
Angga kembali ke gedung perusahaan dan di sana sudah cukup banyak polisi. Anggota kelompok mafia Arden juga sudah tertangkap di bantu oleh Teno dan Ardi. Tuan Mike juga sudah amankan oleh pihak berwajib.
" Anda harus kami tangkap karena Anda ketua dari kelompok mafia ini " ucap salah seorang polisi mengarahkan senjata api ke arah Arden.
" Anda bisa menangkap saya nanti dan saya tidak akan melawan karena saya sendiri akan menyerahkan diri. Tapi sekarang ada hal yang lebih penting yang harus saya selesaikan " ucap Arden karena ia harus segera membawa pergi bom itu ke tempat yang jauh.
Sedangkan Angga harus memberitahukan tentang bom itu ke Tuan Gunawan dan Ardi.
" Tuan, ada sebuah bom yang terpasang di ruang direktur. Kita harus segera membawanya pergi karena bom ini tidak bisa dijinakkan dan sangat berbahaya. Jika bom itu meledak bukan hanya gedung kantor ini yang hancur tetapi gedung di sekitarnya pun akan hancur. Kita harus membawanya pergi ke tempat yang tidak ada orang " ucap Angga memberitahu Tuan Gunawan dan Ardi.
Tuan Gunawan dan Ardi serta Teno dan anak buah mereka terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh Angga.
" Kalian tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sebentar lagi bom itu akan meledak. Walaupun harus mendekam di penjara, saya merasa puas karena sudah menghancurkan perusahaan kalian " ucap Tuan Mike dengan tangan yang sudah terborgol.
Mereka tidak memperdulikan Tuan Mike karena yang terpenting bom itu segera dibawa pergi agar tidak ada korban jiwa nantinya. Tuan Gunawan segera memerintahkan mereka untuk mengambil bom itu di ruangan direktur yang merupakan ruangan kerjanya.
" Biar saya dan orang yang memasangnya yang akan masuk ke dalam. Ini sangat berbahaya jadi Tuan dan Tuan Muda tunggu di luar saja " ucap Angga pada Tuan Gunawan karena ia tidak ingin mereka juga celaka.
" Tapi Kak... " belum selesai Ardi berbicara, Angga sudah memotongnya.
" Tidak, Tuan Muda. Saya akan segera kembali " potong Angga.
Angga bersama dengan Arden langsung masuk gedung perusahaan Wicaksono Group dan menuju ruang direktur karena mereka tidak ingin membuang banyak waktu lagi.
" Dimana bom itu? " tanya Angga setelah mereka masuk ke ruang direktur.
Tanpa menjawab pertanyaan Angga, Arden langsung pergi ke sudut ruangan dan menggeser sebuah meja yang ada di sana. Arden memasang bom itu pada sebuah meja dan ia berusaha untuk melepasnya. Arden berusaha sekeras mungkin agar bom itu segera terlepas dan ia bisa bawa pergi. Angga diam dan memperhatikan Arden karena ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Arden.
" Terlepas " ucap Arden memegang bom itu.
" Kita tidak memiliki banyak waktu lagi dan sekarang hanya tinggal dua puluh menit lagi " lanjut Arden.
" Apa benar-benar tidak bisa dijinakkan? " tanya Angga pada Arden.
" Tidak bisa, karena aku sudah mengaturnya agar tidak bisa dijinakkan " jawab Arden.
Angga mengusap wajahnya kasar. Harus ada yang membawa bom itu pergi jauh dan ia yang harus melakukan itu.
" Aku akan membawanya sejauh mungkin " ucap Angga mengambil alih bom itu dari tangan Arden.
" Jangan, kamu bisa mati jika waktunya habis dan bom itu meledak. Biar aku saja " cegah Arden karena ia tidak ingin Angga celaka.
" Kamu masih harus menebus dosamu dipenjara jadi tebus itu semua " ucap Angga tidak membiarkan orang yang membunuh kedua orang tuanya mati dengan mudah.
