di kamar itu, Angga pun melepaskan handuk di pinggangnya hingga ia tidak mengenakan apapun sekarang. Angga mengambil pakaian dalam miliknya dan memakainya. Tetapi saat ia hendak memasukkan salah satu kakinya, terdengar suara teriakan yang begitu keras dari arah pintu kamar.
" Aaaaaaa " teriak seseorang yang Angga tahu siapa itu.
Angga menoleh ke arah pintu dan di sana ada Arisa yang berdiri sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Angga pun segera mengambil handuk yang sudah jatuh ke lantai dan segera memakainya. " Argh, sial " umpat Angga pelan karena merasa sangat malu karena Arisa pasti melihat dirinya yang bertelanjang bulat dan tentu saja juniornya.
Setelah mengambil pakaian gantinya, Angga segera masuk ke kamar mandi dan memakai pakaiannya di dalam sana.
Arisa yang mendengar suara pintu kamar mandi tertutup perlahan membuka wajahnya dengan tangan yang bergetar. Ia sangat terkejut sekaligus malu tanpa sengaja melihat Angga yang sedang bertelanjang bulat dan ia juga sempat melihat sesuatu yang menggantung di sana.
Arisa merutuki dirinya sendiri yang langsung masuk ke kamar saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sehingga ia harus melihat itu semua. Walaupun Angga adalah suaminya tapi mereka belum pernah saling melihat seluruh tubuh masing-masing. Ia juga sebelumnya tidak pernah melihat milik orang dewasa dan tentu saja ia sangat malu meski itu milik suaminya sendiri.
" Astaghfirullahalazim Arisa. Kamu itu bodoh banget sih, seharusnya kamu ketuk pintunya dulu sebelum masuk ke dalam kamar " rutuk Arisa pada dirinya sendiri dengan wajah yang sangat merah, apalagi bayangan milik Angga yang menggantung tadi terus muncul di dalam pikirannya.
Setelah itu Arisa memilih untuk mengambil tas miliknya dan keluar dari kamar sebelum Angga juga keluar dari kamar mandi. Ia akan sangat malu jika harus bertemu Angga sekarang, apalagi setelah kejadian tadi.
" Aku harus gimana coba kalau harus berhadapan sama Mas Angga. Ya Allah, malu banget " ucap Arisa setelah mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.
Sebenarnya Arisa ingin berangkat lebih dulu ke kampus agar tidak bertemu Angga dulu setelah kejadian memalukan itu, tapi ia tidak ingin mengabaikan tugasnya sebagai istri dan memastikan Angga sarapan dan membawa bekalnya.
Beberapa saat kemudian, Angga menyusul Arisa ke meja makan. Angga sudah terlihat rapi dengan pakaian kerja seperti biasanya. Melihat kedatangan Angga, Arisa hanya bisa menundukkan kepalanya karena ia sangat malu dan wajahnya kembali memerah.
Begitu juga dengan Angga, tentu saja ia akan sangat malu karena belum pernah ada seorang wanita yang melihat dirinya bertelanjang bulat ketika ia sudah beranjak dewasa. Angga menutupi rasa malunya dengan memasang wajah yang datar.
" Ehem " dehem Angga setelah ia duduk di samping Arisa dan Arisa terus terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Arisa pun langsung tersadar. " Biar aku ambilkan makanan buat Mas Angga " ucap Arisa pelan tanpa mengangkat kepalanya.
Arisa pun segera mengambilkan makanan untuk Angga dan juga untuk dirinya sendiri. Mereka berdua makan dengan diam dan suasana yang terasa sangat canggung.
" Apa dia melihat juniorku tadi? " batin Angga melirik Arisa yang masih menundukkan kepalanya.
" Ya Allah, kenapa bayangan itunya muncul terus sih " ucap Arisa dalam hati karena bayangan milik Angga masih teringat jelas.
Setelah mereka menghabiskan sarapan itu, Arisa langsung merapikan semua bekas makan mereka. Ia benar-benar menghindari Angga dan berusaha untuk tidak dekat-dekat dengan Angga, tentu saja alasan karena ia sangat malu. Apalagi Angga masih berada di sana dan sepertinya menunggu Arisa menyelesaikan pekerjaannya.
" Aku berangkat dulu, Mas " pamit Arisa setelah meletakkan kotak bekal di hadapan Angga.
" Tunggu sebentar " cegah Angga.
" Aduh, Mas Angga gak tau apa kalau aku malu banget sekarang " batin Arisa saat Angga mencegahnya untuk pergi.
" Kenapa Mas? Mas Angga butuh sesuatu? " tanya Arisa berusaha setenang mungkin.
" Tidak " jawab Angga.
Angga terdiam sebentar sebelum ia berbicara kembali.
" Maaf untuk yang tadi. Aku mengira jika kamu masih berada di dapur " ucap Angga pada Arisa.
" Iya Mas. Seharusnya aku yang minta maaf karena langsung masuk aja ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu " jawab Arisa dengan wajah semakin merah.
Angga pun menganggukan kepalanya.
" Em, apa tadi kamu melihatnya? " tanya Angga menahan rasa malunya.
Baru saja ingin melupakan itu, Angga sudah bertanya membuat Arisa mengingat kembali bentuk dari milik suaminya itu.
Arisa menjawab dengan anggukan kepala karena rasa malunya bertambah besar sekarang karena membicarakan itu dengan Angga. Sedangkan Angga mengusap wajahnya kasar karena dugaannya benar jika Arisa melihatnya.
" Tidak ada salahnya kan jika Arisa melihatnya. Dia itu istriku dan aku suaminya, cepat atau lambat mungkin dia akan melihatnya juga " ucap Angga dalam hati agar menganggap itu adalah hal yang wajar.
Ya, Angga sudah mulai memikirkan untuk mulai menyentuh Arisa karena ia sempat berbicara pada Ardi sebagai seorang teman dan Ardi mengatakan jika seorang wanita juga butuh sebuah sentuhan terlebih lagi itu adalah nafkah batin untuk seorang istri. Lagipula ia mungkin saja sudah mencintai Arisa, terlebih lagi ia tidak suka jika Arisa dekat dengan pria lain walaupun itu hanya sebatas teman. Ia juga ingin selalu membuat Arisa merasa nyaman dan aman, kebahagiaan Arisa adalah hal yang terpenting untuk dirinya sekarang. Bukankah itu artinya ia sudah mencintai Arisa.
" Kalau gitu aku berangkat dulu, Mas. Aku takut terlambat " ucap Arisa ingin terbebas sebentar dari rasa malu pada Angga.
" Baiklah " jawab Angga.
Arisa meraih tangan Angga dan mencium. Begitu juga dengan Angga memberikan sebuah kecupan singkat di kening Arisa.
" Assalamualaikum " ucap Arisa.
" Walaikumsalam " jawab Angga.
Setelah itu Arisa langsung keluar dari rumah lebih dulu dan langsung pergi ke kampusnya. Angga juga segera bersiap-siap karena ia juga harus menjemput Ardi dan Tya.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " π
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π