Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
52. Menyerang Kantor


Pada malam harinya, Arisa sedang menyiapkan makan malam di meja makan yang baru saja diantara oleh ojek online. Angga sengaja memesan makanan karena ia tidak ingin Arisa memasak apalagi terlihat jika Arisa masih cukup kesulitan untuk bergerak.


" Mas Angga, makan malamnya sudah siap " ucap Arisa memberitahu Angga yang sedang berada di ruang keluarga.


Angga pun langsung berdiri dari duduknya dan mengikuti Arisa menuju meja makan untuk makan malam bersama.


Seperti biasa, Arisa selalu mengambilkan makanan untuk Angga terlebih dahulu baru untuk dirinya sendiri. Hanya sekarang Angga mengucapkan terima kasih disertai dengan sebuah senyuman yang sangat manis di mata Arisa karena biasanya Angga selalu memasang wajah datar.


" Terima kasih " ucap Angga tersenyum dan menerima piring yang sudah berisi makanan.


" Iya Mas " jawab Arisa tidak lupa membalas senyuman Angga.


Setelah berdoa, mereka pun makan malam bersama dengan tenang. Hanya terdengar suara garpu dan sendok beradu di atas piring.


" Biar aku bantu " ucap Angga saat Arisa akan membereskan meja makan.


" Gak usah Mas, aku bisa kok sendiri " tolak Arisa karena biasanya juga ia melakukannya sendiri.


Tetapi Angga tidak menghiraukan penolakan Arisa. Angga tetap membereskan meja makan dan membawa piring-piring kotor ke tempat cuci piring.


" Kamu bisa mengelap meja saja. Biar aku yang mencuci piring " ucap Angga pada Arisa.


Arisa hanya menurut karena Angga pasti tidak akan mendengarkannya juga seperti sebelumnya.


Setelah semuanya selesai, Angga mengajak Arisa untuk segera pergi ke kamar mereka untuk beristirahat.


" Kemarilah " ucap Angga agar Arisa masuk ke dalam pelukannya saat mereka sudah berada di atas tempat tidur.


" Tapi kita gak bakal ngapa-ngapain kan. Aku masih capek banget, Mas " ucap Arisa takut jika Angga akan mengajaknya bertempur di atas tempat tidur sedangkan tubuhnya masih merasa lelah.


Angga tertawa kecil mendengar itu, ia bahkan tidak berpikir untuk menyentuh istrinya lagi karena tidak ingin Arisa sakit karena kelelahan. Tetapi tawa itu membuat Arisa terpesona karena ini pertama kalinya Angga tertawa selama Angga menjadi suaminya bahkan selama ia mengenalnya.


" Hey, kemarilah. Aku hanya ingin memelukmu " ucap Angga lagi karena Arisa hanya terdiam dan memandangi wajahnya.


" Eh i-iya " jawab Arisa yang baru tersadar.


Arisa pun mendekat dan masuk ke dalam pelukan Angga. Bahkan Arisa menjadikan tangan kekar Angga sebagai bantalan. Ia sangat nyaman tidur dengan posisi seperti itu, apalagi ketika ia menyusupkan wajahnya di dada bidang Angga.


Saat Angga dan Arisa sudah memejamkan mata mereka dan bersiap pergi ke alam mimpi, tiba-tiba terdengar suara ponsel Angga berbunyi yang menandakan ada sebuah panggilan. Angga dan Arisa pun membuka mata mereka kembali.


" Sebentar " ucap Angga melepaskan pelukan dan merubah posisinya menjadi duduk diikuti oleh Arisa.


Angga segera menjawab panggilan telepon itu yang ternyata dari Ardi. Firasat Angga menjadi buruk karena Ardi tiba-tiba mengubunginya saat malam seperti ini.


" Halo Tuan Muda " ucap Angga saat menjawab panggilan telepon itu.