Walaupun sangat berat tetapi Angga harus melakukannya meski nyawa yang mungkin akan jadi taruhannya. Ini adalah balas budinya kepada keluarga Wicaksono karena telah merawat dan menjaganya selama ini.
" Jika terjadi apa-apa padaku, tolong pertemukan kedua orang tuaku dengan istriku. Aku ingin mereka tetap berada dibawah perlindungan keluarga Wicaksono karena kamu tidak akan bisa melindungi mereka lagi " ucap Angga pada Arden.
" Tapi kamu tidak perlu melakukan ini. Biar aku yang melakukannya " ucap Arden masih tidak bisa membiarkan Angga mengorbankan dirinya.
" Kita tidak memiliki banyak waktu jadi harus kita bergerak cepat " ucap Angga lalu pergi keluar gedung dengan membawa bom itu.
Arden segera menyusul Angga keluar dan sebisa mungkin ia harus bisa mencegah Angga melakukan itu.
" Bagaimana, Angga? " tanya Tuan Gunawan saat Angga keluar dari dalam gedung.
" Kami berhasil melepaskan bom ini dan saya harus membawanya pergi sekarang " jawab Angga menunjukkan bom di tangannya.
Angga harus segera pergi dan ia meminta Tuan Gunawan untuk menjaga Arisa jika terjadi suatu hal buruk kepadanya.
" Saya tidak memiliki banyak waktu lagi. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Anda sudah merawat dan menjaga saya. Tolong jaga Arisa untuk saya jika nanti saya tidak kembali. Saya pergi, Tuan " ucap Angga lalu pergi meninggalkan mereka semua tanpa penjelasan tentang apa yang akan dilakukannya.
" Angga, tunggu " teriak Tuan Gunawan dan mencoba mengejar Angga.
Tetapi Angga tidak memperdulikan apapun lagi karena ia harus membawa bom itu pergi secepatnya. Angga masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi dan ia akan menuju ke sebuah hutan yang cukup jauh dari kota dan pemukiman agar tidak ada yang akan terluka.
Sedangkan Arden memejamkan matanya dan merasa gagal karena tidak bisa mencegah Angga. Untuk mengejar Angga pun cukup sulit karena Angga mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang.
" Apa yang sebenarnya terjadi? Angga akan pergi kemana? " tanya Teno yang ingin mengejar Angga tetapi melihat Arden keluar.
" Dia ingin mengorbankan dirinya untuk melindungi perusahaan ini dan kita semua. Ia membawa bom itu pergi sebelum meledak dan kemungkinan besar ia tidak akan selamat karena ledakan bom itu cukup jauh sehingga Angga sangat sulit itu menyelematkan dirinya. Kawasan ini juga cukup jauh dari hutan tidak ada banyak waktu Angga pergi setelah meletakkan bom itu " jawab Arden penuh penyesalan.
Betapa terkejutnya mereka semua mendengar itu, terutama Tuan Gunawan dan Ardi. Angga rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi mereka.
" Ayah, kita harus segera menyusul Kak Angga " ucap Ardi tidak ingin Angga sampai kehilangan nyawanya.
" Jangan. Kita bisa menyusulnya lima belas menit lagi setelah bom itu meledak. Jika kalian menyusul sekarang maka kalian juga akan celaka karena terkena dampak dari ledakan bom itu. Jangan buat pengorbanan Angga sia-sia karena membahayakan nyawa kalian juga " larang Arden karena ia tahu apa yang akan terjadi jika mereka menyusul Angga sekarang.
" Apa yang katakan orang ini benar. Kita tunggu saja seperti yang orang ini katakan " ucap Tuan Gunawan yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Sebenarnya ia sangat menyayangkan keputusan Angga yang mengorbankan dirinya tetapi ia sangat menghormati keputusan Angga itu. Ardi dan Teno pun terduduk lemas karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Angga yang mengorbankan dirinya.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " π
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π