" Kak Angga, cepatlah datang ke rumah utama. Kita harus segera pergi ke kantor karena orang-orang yang menyerang kita waktu itu sekarang menyerang kantor " ucap Ardi dari ujung sana yang membuat Angga sangat terkejut.


Ini adalah saat yang Angga tunggu sebenarnya walaupun ia merasa khawatir dan was-was tapi kali ini ia harus bisa membereskan orang-orang itu agar kehidupannya lebih tenang kedepannya.


" Bawa Arisa juga karena dia akan lebih aman jika berada di rumah utama bersama dengan Tya dan Ibu " ucap Ardi pada Angga.


" Baik, Tuan Muda " jawab Angga yang juga tidak mungkin meninggalkan Arisa di rumah sendiri.


Angga takut jika musuh-musuhnya mengetahui keberadaan rumahnya dan mencelakai Arisa. Untuk sekarang rumah utama adalah tempat yang paling aman untuk meninggalkan Arisa karena di sana banyak penjagaan.


Arisa yang berada di samping Angga sangat bingung melihat wajah tegang Angga setelah mendapatkan panggilan telepon dari Ardi.


" Ada apa, Mas? " tanya Arisa setelah Angga mengakhiri panggilan telepon itu.


" Ada sedikit masalah di kantor dan sekarang aku harus pergi " jawab Angga yang tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya.


" Kami juga segera bersiap-siap karena aku akan mengantar kamu ke rumah utama. Aku tidak tenang meninggalkan kamu sendiri di rumah karena aku tidak tahu kapan aku kembali " ucap Angga pada Arisa.


Mendengar ucapan Angga yang tidak tahu kapan akan kembali membuat perasaan Arisa menjadi tidak tenang. Ia merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi tetapi Angga mencoba menutupinya.


" Aku yakin masalah di kantor Ayah Gunawan pasti akan cepat selesai, jadi Mas Angga pasti akan cepat kembali " ucap Arisa berusaha untuk yakin tidak akan terjadi apa-apa.


" Semoga saja " jawab Angga tersenyum.


Setelah itu mereka berdua pun segera bersiap-siap. Angga meminta Arisa membawa barang-barang penting miliknya, karena ia yakin tidak mudah menghadapi musuh-musuhnya sehingga kemungkinan cukup waktu untuk menyelesaikan masalah ini.


Angga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga dengan waktu lima menit saja mereka sudah sampai di rumah utama.


" Masuklah " ucap Angga pada Arisa.


Arisa menurut dan langsung masuk ke rumah utama, sedangkan Angga ingin berbicara pada Teno yang ada di sana.


" Bagaimana keadaan di sana sekarang, Kak? " tanya Angga pada Teno.


" Mereka terus berusaha menghancurkan gedung perusahaan Wicaksono Group dan anak buah kita sedang mencoba menghalangi mereka. Kita harus ke sana untuk menghentikan itu semua sebelum anak buah kita banyak yang menjadi korban " jawab Teno menjelaskan keadaan di sana.


Orang-orang yang sama kembali menyerang mereka dengan alasan yang sama, yaitu menghancurkan Keluarga Wicaksono. Orang-orang itu menyerang dan berusaha menghancurkan gedung perusahaan Wicaksono Group, beruntung hari sudah malam sehingga perusahaan sudah sepi walaupun masih ada beberapa karyawan yang sedang lembur dan mereka menjadi korban. Salah satu satpam kantor perusahaan Wicaksono Group berhasil melarikan diri dan melaporkan kejadian itu kepada Tuan Gunawan.


Angga mengepalkan kedua tangannya, ia bertekad ingin membereskan semua ini dan memasukkan mereka ke dalam penjara kali ini apapun resikonya. Jika terus seperti ini bukan hanya anggota keluarga Wicaksono saja yang akan celaka tetapi orang lain, terbukti dengan para karyawan dan satpam yang bekerja di bawah naungan Wicaksono Group.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